SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
MEMBUAT PAGI PANAS


__ADS_3

"Malam ini aku akan melayani kamu sepenuh hati."



April tersenyum pada Pria yang sudah kembali memejamkan matanya itu, melihat Chiko yang terlihat sangat kelelahan April tidak tega untuk membangunkannya. April akhirnya ikut beristirahat bersama Chiko, selimut tebal ditariknya untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos.



Raya pulang kerumah dalam keadaan yang sangat lelah, itu bisa dilihat dari raut wajah serta cara dia berjalan. Wajahnya tampak kusut, sepertinya Santi melihat jika saat itu Saya sedang merasa sangat pusing dan tidak baik-baik saja. Melihat Raya yang seperti itu Santi jadi sedikit merasa iba, bahkan dia kembali bertanya pada dirinya apa dia akan terus membuat Raya tertekan seperti itu.



"Lelah banget Mas, mau aku siapkan air hangat?" Tanya Santi yang tidak tega juga melihat Suami seperti itu, dia membantu Raya membuka dasi dan kancing kemejanya.



"Boleh juga, badanku sepertinya memang butuh itu," jawab Raya, "San, tolong buatkan es segar yah, atau kopi juga boleh," timpal Raya, "Baik Mas, tapi setelah aku menyiapkan peralatan kamu mandi dulu yah," jawab Santi dan direspon anggukan kepala Raya.



Raya duduk menunggu Santi menyiapkan air, wajahnya terlihat sangat kusut hari ini. Chiko membuatnya benar-benar tertekan, Raya merasa saat ini dia sangat tidak berdaya. “Ah, apa selama ni yang sudah aku lakukan dengan susah payah akan hilang begitu saja. Bagaimana jika aku benar bangkrut, cara bayar semua uang karyawan juga rekan bisnis yang sudah menanam saham disana.” keluh Raya.



Santi datang dengan membawa minuman yang diminta Raya, “Minum dulu Mas,” ucap Santi sambil memberikannya pada sang Suami. Raya mengambilnya lalu meneguk sampai habis satu gelas, “Kamu tertekan banget Mas, ada masalah di kantor?” Tanya Santi penasaran. Raya menghembuskan nafas panjang, sebenarnya dia tidak ingin menceritakan hal ini pada Santi, dia ingat omongan Papa mertuanya sesaat jika masalah kantor apapun itu jangan pernah libatkan keluarga didalamnya, tapi saat ini Raya tidak tahu lagi harus menumpahkan rasa penatnya jika bukan pada Istrinya.



Raya melihat wajah Santi yang cantik dan selalu mensuportnya dalam keadaan apapun, jadi dia sangat percaya jika Santi bisa membuatnya tenang malam ini. “AKu mau cerita sebenarnya sama kamu, tapi aku takut hal ini akan menjadikan kamu kepikiran,” Masalah apa Mas, di kantor?” “Iya,” “Ceritakanlah, walaupun aku tidak bisa membantu setidaknya kamu akan merasa sedikit lebih lega setelah menceritakannya padaku.”


__ADS_1


Raya merasa apa yang diucapkan Santi ada benarnya juga, dia lalu menceritakan bagaimana kondisi perusahaan keluarganya saat ini. Juga tentang kekesalan dia pada Chiko, “Aku yakin sekali jika Chiko tidak berniat sama sekali membantu kita, kalau iya kenapa perusahaan lain bisa hanya perusahaan aku saja yang tidak bisa diselamatkan olehnya,” keluh Raya.



“Jangan berpikiran buruk Mas, memang kan perusahaan kita sedang sangat rumit, mau kita cari jalan lewat manapun itu sudah tidak bisa, itu kamu sendiri loh yang bilang orang yang tahu seluk beluk perusahaan itu, yah harusnya kamu lebih paham akan hal itu,”



“Ya memang benar, tapi setidaknya mungkin dia bisa, selain perusahaan mereka sangat berpengaruh, Chiko juga kan salah satu pemimpin yang jenius, sepertinya dia tidak suka denganku,”



“Atas dasar apa dia tidak suka! Saingan bisnis juga bukan kamu dengannya,” tukas Santi yang membuat Raya tidak menjawab.



Raya tidak ingin melanjutkan obrolannya, tapi setelah bicara dengan Santi memang benar kalau perasaannya sekarang jauh lebih baik. Raya masuk kamar mandi dan Santi mulai merapikan barang kerja Raya serta menyiapkan pakaiannya untuk malam ini. Santi bilang jika dia akan istirahat lebih dulu, Raya tidak menjawab ucapan Santi karena memang sudah beberapa hari Santi selalu pergi dari pagi sebelum dirinya berangkat kerja.




Menjelang pagi tepat pukul empat subuh kurang lima menit, Chiko perlahan terbangun karena ada telapak tangan yang menghalangi nafasnya. April terlihat sangat nyenyak tertidur sampai dia tidak sadar posisinya yang membuat Chiko terbangun.



Mata Chiko akhirnya dibuka dan dia menyingkirkan pelan tangan April yang menghalangi pernapasannya. Saat Chiko melihat Wanita yang ada di depan matanya itu, dia menutup wajah sambil berkata, “Ya ampun.” Karena saat ini Chiko melihat dua buah besar April terbuka dengan hanya menyisakan sedikit saja bagian yang tertutup, hal itu membuat Chiko menelan salivanya.



Dua buah besar itu seperti sengaja diberikan April untuk dilahapnya, hanya melihatnya saja sudah membuat jantung Chiko berdetak lebih kencang. Chiko membayangkan jika dia sudah memainkan serta melahapnya dengan ganas, entah apa yang akan dia rasakan nanti. “Pasti akan panas pagi ini.” ucap pelan Chiko sambil cengengesan membayangkan apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1



Seperti biasa Chiko selalu ingin menyentuhnya, merasa serta memberikan sedikit rasa yang membuat April akhirnya sedikit terusik dalam mimpinya. Tangannya menyibakkan selimut tebal yang menghalangi dirinya melihat tubuh indah April, senyum sumringah langsung terlihat. Chiko melihat puas apa yang dilihatnya saat ini, tubuh mulus polos yang hanya tertutup kain segitiga membuat chiko sagat berhasrat.



Tangannya mulai nakal, dia menyusuri tubuh bagian paha sampai batas bawah perut April. Wanita itu terbangun karena dia merasa geli-geli enak saat mendapati ada sentuhan lembut menyusuri lekuk tubuhnya. Membuat desiran aneh yang menjalar dari dari punuk hingga kepala.



“Chiko …,” desah manja April saat menyadari Chiko sedang menyentuhnya.



“Iya sayang, bangun dong,” bisik Chiko di telinga April, membuat bulu kuduknya berdiri.



“Masih ngantuk,”



“Aku buat gak ngantuk yah, atau gak masalah sih kamu ngantuk juga, nikmati saja apa yang aku lakukan padamu nanti,” jawab Chiko manis dan lembut. Tangannya tak henti bergerak, dia membuat tubuh April terus meliuk merasakan apa yang diberikannya. April menyukai jika Chiko melakukan apa yang dia lakukan saat ini pada tubuh nya, membuat rangsangan yang langsung membuat dirinya terus bergairah.



“Aku mau yah.” Bisik Chiko setelah dia merasa sentuhan yang dilakukan sudah membuat dirinya dan April memanas. Suhu dalam tubuh mereka meningkat drastis karena semua sentuhan pembangkit gairah itu. Semua benda yang ada di tubuh keduanya dilepaskan oleh Chiko, dia mulai kembali membakar gairah yang sudah ada saat ini.



Pedang yang sudah sangat mengeras dimasukkannya perlahan ke kedalaman lembah basah milik April, Wanita itu menikmati setiap detiknya saat pedang tumpul itu memasuki kedalaman tubuhnya. “Mmpp.” guman April dengan perlahan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1



Chiko mulai bergerak perlahan, lalu dia mulai memainkan perasaan April. Dengan membuatnya berteriak, mengerang juga sedikit mengeluarkan air mata menikmati apa yang Chiko berikan. Hujaman Chiko membuat dirinya terus mencari tempat untuk dia mencengkram, tubuhnya bergoyang dahsyat karena gerakan yang dihasilkan Chiko.


__ADS_2