
“Aku tidak terima ini Tuhan,” ucap Raya pelan sebelum matanya tertutup karena obat penenang.
Raya masih belum bisa terima keadaannya saat ini, dia tidak mau menjadi orang lumpuh dan tidak bisa apa-apa. Saat ini perusahaan yang di pegangnya sudah sedikit membaik dan dia tidak mau dapat ejekan karena kelumpuhannya itu sebab dia tahu jika dia tidak akan sanggup menghadapi semua itu.
Raya tidak ingin kembali dalam masa lalunya dimana dulu dia bukanlah apa-apa. Sampai saat ini masih jelas di ingatannya bagaimana orang memandang rendah dirinya yang miskin, bahkan untuk makan saja dia sangat kesulitan.
Ketika tau jika kakinya tidak dapat bergerak, beberapa saat setelah itu bayangan masa lalu yang buruk muncul di kepalanya. Dengan susah payah dia mencapai sampai titik sukses karena otak liciknya mempersunting Sinta sampai mati Raya berkata tidak akan rela jika harus kembali menjadi sampah.
April dan Santi memilih pulang hari itu, semua karena saran dari dokter yang mengatakan jika sebaiknya Raya sendiri sampai dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Sampai nanti Raya bisa menerima keadaannya saat ini, di kamar lain seorang wanita cantik menghela nafas lega. Setelah hampir satu hari dia dibuat pusing dengan pihak kepolisian yang bolak balik mengajukan banyak pertanyaan.
'Bagaimana keadaan Raya saat ini, apa dia luka parah atau …," Intan tidak melanjutkan ucapan buruknya, ada sedikit rasa takut jika apa yang diucapkannya itu adalah kenyataan.
"Permisi Nyonya," tutur perawat yang baru saja datang dan membuyarkan lamunan Intan.
Intan hanya tersenyum tipis dan mengangguk karena dia tau apa yang akan dilakukannya jadi intan mempersilahkan perawat itu untuk melakukan tugasnya. Selintas dia teringat dengan Raya lalu dia berpikir tidak mungkin perawat ini tidak mengetahui tentang Raya.
"Emm Sus, apa saya boleh tanya sesuatu?" tanya Intan.
"Iya Nyonya ada apa?"
__ADS_1
"Apa Suster tau kabar seseorang yang juga mengalami kecelakaan dengan saya, namanya Raya.”
“Oh Tuan Raya, iya Nyonya saya tahu karena saya juga suka bergantian mencatat data beliau,” jawab perawat itu dengan sangat ramah, “kondisi beliau saat ini tidak seberuntung anda Nyonya,” timpalnya.
Intan sedikit terkejut juga heran dengan ucapan perawat itu, “Maksud kamu apa Sus?”
“Tuan Raya mengalami kelumpuhan karena kecelakaan itu Nyonya,” jelas perawat itu membuat Intan terperanjat.
“Lumpuh Sus!”
“Iya Nyonya dan sepertinya dia shock dengan kenyataan itu, yang saya dengar sampai saat ini beliau masih belum terima. Tuan Raya selalu histeris sampai kami harus memberinya obat penenang bahkan saat Istrinya datang dia sama histerisnya dan mengatakan jika semua kecelakaan itu karena istri dan temannya itu,” ungkap perawat dengan bersemangat tetapi tanpa menunda tugasnya.
“Iya, ada seorang wanita bersama nya dan Tuan Raya juga bilang kalau mereka mungkin senang dengan keadaannya saat ini,” timpalnya lagi dan kembali membuat Intan sedikit terkejut.
Informasi yang diberikan perawat itu sangat berarti untuk Intan, setelah perawat itu pergi Intn berniat mencari kamar Raya karena tadi dia sempat bertanya juga di mana kmar Raya pada perawat itu. Intan menunggu waktu yang tepat juga keadaan yang menurutnya aman.
Sore hari di mana semua suster dan dokter sibuk dengan tugas mereka, itu menurut Intan adalah waktu yang tepat untuk dia mencari keberadaan Raya. Intan keluar perlahan dari ruangannya, matanya terus mencari ruangan Raya yang sudah diberitahu perawat siang tadi. Dua lorong sudah Intan lalui dan akhirnya dia sampai juga ke ruangan di mana Raya di rawat.
Setelah sadar Raya di pindah ke kamar rawat ruang VIP, Sinta sudah mendapat kabar soal itu melalui ponselnya karena Raya di pindah sesudah Santi pulang dengan April. Kepala Intan sedikit clingak clinguk, dia sedikit takut juga jika dia ketahuan oleh perawat atau dokter yang merawatnya jika dia keluar dari ruangannya.
Mata Intan berkaca-kaca saat melihat Raya terbaring tidak berdaya diatas ranjang rumah sakit dengan kaki dan kepala juga lengan yang terbalut perban. Matanya tertutup rapat, sepertinya dia sedang tidur dengan nyenyak. Intan mendekat dan duduk di kursi yang memang sudah disediakan, hembusan nafas kasar dilakukan Intan karena merasa iba dengan apa yang menimpa Raya saat ini.
__ADS_1
‘Aku mengerti keadaanmu Ray, kamu pasti belum bisa menerima keadaan kamu yang sekarang ini, aku hanya bisa berdoa agar kamu bisa dengan ikhlas menerima ini semua,’ batin Intan dengan menatap Raya penuh rasa iba.
Hanya sesaat dia berada di ruangan itu seperti sedang mengucap selamat tinggal pada Raya, Intan kembali ke ruangannya sebelum para petugas rumah sakit menyadari ketidak beradaannya di ruangan itu. Keadaan Intan sudah sangat membaik hari itu, pagi keesokan harinya dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Di rumah Santi sudah berpamitan pada mama juga papanya untuk kembali menjenguk Raya pagi ini namun mama minta agar dia tidak kesana sendiri sebab mama masih takut jika nanti Raya akan bertindak kasar pada Sinta. Papanya juga mengatakan hal yang sama, Sinta menghela nafas dan berpikir siapa yang akan diajaknya kalau bukan April.
“Kalau kamu tidak enak minta bantuan pada April biar mama yang melakukannya,” ucap mama Sinta seperti tau apa yang ada di kepala anaknya itu.
“Nggak usah Mah, biar aku saja nanti yang menghubunginya.”
Saat Sinta sudah berada di pintu depan Arya berteriak memanggilnya, Arya mengatakan jika dia ingin ikut dengan mamanya menjenguk papa Raya namun Sinta tidak memperbolehkannya dengan alasan jika anak kecil masih belum bisa masuk ke ruangan dimana papanya di rawat saat ini.
“Tapi aku mau lihat Papa, Mah,” rengek Arya dengan menarik-narik pelan baju Sinta.
“Iya sayang, tapi saat ini Papah memang masih belum bisa dijenguk,” jawab Sinta, “emm, atau begini saja sayang, nanti mamah akan videocall kamu saat Mamah sudah ada bersama Papa, bagaimana?” timpalnya.
Dengan wajah cemberut yang menggemaskan akhirnya Arya mengangguk dan terpaksa setuju dengan mamanya, Sinta pergi setelah kembali memberikan pengertian pada Arya agar dia tidak pasang wajah cemberut dan sedikit membuat hatinya lega. Sebelum Sinta naik kendaraannya dia menghubungi April lebih dulu untuk menanyakan apa dia bisa menemani dirinya menjenguk Raya dan April dengan sangat senang hati membantunya.
April sudah rapi saat itu dan dia minta izin pada Chiko, dengan manjanya Chiko minta sesuatu sebelum April pergi. Kecupan singkat selamat pagi diberikan April namun buka Chiko namanya jika dia tidak minta lebih dari sekedar kecupan singkat.
“Chiko sudah lah, aku harus pergi sekarang,” keluh manja April dengan tangan yang mendorong pelan tubuh Chiko yang saat itu masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk kecilnya.
__ADS_1