SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
DEKAPAN HANGAT


__ADS_3

“Tau ah,” sahut malas April yang langsung melepaskan pelukannya dan balik badan membelakangi Chiko.



Chiko tertawa gemas melihat tingkah April, dia memeluk tubuh wanita itu dari belakang, mendekapnya erat hingga terasa tubuh April menjadi hangat.



"Aku akan terus menunggu kamu, tunggu hingga masing-masing dari kita merasa lelah berkelana dan merasa sudah saatnya untuk menepi, sampai saat itu tiba aku ingin kita terus bersama," bisik Chiko, April mempererat dekapannya pada dua tangan Chiko yang berada didepan dan menempel di tubuhnya.



Pria itu selalu bisa membuat April tenang dengan semua ucapannya, kecupan singkat dilakukan April di punggung tangan Chiko, dia balik badan dan melihat wajah Chiko yang masih sedikit lelah.



"Makasih atas semuanya, makasih sudah terus bersabar menunggu juga bimbing aku," lirih April dengan mata teduhnya, membuat Chiko kembali mendaratkan \*\*\*\*\*\*\* lembutnya di bibir April.



Malam itu hubungan mereka semakin akrab, mereka sempat berpikir semoga ini awal dari segala, awal dari suatu hubungan yang akan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Chiko dan April tidur bersama dalam dekapan kasih sayang yang saat ini ada di diri mereka, sampai pagi mereka terlelap tanpa terbangun sedikitpun di malam hari.



Pagi Chiko sudah beberapa kali coba dibangunkan April, dari dia baru bangun, selesai mandi bahkan sampai saat ini ia sudah selesai menyiapkan sarapan pagi. Tapi saat dia kembali ke kamar, Chiko masih saja terbaring tidak sadarkan diri.



Wanita itu menghela nafas panjang, dia berjalan menghampiri Chiko yang masih terbuai dalam mimpi. Tubuh polos Chiko sedikit digoyang April seraya berkata, "Chik, Chiko bangun dong, udah siang banget nih."



Chiko bergerak, dengan suara seraknya dia bertanya pukul berapa saat ini, "Sudah jam enam lewat lima belas, kamu pergi paginya jam berapa?"



Chiko tidak menjawab, dia memaksa tubuhnya bergerak serta memaksa kedua matanya untuk terbuka. Samar dia melihat ke arah April, pandangannya masih sedikit silau kala melihat cahaya lampu.



"Kamu sudah rapi?"



"Sudah lah, kan mau kerja,"


__ADS_1


"Aku kan mau mandi bareng Pril," manjanya dengan tangan yang bergerak menyentuh April.



April menjawab malas, "Kamu sudah aku bangunin dari tadi, suruh siapa susah banget bangunnya, katanya mau pergi pagi tapi sudah bangun,"



"Jam sepuluh pagi Pril, aku masih ngantuk sekali, nanti aku bangun jam sembilan," ucap Chiko lalu kembali merebahkan kepalanya ke atas guling.



"Emm, kamu gak bilang semalam, ya sudah kalau begitu kamu aku tinggal kerja yah, nanti kalau ada apa-apa aku langsung hubungi kamu, oke," seru April.



April lalu berkata jika dia sudah menyiapkan sarapan nya, jika nanti Chiko keluar rumah dia harus mengunci pintu dan pastikan semua lampu mati. Lalu kunci itu dipegangnya dan jangan sampai hilang, karena dia hanya memiliki dua kunci satu dipegang dia dan satu lagi untuk Chiko.



"Iya Pril, kamu sudah seperti Nyonya Chiko kalau begitu," ujar Chiko dengan mata yang sudah dipejamkan.



Setelah itu April pergi bekerja, dia bergegas ke kantor karena memang sudah ada beberapa pekerjaan yang dimandatkan Chiko padanya. Pagi hari di kediaman Raya sama seperti biasa, setelah selesai merapikan diri dia pergi untuk sarapan bersama keluarganya.




“Kok mendadak Pah bilangnya, apa perlu diantar ke bandara?” Tanya Santi.



“Tidak perlu San, kami akan pergi dengan di Dodi saja,” jawab Papah.



“Iya, nanti kalau pulang kabarin Pah, supaya aku atau Santi bisa menjemput kalian di bandara,” ujar Raya.



“Gampang kalau soal itu, kamu masih bisa sendiri, kami tidak ingin merepotkan, nanti Papah tinggal telepon Dodi lagi untuk minta jemput,”



“Baiklah kalau maunya seperti itu,” sahut Raya.

__ADS_1



Setelah kedua orang tuanya pergi, Santi mengantar Arya ke sekolah, dia pamit pada Raya. “Arya, hayo salim dulu sama Ayah,” ujar Santi, Arya berlari kecil sambil menggendong tasnya dan langsung mengulurkan tangannya untuk salim dengan Raya.



Santi pun melakukan hal yang sama, dia mencium tangan suaminya dan memberikan kecupan singkat di pipi Raya, “Aku pergi yah Mas,”



“Iya, kalian hati-hati yah,” ujar Raya.



Santi berbarengan keluarnya dari rumah, dengan Raya yang pergi untuk bekerja. Namun Raya tidak langsung pergi ke kantor, karena kejadian semalam terus terngiang di kepalanya, saat ini dia pergi menuju rumah April dia sengaja pergi pagi agar bisa menjemput wanita itu untuk pergi kerja bareng.



Dalam perjalanan Raya sudah berkhayal saat bertemu dengan April nanti, pagi ini dia berpikir jika dia akan mendapat sedikit suntikan vitamin dari April. Sebelum sampai ke rumahnya Raya menyempatkan diri untuk membeli sarapan untuk mereka berdua, dua bungkus bubur ayam pun di pesannya untuk nanti mereka sarapan bersama di rumah April.



April melaju cepat kendaraannya, dia sedikit was-was dengan pekerjaannya yang akan menumpuk hari ini karena ada tugas tambahan dari Chiko. April tipe wanita pekerja keras, dia tidak suka jika ada pekerjaan yang tertunda.



Sebelum dia bekerja April selalu memastikan semuanya pekerjaan yang akan dilakukan hari ini di cek, mulai dari alat, jadwal hari ini dan lain sebagainya. Karena dia berangkat pagi jadi dia tidak terjebak macet yang berarti, jalan masih sedikit lengang hingga April bisa sampai ke kantor sesuai dengan prediksi dirinya.



Chiko kembali melanjutkan tidurnya sampai jam sembilan nanti, alarm sudah di pasang jadi dia tidak perlu khawatir akan kesiangan, dan ponselnya itu sengaja diletakkan di samping kepalanya, agar jika alarm itu berbunyi bisa terdengar sangat kencang dan membuat Chiko bangun.



Mobil berwarna putih itu kembali meluncur, saat tadi berhenti sejenak untuk membeli dua bungkus bubur ayam untuk sarapan, Raya sudah menghubungi sekretarsnya kalau pagi ini dia akan datang satu jam lebih lama, karena ada urusan yang harus dia kerjakan sebelum dia ke kantor.



Sampai depan pintu rumah April, Raya pasang senyum terbaiknya, pria itu mengetuk pintu dan memanggil nama April beberapa kali.



“Apa dia belum bangun, kenapa lama sekali,” gerutu Raya, dia kembali mengetuk pintu itu sedikit lebih kencang.



Chiko terpaksa membuka matanya, dia memaksa tubuhnya untuk bangun mendengar pintu itu terus diketok, “Siapa sih, gak tahu apa kalau yang punya rumahnya sudah berangkat kerja,” runtuk Chiko sambil terus bergerak pelan bangun, masih dengan hanya menggunakan handuk kecil Chiko berjalan malas dengan mata yang masih sangat berat untuk dibuka.

__ADS_1



Mata Raya terbelalak saat melihat yang ada di hadapannya ternyata bukan April, Chiko dengan muka bantalnya juga dengan penampilannya membuat emosi Raya yang melihatnya langsung naik, “Apa yang sedang kamu lakukan disini!” tukasnya.


__ADS_2