
“Jangan aja kamu berpakaian Pril kalau seperti itu, polos saja lebih baik.” ucap pelan Chiko.
Chiko melepaskan semua pakaiannya, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena sudah seharian berkeringat dan penuh debu. Selesai dengan mandinya Chiko hanya mengenakan boxer pendek dan bertelanjang dada, dia memang selalu seperti itu jika hendak tidur. Chiko masuk dalam selimut bersama April, pelukan hangat diberikan Chiko seraya berbisik untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Wanita itu.
April sedikit bergerak namun dia tetap dalam pelukan Chiko, tanpa membuka mata dia berkata, “Kamu sudah pulang Chik?” “Iya sayang, maaf yah sudah membuat kamu merasa cemas,” “Emm, apa kamu mau makan?” “Tidak sayang, tidurlah lagi aku juga mau tidur.” ucap Chiko lalu memberikan kecupan singkat di pucuk kepala April. April tidak membalas, dia hanga memeluk erat tangan Chiko yang berada di depannya.
Santi pulang dengan Raya yang berwajah muram menyambut kedatangannya, Raya tidak menjawab sapaan Santi saat Wanita itu masuk ke kamar. Raya menyibukan diri dengan ponselnya, Santi tahu jika saat ini Raya sedang marah. Karena selama ini Santi selalu berada di rumah saat Raya pulang kerja, tetapi saat ini Santi tidak ada saat dia sampai dirumah itu.
Langkahnya ringan menuju kamar mandi, Santi membiarkan hal itu lebih dulu. Raya melihat Santi terus sampai dia masuk kedalam kamar mandi. “Dari mana dia, tidak biasanya dia pergi sampai malam seperti ini, juga tidak memberi kabar sama aku.” ucap Raya sedikit kesal. Santi keluar dari kamar mandi, Raya masih menyibukkan diri dengan terus melihat ke layar ponselnya. Setelah berpakaian Santi naik ke tempat tidur dan masuk ke selimut tebalnya.
“Kamu marah Mas sama aku?”
“Kamu pikir saja sendiri, lagi pula kamu pergi kemana sampai tidak memberi kabar,”
“Aku sudah bilang ke Mamah Mas dan aku juga bilang agar Mamah memberitahu kamu,”
“Mamah sama Arya memang memberitahu aku, tapi kenapa harus melalui Mamah, kamu punya hp dan bisa menghubungiku atau setidaknya mengirim pesan singkat,”
“Baterai hp aku habis Mah, karena itu aku tidak bisa memberi kabar,”
__ADS_1
“Apa itu hanya alasan kamu saja, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, dari mana kamu?”
Santi lalu menjelaskan jika dia bertemu teman lamanya yang bernama Jesi, mereka berbincang sampai Santi lupa waktu, namun Raya tidak mempercayai ucapan Santi itu. Santi menjawab jika hal itu terserah Raya, mau percaya atau tidak yang penting dia sudah menceritakannya pada Raya. Santi tidak ingin memperpanjang keributannya, dia merebahkan tubuhnya dan memeluk guling serta tidur dengan membelakangi Raya.
Senyum terlihat di wajah Santi. ‘Ini baru awal Mas, kita lihat nanti kedepannya akan seperti apa.’ batin Santi lalu dia menutup kedua matanya mencoba untuk beristirahat. Raya merasa sedikit kesal dengan sikap Santi malam ini, dia meletakkan ponselnya di meja kecil samping tempat tidur, lalu mulai mencoba untuk beristirahat menyusul Santi.
Pagi hari saat Raya terbangun dia sudah tidak melihat Santi disampingnya, sarapan sudah tersedia di meja kecil samping kamar saat dia membuka mata. Ada note di sela gelas yang ternyata dari Santi, dia mengatakan jika pagi ini ada sedikit urusan dan minta maaf karena tidak bisa menemani dirinya untuk sarapan bersama. Raya geram, dia meremas kertas itu dan membuangnya ke sembarang tempat. “Kemana lagi dia, ada urusan apa dan kemana Santi pergi. Selama ini kan tugas dia hanya mengantar dan menjaga Arya, lalu urusan apa yang dimaksud!” geram Raya dengan menatap tajam ke arah luar jendela.
Raya tidak memakan sarapannya, dia juga pamit ke Mamah untuk langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Raya mengatakan jika Santi sudah memberikan sarapannya namun dia tidak sempat untuk sarapan. Karena pagi ini dia ada meeting mendadak dan sangat penting. Setelah berpamitan pada mamah, Raya langsung meluncur cepat menuju kantor.
Santi keluar dari kamar tamu setelah Raya keluar dari rumah itu, Mamah memberitahukannya melalui pesan singkat. Setelah Raya keluar Santi juga keluiar dari kamar itu, dia langsung menemui Mamah dan menanyakan bagaimana tadi. Mamah menceritakan hal yang terjadi, dimana Raya tidak ingin memakan sarapan yang sudah dibawanya. Santi tersenyum, dia sedikit puas dengan apa yang terjadi malam tadi dan pagi ini.
“Pagi, bagaimana tidur kamu, nyenyak kah?”
“Pasti nyenyak kalau tidur sama kamu Pril,” sahut Chiko dengan masih memeluk April, “Tar siang kita pergi kerumah besar yah, ada yang mau diomongin Mamah sama kamu,”
April langsung balik badan dan bertanya, “Masalah apa?”
“Aku juga gak tahu, mungkin mempercepat hari pertunangan kita atau mungkin langsung nikah,” jawab Chiko yang membuat April terbelalak.
__ADS_1
“Hah! Yang benar kamu Chik?”
“Aku gak tahu sayang, nanti kita datang saja kesana makanya, aku juga ingin tahu ada apa,”
“Kok aku jadi deg degan yah Chik,”
“Apaan sih kamu Pril, udah kaya mau kesiapa saja.”
Selesai menyiapkan sarapan April pamit untuk merapikan diri, Chiko masuk kamar saat April sedang berganti pakaian. Dia sudah membuat April terkejut, April memintanya keluar namun Chiko malah semakin mendekati April yang sedang mengancingi kemejanya. Gerakan tangan April ditahan Chiko, lalu tubuhnya dibuat mendekat untuk kemudian di berikan kecupan singkat. “Aku kangen Pril, kamu kemarin pasti sangat khawatir yah sama aku?”
“Iya, kamu sudah buat aku kalang kabut kemarin. Aku pikir kamu marah karena mendengar ceritaku kemarin, maaf aku tidak ada maksud melak …” ucapan April terpotong, karena Chiko sudah membungkam mulutnya dengan bibir Chiko. Chiko membuat mereka akhirnya saling bertautan, April membalas gerakan yang diberikan Chiko di bibirnya. “Kamu gak marah sama aku?” “Tidaklah Pril, untuk apa aku marah,” “Lalu kenapa sikap kamu seperti itu kemarin, buat aku tidak enak perasaan,” “Itu karena berbarengan ada kabar dari kantor dan aku harus langsung memikirkan apa yang harus aku lakukan,” ungkapnya.
“Jangan lakukan hal seperti itu lagi yah Chik, jujur aku sangat takut kemarin,”
“Iya sayang, maafkan aku yah.” Ucap Chiko lalu memberikan kecupan singkat di kening April.
“Sudah sana aku mau pakai baju,”
“Jangan dipakai dulu, aku mau.” jawab Chiko dengan wajah penuh harap.
__ADS_1