SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
FIRASAT


__ADS_3

"AKH!"



Teriakan dua orang terdengar sangat jelas, teriakan rasa takut yang terus terdengar sampai tiba-tiba menghilang bersamaan.



Di tempat lain Santi sudah mencoba untuk beristirahat, namun dia sudah mencoba selama satu jam tetap tidak bisa. Matanya terpejam namun hatinya serta kepalanya terus berputar, Santi kembali teringat saat dia melihat Raya dengan wanita itu.



Dia memang bisa melupakannya saat berada di keramaian atau saat ada seseorang di sisinya, namun kala dirinya berada sendiri maka ingatan itu akan kembali datang. Selama ini selalu begitu, Santi akan ingat semua kenangan buruk bersama Raya jika dia sedang merasa kesal dan sendiri.



Santi beranjak dari tidurnya, dia bersandar di dinding dan melamun. "Aku rasa apa yang aku katakan tadi sudah benar, aku tidak ingin terus dalam keadaan rumah tangga yang seperti ini, ini sudah menjadi keputusan terakhirku dan yang terbaik untuk semua," ucap Santi untuk dirinya sendiri.



Lalu dia kembali mengingat bagaimana Raya menatap wanita itu dengan rasa, Santi berpikir mungkin kejadian tadi tidak akan berpengaruh sama sekali pada Raya. Santi berpikir jika saat ini kemungkinan besar Raya sedang berdua dengan selirnya dan menghabiskan malam bersama untuk menghilangkan rasa pusingnya Raya.



"Iya, dia pasti melakukan itu saat ini bersama wanita tadi," ucapnya lalu menghela nafas. Dia sangat paham perangai sang suami, bagaimana kelakuan Raya saat di sedang pusing atau kesal.



Sementara itu Chiko benar tidak membawa April pulang ke rumahnya, dia membawa wanita itu ke tempat tinggalnya. Walau April menolak untuk bermalam disana tapi Chiko tidak menghiraukan keinginan wanitanya itu, dia terus melaju menuju kediamannya, walau Chiko melihat jelas wajah April yang di tekuk tujuh.



“Kamu itu selalu memaksakan kehendak, apa yang kamu mau selalu saja harus maunya kamu,” gerutu April dengan wajah cemberutnya, “tadi katanya mau kerumah aku dulu, tapi kenapa ini langsung kesini saja,” ocehnya.


__ADS_1


“Tolong klarat ucapan kamu, aku memang terkadang seperti itu dan itu yang menurut aku memang perlu, tidak selalu yah, terkadang!” balas Chiko yang tidak terima dengan ucapan April.



“Apapun itu, dan satu lagi yang suka buat aku bete, kamu itu kadang suka tidak mau ngalah disaat yang tidak tepat menurutku,” jawabnya.



“Kalau menurut aku masalah itu semua orang juga pasti akan seperti itu dan pendapat kamu itu sama dengan pendapat aku kalau lihat kamu Pril,” jawab Chiko yang membuat wanita itu semakin kesal.



April diam tidak mau lagi membalas ucapan Chiko, wajah cemberutnya membuat Chiko semakin gemas dan dia bergerak cepat mencubit pipi April sedikit gemas dan membuat wanita itu berteriak kesakitan. Chiko tertawa, sampai basement April berjalan cepat masih dengan wajah muramnya, Chiko hanya tertawa tipis dan membawa semua barang milik wanita yang sedang dalam mode gak aman itu.



Chiko menyiapkan air hangat untuk April mandi, lalu dia juga masak untuk makan mereka berdua walaupun tadi sudah tetapi pasti perjalanan membuat perut mereka lapar juga pikir Chiko. Selama makan April tidak sama sekali berbicara, dia masih terlihat marah sampai waktu tidur tiba.



“Kalau kamu masih saja seperti itu hanya ada satu cara agar marah kamu sirna hari ini,” tukas Chiko yang saat ini sudah berada di belakang tubuh April yang sedang tertidur dengan posisi menyamping membelakangi Chiko.




“Aku hanya ingin satu macam dan aku juga tidak mau ajak kamu bercanda kok,” jawab Chiko yang kembali mendekatkan tubuhnya pada April yang masih belum bergerak. April merasakan ada hawa sejuk menyentuh kulit lehernya dan hal itu berhasil membuat bulu kuduknya berdiri, April berteriak sambil balik badan, “Chiko!” lalu dia mendorong tubuh Chiko yang sudah bertelanjang dada.



Tangannya digenggam hingga April tidak bisa bergerak terkunci gerakannya oleh tangan Chiko, wajahnya masih muram dan Chiko melihat dengan tatapan yang sedikit tajam seraya berkata, “Aku mau kamu senyum!” tukasnya.



“Lepas Chik, aku sudah bilang aku sedang tidak mood malam ini,” tandasnya.

__ADS_1



Chiko tidak menjawab, dia terus memandang April dengan sorot mata yang tajam dan April tidak mau melihat wajah itu. Chiko menghela nafasnya sebelum dia memberi tautan pada April, dia terus memaksa April melakukan apa yang Chiko inginkan sampai akhirnya mau tidak mau wanita itu mengikuti keinginannya.



April juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menikmati apa yang dilakukan Chiko pada tubuhnya, lambat laun April membalas semua sentuhan itu dan mulai menikmati malamnya bersama Chiko. Seperempat malam Sinta tiba-tiba terbangun dalam keadaan terkejut, dalam tidurnya dia seperti mengalami kecelakaan.



Sinta terjun bebas ke dasar jurang dan itu membuat dirinya berteriak cukup kencang, Sinta terbangun dalam keadaan nafas yang memburu juga keringat yang bercucuran. Sinta seperti habis di kejar-kejar malaikat maut, dia duduk termenung mengatur nafas sambil mengingat mimpinya tadi.



“Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata, aku selamat sedangkan Mas Raya aku tidak tahu kemana,” ucapnya sambil terus mengingat mimpi tersebut, “aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa selamat, bagaimana dengan Mas Raya! Dan kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini,” timpalnya.



Santi beranjak dari tempat tidur, dia berjalan ke meja rias dimana terdapat air minum dan dia meminumnya. Santi berjalan melihat juah keluar jendela, sekilas wajah Raya terlintas di benaknya. Benaknya terus bertanya ada apa? Apa ada sesuatu dengan suaminya saat ini atau ada hal lain, bagaimanapun buruknya hubungan dia dengan Raya namun Santi tetap mendoakan agar tidak terjadi hal buruk pada pria itu.



Benda pipih yang berada di samping bantalnya di ambil, dia ingin melihat apa ada chat atau telepon dari Raya mengabarkan sesuatu. “Tidak ada apapun dari Mas Raya, tapi kenapa aku selalu teringat akan dirinya saat ini,” ucapnya pelan.



Santi keluar dari kamar untuk melihat keadaan Arya anaknya, setelah merasa Arya baik-baik saja Santi berkeliling melihat semua sudut ruangan di rumah tersebut. Dia terus berkeliling sampai dia bisa merasa sedikit tenang, langkah ringannya membuat dia berjalan terus keluar dari dari rumah.



Sejenak Santi berada di teras samping untuk menghirup udara segar, merasa keadaannya sudah sedikit membaik Santi pun kembali ke dalam. Dia kembali ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya sebentar lagi sebelum akhirnya dia akan membersihkan diri.



Sampai di kamar dia melihat layar ponselnya bercahaya, Santi bergegas mendekati dan melihat ponsel untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya atau mengirim pesan singkat. Nomor tidak dikenal tertera di layar ponsel itu dan membuat Santi bertanya-tanya.

__ADS_1



“Nomor siapa ini, seperti nomor rumah atau kantor!”


__ADS_2