
"Sssttt, aku sengaja, biar mereka bisa lihat adegan seru yang akan aku mainkan selanjutnya denganmu," jawab Chiko yang membuat pikiran April berkelana.
Apa yang dipikirkannya malah membuat dirinya ngeri sendiri mendengar ucapan Chiko. April berusaha melepaskan pelukan Chiko sambil memintanya melepaskan pelukan itu.
"Gak bisa diajak kerja sama sekali sih kamu Pril," keluh Chiko sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu itu yah, udah ah, jadi gak nih pergi atau aku akan pulang saja,"
"Jadi dong," ucap Chiko, lalu dia melihat semua karyawannya berkeliling, melihat bola mata Chiko yang memutar, sontak saja hal itu langsung membuat semua yang ada disana membubarkan diri tanpa harus disuruh.
Melihat hal itu April tertawa geli, "Kamu memang hebat Chik, keren loh, itu baru dengan mata kamu saja mereka sudah ketakutan seperti itu," ejek April .
Setelah sedikit drama yang ada di sana, Iko dan April langsung melanjutkan niat mereka untuk pergi ke sebuah Mal, seperti biasa April tidak membawa kendaraannya. Hari sudah semakin sore jalanan pun sedikit macet karena memang itu jamnya pulang kantor.
Chiko melaju cukup kencang dari saat dia keluar gedung tinggi itu namun setelah sampai di jalan beberapa titik kemacetan membuat mereka harus kembali menunggu agar bisa sampai ke tempat tujuan. Pukul enam sore kurang lebih mereka baru tiba di sebuah mal, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka.
Sampai di sana Chico dan April tidak mengulur waktu, mereka langsung melangkah menuju tempat yang memang ingin didatangi oleh Chiko. Sementara itu April hanya mengikuti Chiko, dia juga belum tahu apa yang ingin dibeli oleh pria itu sampai harus membawanya ikut serta.
Di tempat lain tepatnya di sebuah rumah besar milik Raya, sejak pukul empat tadi mereka sudah sibuk merapikan diri, karena mereka bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka sangat antusias terutama Arya si kecil yang menggemaskan.
Dia terus saja berteriak agar Mamanya serta Ayahnya cepat keluar dari kamar dan langsung pergi, Arya sudah tidak sabar ingin menjajal area bermain di sana kalau. Melihat reaksi Arya yang begitu senang baik kedua orang tuanya ataupun Oma dan Opanya tertawa melihat tingkah anak itu, Arya memang selalu memberi keceriaan di dalam rumah besar tersebut.
Gaya serta keluarga kecilnya langsung melaju cukup kencang, karena hari memang sudah sore, dalam perjalanan Arya terus saja menceritakan keinginannya untuk menjajal semua mainan yang ada di arena bermain ada titik dia juga berkata jika ingin membeli beberapa mainan yang sempat melihatnya di ponsel, Raya tersenyum bahagia melihat Arya sang anak terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Anak Ayah senang banget sih,"
"Iya dong Yah, aku kan tidak sebulan seminggu sekali ke Mall sama Ayah dan Mamah," jawabnya polos.
"Iya, maafkan Ayah yah sayang, memangnya kamu mau setiap minggu yah keluar seperti ini sama Ayah!"
"Iya dong, kalau hari senin, semua teman aku pasti cerita jika weekend kemarin mereka pergi dengan kedua orang tuanya, aku sedih karena tidak pernah melakukan itu sama Ayah," ungkap Arya, seorang anak yang pintar yang baru saja duduk di kelas satu sekolah dasar.
Percakapan dalam mobil itu terus berlanjut, Raya baru tahu apa saja isi hati anaknya, apa yang diinginkan serta apa yang dikeluhkan nya, karena selama ini walaupun istrinya bercerita dia tidak terlalu mendengarkan apa yang diceritakan oleh istrinya tersebut pada.
Tiba di sebuah mal yang cukup besar, Arya tidak ingin menginjakkan kakinya Ke mana-mana dan dia ingin langsung menuju pusat permainan, Karena dia sudah sangat tidak sabar untuk bisa bermain di tempat itu.
"Arya, dengar Ayah yah," ucap Raya sebelum anaknya itu masuk ke arena permainan, "Kamu main disini sampai puas, sampai nanti Ayah dan Mamah kembali, kalau kami belum kembali jangan pernah keluar apalagi dengan orang yang tidak dikenal, karena kami ingin membeli barang keperluan di rumah, Kamu mengerti sayang?"
"Iya Ayah aku mengerti, tenang saja aku tidak akan nakal kok," jawabnya pintar.
Setelah memberi sedikit pengertian pada Arya, Raya pun menitipkan Arya pada penjaga disana, bahkan Raya meminta nomor kontak si penjaga agar dia bisa terus memantau Arya yang sedang bermain selama dia dan istrinya berkeliling.
"Mohon bantuannya ya Mas, aku titip anakku,"
"Iya Tuan, Nyonya tenang saja disini aman kok," jawab penjaga tersebut.
__ADS_1
Setelah merasa aman menitipkan Arya pada penjaga itu Raya pun langsung mengajak Santi istrinya untuk berkeliling. Dia minta Santi untuk membeli apa yang saat ini diinginkannya, sementara itu untuk saat ini dia mementingkan keinginan Santi terlebih dahulu, setelah Santi menemukan barang yang dia mau barulah dia bisa bebas memilih atau mencari barang yang saya inginkan.
Di satu gedung yang sama dengan tempat yang berbeda Chiko dan April berjalan beriringan sambil bergandeng tangan, sampai saat ini April masih belum mengetahui benda apa yang akan dicari oleh pria yang ada di sampingnya tersebut.
Setelah Chiko membeli sedikit barang-barang kecil di beberapa toko tempat langganannya, Chiko kembali mengajak April berkeliling dia kembali menanyakan apa yang diinginkan April, tapi wanita itu menjawab jika dia hanya ingin mengantar Chiko memilih barangnya terlebih dahulu, tentang keinginannya itu bisa dikesampingkan.
"Kamu yakin!"
"Yaudah sih tenang aja, aku gampang, lagi punya memang tidak ada barang yang ingin aku beli juga sih,"
"Ya sudah, berarti biar urusanku dulu selesai, baru setelah itu kamu seperti itu,"
"Seperti itu lah sepertinya," sahut April sambil tertawa renyah.
Tangan kekar Chiko terus menggenggam erat tangan April, seolah dia takut jika nanti April akan nyelegos pergi darinya. "Biasa aja sih pegangnya, takut aku pergi yah," sindir April.
Chiko menarik tangan April masuk ke sebuah toko perhiasan, April merasa sedikit heran kenapa dia mereka masuk ke toko itu, apa Chiko ingin membelikannya perhiasan, pikirnya. Ada sedikit rasa senang bila itu memang benar, namun hal itu segera ditahan rasa bahagianya, takutnya Chiko beli untuk wanita lain nanti dia malah kecewa, pikir April.
"Kamu silahkan pilih cincin atau kalung yang kamu suka," ucap Chiko membuat April bingung harus senang atau tidak.
"Perhiasan itu untuk apa! Buat aku?"
__ADS_1
"Untuk nanti aku berikan sebagai tanda pertunangan kita," jawab Chiko santai namun membuat April terkejut.