
April tersenyum, "Ya sudah, kita kedalam dan sarapan," jawab April.
Chiko tersenyum, April mengulurkan tangannya untuk membantu dia berdiri, bahkan April merangkul serta memapah pris tersebut. Chiko tidak mau makan di meja makan, dia ingin kali ini sarapan di ruang tengah agar dia bisa melihat berita yang terjadi kemarin dan hari ini di televisi pada detik.
April membuat minuman hangat untuk Chiko, selama menunggu April menyalakan televisi dan menyandarkan tubuhnya di kursi agar tubuhnya bisa terasa lebih rileks. Selesai membuat minuman April kembali mendekati Chiko lalu memberikannya minuman hangat dan dia juga menyuapi Chiko.
"Biar aku suapin, kamu lelah banget sepertinya," ucap April sambil membuka bungkusan makanan untuk diletakkan di alat makan.
"Iya, gak tahu kenapa, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur semalaman, mungkin karena kamu ada yang mengganggu, jadi perasaan dan pikiranku tidak tenang," sindir Chiko berhasil membuat April melirik ke arahnya.
"Bisa seperti itu!"
"Bisa lah, kamu tahu kenapa suami dan istri itu bisa saling merasakan jika ada sesuatu dengan pasangannya, itu karena hubungan mereka yang sudah sangat intim, kita juga sama seperti itu, walaupun baru tapi kita sudah saling menguatkan diri," jawab Chiko yang April sendiri tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya ini mampu berkata seperti itu.
April tersenyum, lalu memberikan suapan pertamanya, Chiko duduk bersandar di kursi panjang ruang tengah, dengan meluruskan kakinya tang terasa pegal. Sementara itu Athena duduk disampingnya sambil menyuapi.
"Apa kamu tidak bermain dengan wanita lain selama disana?" Tanya April membuat pria itu tertawa tipis.
Chiko membelai wajah April serta menatapnya lembut seraya berkata, "Apa itu yang selalu kamu khawatirkan! Kenapa kamu tidak menanyakan keadaanku selama di sana atau bagaimana pekerjaanku disana."
April tersenyum lalu menaikkan sedikit bahunya seolah mengatakan jika dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia selalu menanyakan hal itu, mendapati jawaban April yang seperti itu Chikoo akhirnya berkata jika dia ingin mengatakan sesuatu.
Pria itu lalu menceritakan pertemuannya dengan seorang wanita cantik dan sexy, Chiko mengatakan jika dia tertarik dengan wanita tersebut sebab wanita itu terus menggodanya. Bahkan dia menawarkan dirinya secara sukarela pada Chiko, sebagai pria normal Chiko mengatakan jika tidak mungkin dia melewati Kesempatan itu.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Chiko yang blak-blakan April tertawa, dia menghargai Chiko yang sudah mau sangat berterus terang kepadanya. Setelah Chiko bercerita, April juga mengatakan jika semalam dia juga hampir terlena dengan ucapan Raya.
"Hampir atau sudah?" Ejeknya, "Apaan sih, baru hampir seperti kamu, kamu hampirnya sampai mana?" Kembali April menjahili Chiko dengan pertanyaan nya, "Aku hampirnya …," ucap Chiko lau berhenti sejenak seolah dia berpikir, "Hampir masuk kelubang surga," sahutnya dengan gurauan, membuat April meruncingkan bibirnya.
Mereka tertawa, Chiko memeluk wanita itu hingga sendok yang sedang dipegangnya hampir terjatuh.
Beberapa menit yang lalu Raya mendengar suara kendaraan yang mendekat ke rumah itu, namun matanya masih sangat sulit untuk dibuka. Namun rasa penasarannya lebih besar dari rasa ngantuknya kali ini, jadi dia memaksa semua anggota tubuhnya untuk bergerak bangun.
Raya memaksa dua kelopak matanya untuk terbuka, setelah itu dia menggerak-gerakkan tubuhnya agar matanya itu semakin segar juga tubuhnya tidak lemas untuk dibawa bergerak. Setelah merasa lebih enak dia melangkah masih dengan sedikit malas keluar dari kamar itu.
Saat melihat April dengan seorang pria sedang berbicara dan terlihat April menyuapinya tanpa canggung, Raya mematung. Dia menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan April disana, "Siapa lelaki itu, apa dia Chiko! Tapi saat ini Chiko masih berada diluar kota, masa ada pria lain selain kami," ucap Raya sedikit merasa tidak percaya.
Semakin diperhatikan April semakin dekat, Raya melihat April yang tertawa terus lalu sampai pria itu saat ini memeluknya membuat Raya tidak bisa menahan lagi rasa cemburu yang ada dalam dirinya.
"Chiko!" Serunya tertahan dengan raut wajah terkejut, "Hai, sudah bangun!" Ucap Chiko seolah tidak ada perasaan apapun pada dirinya, rasa cemburu atau marah saat mendapati ada pria lain dirumah kekasihnya.
"Biasa aja dong liat gua, sampe shock begitu," sindir Chiko.
Raya melempar pandangannya, "Kamu mandi deh Ray," ujar April, "Apa mau langsung pulang," timpalnya yang mengusir dengan cara yang sangat halus.
Pria itu tidak menjawabnya, dia malah mengatakan hal yang lain, "Aku mau bicara."
"Sorry Mas Bro, kita masih belum selesai makan, jadi gua harap lo gak ganggu," tukas Chiko, April saat itu jadi merasa sedikit takut, dia takut jika Chiko akan marah, masalahnya saat ini dia sedang dalam keadaan lelah, takutnya emosi tinggi pikir April.
__ADS_1
"Maaf Ray, aku mau sarapan dulu dengan Chiko," timpal April agar Raya mengerti dan meninggalkan dirinya bersama Chiko.
Raya tidak terima perlakuan mereka, dia melangkah menghampiri April dan meraih tangannya lalu ditarik untuk ikut bersamanya, Chiko menghentikan tangan Raya yang menarik tangan April dengan kakinya seraya berkata, "Lepasin!" Tandasnya masih dengan posisi berbaring dengan tatapan nanar.
Raya menepis kaki Chiko, lalu Chiko beranjak, April menarik tangannya dari genggaman Raya dan beranjak menjauh. Chiko membuat dirinya saling berhadapan dengan Raya.
"Apa lo gak ngerti sopan santun!" Tukas Chiko, "Bahkan seorang pelayan pun akan meminta izin bicara pada Tuannya jika dia melihat Tuannya itu sedang makan!" Tandasnya.
Raya membalas tatapan Chiko, April merasa jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat mereka berdua saling tatap dengan sorot mata tajam mereka, "Tapi gua bukan pelayan lo" sahut Raya.
"Beda tipis dengan selingkuhan atau pebinor," sindir Chiko yang sangat mengena di hati Raya. Mendengar ucapan Chiko Raya mendekat dengan amarahnya, namun April yang sudah memperhatikan gerak Raya cepat menghalangi Raya untuk melakukan sesuatu pada Chiko.
April pasang badan didepan Chiko seraya berkata, "Jangan coba-coba!" Ancamnya, membuat Raya menghentikan gerakannya serta menahan rasa amarah pada Chiko.
Chiko memeluk April dari belakang dan mengecup leher jenjangnya singkat, sengaja dia lakukan itu untuk membuat Raya semakin panas, "Chiko …," rengek April sedikit menjauhkan kepalanya dari wajah Chiko.
"Kamu tidak perlu seperti ini sayang, Kamu duduk manis di belakang saja, karena ini masih urusanku, tugas kamu hanya sebatas tugas seorang istri dan aku tidak mau lebih," ujar Chiko yang kembali memeluknya erat.
"Jangan kamu pikir aku akan panas melihat kelakuan kamu seperti itu pada April,"
Chiko tertawa tipis sambil melepaskan pelukannya, lalu dia menggiring tubuh April agar berada di belakangnya dengan satu tangan kekar bagian kanan.
"Masa! Yakin hati lo gak panas ngeliat gua sama April tadi, cewek yang sangat lo kagumi ini," sindir Chiko membuat Raya semakin manatapnya nanar.
__ADS_1