
Langsung ada desiran yang menjalar di bagian belakang tubuh April, dan hal itu juga membuat bulu kuduk April berdiri.
Tubuhnya sedikit menjauh seraya merengek, "Ah …, jangan mulai deh," manja. Chiko menjawabnya dengan senyuman manis.
Mereka duduk bersama, Chiko dan April makan sambil terus berbincang. Chiko terus membuat April tertawa, "Aduh udah dong Chik, kalau kamu terus membuat aku tertawa entah kapan makanan aku habisnya," ucapnya dengan menahan tawa.
Chiko menghentikan kelakarnya agar mereka bisa menghabiskan makanan, selesai makan April langsung membawa semua alat makan ke dapur, April mau langsung cuci semuanya.
Saat April sedang mencuci semua alat makannya, tiba-tiba Chiko datang dan dan memeluknya dari belakang membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Kamu, bikin aku kaget aja,"
Dengan manja pria itu bergelayut menopang kepalanya di bahu April seraya berkata, "Mau aku bantuin gak?"
"Kalau kamu seperti ini bagaimana aku bisa selesaikan pekerjaanku," gerutu April.
"Aku mau bantu," "Gak perlu, sudah sana."
Di usir seperti itu Chiko meruncingkan bibirnya dan pergi duduk di kursi meja makan yang berada dekat wastafel. Chiko memperhatikan April dari belakang, dia senang melihat hal itu, pikirannya tentang April bisa menjadi istri yang baik sepertinya tidak salah.
Sementara itu April sambil mencuci juga memikirkan Chiko, sampai saat ini dia tidak percaya jika pria seperti Chiko bisa sangat manja di depannya. Namun April sangat menyukai sisi lain dari Chiko tersebut, bahkan semakin mereka dekat semakin satu persatu sikap manis Chiko diketahuinya.
"Hei, malah bengong," tegur April saat dia balik badan melihat Chiko duduk termenung.
"Iya, aku ingin cepat menikahi kamu Pril," celetuk Chiko membuat April terdiam sesaat mendengarnya.
Dia duduk disebelah Chiko, melihatnya dengan senyuman manis, "Apa kamu yakin ingin menikahiku?"
"Iya lah Pril, aku harus bilang berapa kali sih sama kamu,"
__ADS_1
"Kalau kamu sudah tidak menyentuh satu wanita pun aku akan melakukan itu," tukasnya.
"Aku akan melakukan itu jika kamu sudah meninggalkan pria beristri itu," tandas Chiko yang membuat April melihatnya dalam diam, "Kok diam! Kenapa, belum siap buat ninggalin dia," ucap Chiko sedikit ketus.
April beranjak dari duduknya, dia sepertinya malas untuk membahas hal itu. Namun Chiko cepat menarik tangannya hingga dia jatuh di pangkuan Chiko, lalu mengukung dirinya dalam lingkar tangan Chiko.
April sedikit meronta, "Lepasin Chik ah," rengeknya.
Bukan melepaskan rangkulanya, pria itu malah bersandar pasrah di punggung April, "Aku ngantuk, tapi malas jalan ke tempat tidur," manja Chiko berkata.
Hembusan nafas panjang dilakukan April, "Terus …, aku harus gendong kamu gitu ke kamar," sinisnya kemudian memberikan cubitan kecil di tangan Chiko hingga membuat dia meringis sambil memegangi bekas cubitan itu.
April melangkah menuju kamar, Chiko masih terus mengusap tangannya sambil menggerutu karena wanita itu tega melakukan itu padanya. April tertawa geli dalam hati, mendengar Chiko yang terus ngedumel.
Sampai kamar dia langsung merebahkan tubuhnya dan tarik selimut, "Tidur sudah malam, besok kita harus bangun pagi, ingat kalau ada meeting," tukasnya.
"Akh April, apa-apaan sih ni, lepasin," pekik Chiko yang wajahnya diuwel-uwel oleh wanita yang sedang merasa gemas.
"Lagi bikin gemes aja, i-ih," serunya lalu melepaskan tangannya dari wajah tampan nan imut itu.
"Kamu kira wajahku adonan, sakit tau, segitunya gemes sama aku" gerutunya dengan wajah marah tapi imut, lalu dia duduk bersandar.
April juga melakukan hal yang sama, dia duduk bersandar sambil melihat Chiko yang masih memegangi kedua pipinya, "Chik," tuturnya.
"Emm," sahut singkat Chiko.
"Aku heran deh sama kamu, kenapa sih sikap kamu kalau depan aku beda banget dengan sikap kamu bila kita tidak sedang berdua?"
__ADS_1
Chiko tersenyum mendengar pertanyaan April dan langsung meminta wanita itu agar bersandar di bahunya, April pun mendekat dan memeluk Chiko, dia bersandar di dada bidang pria itu lalu Chiko memeluknya hangat.
"Tidak mungkin kan aku harus bermanja di depan orang lain, apalagi saat kita sedang bekerja, dimana wibawa aku sebagai pemimpin nanti," ujarnya, "Lagi pula aku memang tidak ingin semua orang tau, aku hanya ingin kamu yang tau karena memang aku hanya ingin bermanja dengan kamu, wanita yang akan menjadi pendamping hidupku kelak," timpalnya.
April tersenyum mendengar jawaban Chiko, wajahnya sedikit diangkat agar dia bisa melihat wajah pria yang perlahan mulai dikaguminya. Mereka saling tatap, melihat wajah April yang begitu dekat, perlahan Chiko menepis jarak yang ada.
Bibirnya di tempelkan pada bibir April, satu \*\*\*\*\*\*\* lembut tapi singkat diberikan Chiko padanya, "Aku akan tetap menunggu sampai saat itu datang," ucapnya pelan dengan menatap wajah wanita yang membuat jantungnya selalu berdetak lebih cepat bila dekat dengannya.
April tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini, dan Chiko menghargai hal itu. Kemudian Chiko kembali melakukan hal seperti tadi, hingga akhirnya mereka melakukan tautan yang membuat mereka merasa terbuai.
Chiko selalu bisa membuat dirinya merasa nyaman, namun April sendiri tidak mengerti mengapa dia sulit melepaskan Raya dari tangannya. Setelah kesepakatan yang mereka buat, April merasa memiliki pria itu sebagai salah satu barang berharganya.
Dua sejoli itu hanya melakukan hal sebatas tautan malam ini, mereka hanya saling memberikan kenyamanan dalam pelukan untuk mengantar mereka ke alam mimpi.
Pukul dua dini hari, di kediamannya Raya terus terbangun, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Raya menghembuskan nafas kasar, dia melihat ke samping istrinya sangat lelap dengan mimpinya. Raya perlahan beranjak dari tidurnya, dia melangkah meraih ponselnya lalu keluar dari kamar.
"Aku telepon April saja deh, sudah tidur sih pasti dia, tapi bodo ah, dia harus temani aku sampai mataku lelah," ucap Raya sambil terus berjalan menjauh dari kamar.
Raya masuk ke kamar tamu, kamar itu agak jauh dari kamarnya dan kamar Arya, dia bisa bebas menghubungi April tanpa takut terdengar Santi. Sambungan telepon Video dilakukan Raya, karena dia ingin melihat April, kepalanya sudah membayangi April tertidur dengan menggunakan pakaian yang tadi dilihatnya.
"Sangat menggoda," ucapnya sambil membayangkan bagaimana April tidur dengan tubuh yang terlihat sangat menarik perhatian serta membangkitkan gairahnya.
Dering ponsel April membuat mereka terbangun, dia lupa untuk mematikan ponselnya. April meraih benda pipih itu hanya dengan satu gerakan, karena memang berada tepat di sampingnya, dilihat nama yang tertera dilayar, membuat benda pipih itu dibanting kembali.
"Siapa?" Tanya suara berat yang ada disampingnya, saat April hendak menjawab pada akhirnya.
"Raya,"
__ADS_1
"Jangan dijawab," tukas Chiko.