
"Iya, tadi pulang les Arya mau jalan dan main, ya sudah aku ajak saja deh, kita kesana yuk gabung, dari pada kamu sendiri," ujar Santi.
April tak enak menolak ajakan Santi, dia meraih tas kerjanya juga membawa minumannya ke meja dimana Arya sudah sedang menikmati makanannya. Santi memperkenalkan Arya pada April, dan ternyata mereka bisa langsung akrab.
Santi memuji cara April mendekatkan diri pada Arya, walau baru ini mereka bisa duduk dan berbincang dengan leluasa, namun baik Santi dan April sudah seperti teman lama yang baru saja dipertemukan kembali, mereka bisa langsung dekat dan sangat akrab.
Satu jam mereka bersama di tempat itu, sampai saat ini malam sudah semakin dingin, Santi pamit dan kebetulan April juga memang sudah mau pulang, namun mereka hanya bisa berjalan bersama sampai parkiran, sebab dua wanita itu membawa kendaraan masing-masing.
"Dadah Tante, kapan-kapan main kerumahku yah," seru Arya.
"Iya sayang, nanti Tante mampir kapan-kapan yah,"
"Akhir bulan Arya ulang tahun, aku pernah bilang kan kalau aku akan mengundang kamu, aku akan kabari lagi nanti,"
"Iya San, oke aku tunggu."
Santi san Arya masuk ke mobil mereka, setelah Santi pergi barulah April masik. Baru dia menyalakan mesin kendaraan, teleponnya sudah berdering dan itu dari Raya.
"Apa mereka sudah pulang?" Tanya Raya.
"Sudah, baru saja, kenapa!"
"Aku ingin bertemu,"
"Duh Ray, maaf banget hari ini aku sangat lelah, besok aku hubungi kamu yah,"
"Aku mau sekarang Pril,"
__ADS_1
"Tolong lah Ray, aku belum pulang dari pagi buta, aku lelah," jawab April kini dengan sedikit nada tinggi.
Raya akhirnya pasrah, dia mendengar sedikit nada tinggi April, wanita itu menghembuskan nafas panjang setelah dia menutup sambungan teleponnya. April bersandar, menutup matanya dan terlintas wajah Raya, “Kenapa dia ada disini sih,” keluhnya.
April kemudikan kendaraannya menuju arah pulang, dijalan dia terus kepikiran dengan Raya, namun dia segera menepis semua ingatan itu untuk sementara, sampai dia tiba di rumahnya. April melihat sekeliling, ternyata semua lampu benar-benar dimatikan oleh Chiko, saat dia masuk kamar ternyata kamar serta tempat tidur sudah rapi dan bersih. “Dia bersihkan semuanya,” ujar April dengan senyum senangnya melihat apa yang sudah dikerjakan Chiko.
Setelah wanita itu membersihkan diri April turun untuk mengambil minuman, pandangannya langsung tertuju pada secarik kertas yang ada di depan pintu lemari pendinginnya. April meraih lalu membacanya, langsung terlihat senyum lebar saat dia membaca kata-kata manis dari Chiko tersebut, hanya secarik kertas darinya tapi sudah bisa membuat pipi April merona.
“Dasar playboy, bisa saja dia buat hatiku berbunga hanya dengan kata-kata.” April lalu mengambil minuman dingin dan kertasnya dibawa ke kamar, kertas itu dia letakkan di buku agendanya. Saat dia melihat isi ponselnya ternyata Chiko mengirim pesan singkat yang mengatakan jika dia sudah sampai di tempat tujuan sejak pukul lima sore tadi.
Selama dua hari April sibuk dengan pekerjaannya, hari ini pekerjaan dia tidak terlalu numpuk, jadi April bisa pulang lebih cepat. Pukul empat sore seperti biasa dia pulang, tidak ada lembur dan kerja tambahan yang biasa didapatkan secara dadakan. April lalu teringat tentang Raya, dia menghubungi pria itu dan mengatakan apa dia ingin bertemu dengannya saat ini.
“Kenapa itu kamu tanyakan sayang, tentu saja aku ingin menemuimu, katakan dimana!” seru Raya yang menyambut hangat ucapan April.
“Baiklah, aku akan akan menyusulmu nanti,”
“Oke, see you.” sahut April lalu dia langsung masukkan kembali benda itu di dalam tas. April bersiap-siap, setelah meja kerjanya tampak rapi dia langsung keluar dari ruangan itu untuk pergi Barbie cafe. Sampai disana sudah ada yang menyambut wanita itu, seorang pria tampan berdandan slengean, namun tidak menutup paras tampannya.
“Hallo sayang,” sapa pria itu sambil mereka saling peluk.
“Hai Hans, udah lama?”
“Belum, makin cantik aja lo Pril, gak heran si Chiko makin tergila-gila sama loe,” ujar pria yang dipanggilnya Hans itu.
“Bisa aja lo, dikasih berapa sama si Chiko buat puji gua hah!”
__ADS_1
“Ya ela, gak segitunya juga kali gua, tapi gua kasian sama tuh anak,”
“Kenapa!”
“Bisa terjebak cinta sama cewek kaya lo,” Kening April mengerut saat mendengar ucapan Hans, “Maksud lo apa!”
“Yah elo, lo mikir ga sih kalau yang jadi simpanan itu mau bagaimanapun yah elo Pril, mau dilihat dari sudut manapun itu,” sindir Hans.
“Yah enggak lah, dia yang simpanan gua, karena dia yang mengatakan hal itu,”
“Ya ampun, terserah lo deh, gua gak mau debat juga sih masalah ini, kita lanjut ke masalah kita aja,” ucap hans yang membuat April kesal, dia yang mulai tapi saat April kesal malah main hentikan begitu saja, seperti dia tidak dibiarkan untuk membela diri, pikir April.
April diam dengan wajah kesalnya, Hans dapat melihat itu, “Sorry Pril, bukan gua mau campuri urusan pribadi lo, cuma gua mau lo pikirkan lagi tentang apa yang gua ucapkan tadi, apa benar yang lo lakukan ini, dia sudah berkeluarga beb, yang ada nanti lo yang dibilang pelakor,” tandas Hans yang berhasil membuat April terbelalak.
Namun kemudian dia menghela nafas, dan minta Hans yang kali ini untuk tidak membicarakan hal itu. Akhirnya mereka mulai membicarakan masalah pekerjaan, Hans memegang satu usaha kecil milik April dan Chiko, dan saat ini mereka bertemu untuk membicarakan laporan mingguan biasa, karena Chiko tidak ada jadi Hans melapor pada April.
Setengah jam mereka berada disana, mereka bekerja santai sambil menikmati cemilan dan minuman, Hans bisa kembali mencairkan suasana, dia sudah bisa membuat April sedikit tersenyum setelah obrolan mereka tadi yang membuat sedikit ketegangan terjadi. Hans menghela nafas lega, setelah dia menerangkan isi laporan yang diperlihatkannya pada April.
“Bagus, makasih yah atas kerja kerasnya Hans,” ucap April karena laporan yang Hans berikan menunjukkan jika usaha mereka terus meningkat.
“Iya sama-sama, kalau nanti si Chiko pulang nanti kita ketemuan yah, gua mau kasih sedikit masukan soalnya,”
“Oke siap, apapun itu pasti akan kita tampung.”
Hans pamit, dia berdiri yang disusul oleh April, mereka saling bersalaman lalu berpelukan, kecupan singkat di berikan Hans sebagai salam perpisahan mereka. Raya baru saja tiba di cafe itu, namun dia sudah melihat pemandangan yang membuatnya sedikit merasa cemburu. Dengan sorot mata tajam dia terus berjalan ke meja dimana April masih mengucapkan salam perpisahan.
__ADS_1
“Hai Pril,” tegur Raya dengan wajah datar dan suara yang dibuat berat.