SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
SEBAR KEBAHAGIAAN


__ADS_3

“Loh, kok dipilih sih!” Seru April yang terlihat tidak senang.



“Iy dipilih lah sayang, aku pilih mana yang aku masih suka, jadi nanti kalau kamu marah atau kita bertengkar aku tinggal kontak aja deh,” gurau Chiko yang membuat April berteriak dan Santi tertawa melihat kelakuan mereka.



Malam itu Chiko sudah membuat April badmood, pulang dari rumah Santi dia pasang mode diam sampai datang ke rumah. Semalaman suntuk Chiko tidak disentuh April bahkan wanita itu enggan disentuh oleh Chiko, sampai pagi April tetap tidak mau melihat wajah pria itu. Sampai di kantor, sampai kembali lagi ke rumah dan itu sudah membuat Chiko sangat kesal.



Malam itu Chiko tidak mau di diamkan, dia membuat rencana yang akan membuat april tidak bisa berkutik. Selesai makan Chiko pergi tanpa memberitahu April, wanita itu baru sadar setelah beberapa menit dia berada di kamar sendiri. April merasa ruangan sepi, dia mencari keberadaan Chiko di kamar namun tidak menemukannya.



April turun untuk mencari ke ruangan lain, semua ruangan sampai ke teras depan juga belakang disambangi namun tetap dia tidak menemukan Chiko dimanapun dan itu membuat dirinya kesal.



“Dimana sih, dia pergi kemana, kenapa tidak pamit kalau mau pergi sama aku, dasar!” cerocos April dengan wajah yang terlihat emosi, “apa dia kesal dengan sikap aku ya, tapi kan itu semua karena dia. Seenaknya aja mau simpan nomor wanita sebagai cadangan, dia pikir pernikahan itu apa coba,” timpal kesalnya.



Dengan langkah di hentakkan dia memilih kembali ke kamar dan membiarkan Chiko melakukan apa yang dia mau malam ini, “Awas saja kalau sampai dia melampiaskan kekesalannya sama wanita jalanan yang gak jelas, aku akan langsung gagalkan pernikahan ini,” runtuk April.



Matanya terus melirik ke arah jam, perasaannya tidak karuan, pikirannya kalut dan bercabang. Dia memikirkan hal yang buruk, memikirkan apa yang sedang dilakukan Chiko saat ini dan semua pikiran yang ada di kepalanya membuat dadanya terasa sesak.



Perasaan itu sungguh membuat April merasa tidak karuan dan membuat matanya tidak bisa di pejamkan. Matanya sudah sangat merah dan lama kelamaan April merasa seluruh tubuhnya sangat lelah sampai akhirnya malam itu dia ketiduran pada akhirnya. Diluar sana Chiko tersenyum saat melihat pada akhirnya, “Kasihan kamu sayang, maaf yah aku sudah buat kamu jadi seperti ini sayang.”



Chiko tidak kuasa melihat April seperti itu, dia mengakhiri melihat April dari jauh untuk memberikannya pelajaran juga akan memberikannya kejutan. Chiko kembali ke kamar, perlahan dia masuk agar tidak mengganggu tidurnya April sebab baru saja dia tertidur.

__ADS_1



Kursi panjang di sebelah tempat tidur di pilih Chiko untuk sementara dia beristirahat agar dia tidak mengganggu tidurnya April sementara. Sesekali Chiko terbangun dan melihat April masih terlelap, "Bagus deh dia nyenyak."



Malam disebuah apartemen terlihat berbeda, Raya terlihat gusar malam ini karena masih belum menemukan Intan. Raya juga masih belum menemukan usaha untuk memutar uangnya sementara itu sidang perceraiannya sudah dalam tahap putusan.



Raya berencana besok dia harus pergi untuk menemui beberapa kliennya, mungkin juga dia akan pergi ke perusahaan milik keluarga Santi. Dia tidak tau apa dia masih diterima disana dengan baik atau malah akan di usir namun tidak ada salahnya dia mencoba.



Dia kesana karena ada yang ingin ditanyakan juga oleh Raya pada Santi dan Papanya. Santi sama dengan yang yang lain dimana kurang bisa tidur sore malam ini sebab banyak sekali isi kepalanya yang tidak bisa dikeluarkan hari ini.



Pagi hari Raya sudah bersiap dengan kursi rodanya, Santi mempekerjakan satu orang untuk membantu semua kebutuhan Raya, seorang supir yang juga siap kala Raya membutuhkan dia dimanapun.




Dari sana Raya langsung pergi ke perusahaan milik Santi dan berharap jika apa yang menjadi ekspektasi nya bisa terwujud. Raya mengajukan beberapa keinginan dalam pembagian harta gono gini, walau dia datang tidak membawa apapun namun dia merasa berjasa sudah membuat perusahaan itu bertahan cukup lama.



Dua mingguan ini sudah menjadi minggu yang sangat melelahkan untuk April juga Chiko, bukan hanya tenaga yang terkuras namun pikiran juga perasaan mereka. Cinta mereka diuji menjelang hari pernikahan namun sahabat mereka saat ini Santi terus menguatkan dan banyak memberikan semangat untuk pasangan itu hingga mereka bisa meredam semua bara yang ada di kepala.



“Hari ini kita mau kemana?”



“Kita akan ada jadwal meeting setelah jam makan siang, jam tiga sih sama Pak Kana paginya kita hanya ada tugas seperti biasa yang bisa kita lakukan dari rumah atau di jalan, jadi aku mau kita mengunjungi Santi lebih dahulu, ok!”

__ADS_1



“Untuk apa kesana, bukannya sudah ketemu sama dia kemarin, kamu saja yah aku di kantor,” jawab Chiko sambil merapikan pakaiannya.



“Emm gitu, okelah tapi kamu antar aku yah kesana,” jawab April yang sedang memberikan sentuhan terakhir pada make upnya.



“Siap Bos cantikku.”



Selesai mereka merapikan diri Chiko langsung meluncur cepat membawa calon nyonya Chiko ke tempat yang dituju, Chiko hanya mengantar sampai lobby karena di jalan dia mendapat telepon dari kantor bahwa ada yang datang ingin menemui dirinya dan penting.



April datang tanpa memberitahu lebih dulu pada Sinta, jadi saat Santi menerima kabar bahwa ada April di luar dia sangat terkejut namun senang. April datang kesana karena ingin minta bantuan Santi, dia minta agar Santi mengabari beberapa teman juga klien yang mereka kenal untuk datang ke pestanya nanti juga minta waktu sahabatnya itu untuk menemani dirinya esok fitting pakaian pengantin.



Ada beberapa kartu undangan yang akan di diberikannya pada beberapa orang yang ada di perusahaan itu dan di letakkan di atas meja sementara untuk semua yang mereka mungkin akan melalui undangan online yang akan dibuat Santi. April menjadikan Santi sebagai teman diskusinya untuk hari penting dia dan Chiko karena April merasa sudah menganggap Santi seperti kakaknya sendiri.



“Yah sudah aku pamit dan jangan lupa besok yah,” pamit April sambil mengingatkan Santi.



“Iya, aku gak akan lupa besok, tenang aja.”



Mereka saling berpelukan dan cipika cipiki berbarengan ada yang mengetuk pintu dan Santi langsung mempersilahkannya masuk, wajah mereka sama-sama terkejut saat melihat siapa yang datang mengunjungi Santi di ruangannya.


__ADS_1


“Wah, sedang pada kumpul yah,” ucap sosok yang baru saja masuk dengan menggunakan kursi rodanya.


__ADS_2