
Setelah pintu itu terbuka Raya cepat masuk dan membuat April terpekik dengan apa yang dilakukannya.
Raya langsung mendekati April yang duduk di kursi setir, April terbelalak, "Kamu mau apa!" Pekiknya, namun gerakan Raya sangat cepat hingga wanita itu tidak bisa mengelak. Raya mendaratkan lumatannya ganas membuat mata April membulat sempurna, Raya seperti hewan buat karena dia langsung membuat April sedikit kehabisan nafas.
Di mobil itu mereka Raya seolah tidak memperdulikan saat ada seorang petugas parkir yang melihat, walau April sudah berkali-kali memukul tubuhnya juga berusaha menghentikan perbuatannya, semua tidak berpengaruh untuk Raya.
Pria itu terus membuat nafas April terengah, Raya hanya memberikannya waktu sedetik untuk mengambil nafas namun setelah itu dia kembali membuat April kehabisan nafasnya.
Kali ini April memukul dengan keras agar Raya menyudahi permainannya, sampai dia membuat Raya terluka, "Hentikan!" Teriak April dengan sorot tajam matanya juga nafas yang berkejaran dengan Raya.
"Sudah Ray, kamu itu …," April tidak bisa meneruskan ucapannya, karena nafasnya membuat dia sulit bicara. April melampiaskan kekesalannya dengan kembali memukul Raya gemas. Sementara April terus melampiaskan kekesalannya, Raya mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Maaf Pril, kamu buat otakku beku, aku gak bisa mikir dengan jernih lagi saat sama kamu,"
"Memang dasar kamu itu, sudah sekarang keluar dari mobilku!"
"Aku akan hubungi kamu nanti, good night," ucap Raya, lalu pria itu keluar dari kendaraan April. Wanita itu menghela nafas lega, April gelengkan kepala melihat tingkah Raya malam ini.
April langsung melajukan kendaraannya saat dia sudah melihat Raya menjauh, malam itu Raya membuat April tidak bisa berkutik. Sampai dirumah April langsung beristirahat, dia bisa tidur nyenyak karena sudah bertemu Raya juga sudah dapat kabar dari Chiko.
Dua hari setelah kejadian, wanita itu melakukan rutinitas seperti biasa, semua selesai pekerjaan dirumah April cek lebih dulu ponselnya sebelum dia berangkat kerja.
"Pesan dari Santi!" Seru April saat melihat ada pesan singkat dengan nama Santi R, diapun membuka serta membacanya, ternyata Santi mengundang April untuk makan malam hari ini, setelah mereka tukar nomor ponsel, April dan Santi sering berkomunikasi.
Kedekatan mereka semakin intim setelah itu, April ragu untuk datang kesana, tapi bila tidak dirinya merasa tidak enak menolak. Akhirnya April menjawab jika dia akan mengusahakan agar dirinya bisa datang.
__ADS_1
April pergi ke kantor agak siang karena ada yang harus diurus nya di luar kantor bersama Dito, sepulang dari kantor April mampir dahulu di kedai kopi, ia menghubungi Chiko yang berada di luar kota. April menceritakan mengenai rencana dirinya untuk datang ke rumah Santi, dan dia ingin mendengar pendapat Chiko bagaimana.
"Kalau ingin benar dengar aku sih sebaiknya jangan dekat dengan keluarga dia, bahaya,"
"Bahaya!"
"Iya lah, bisa dibilang pelakor kamu," ujar Chiko dan membuat April berpikir jika yang dikatakan Chiko itu benar.
"Tapi devinisi itu pasti akan melekat di diri aku Chik, aku sih gak masalah,"
"Ya terserah kamu juga, cuma aku gak suka jika kekasihku dibilang seperti itu," tukas Chiko membuat April diam sejenak.
"Baiklah, terima kasih masukan dan sarannya, kapan kamu pulang?"
"Apa?"
"Aku terus bekerja dan bekerja sampai larut, agar aku segera pulang dan menemuimu, ternyata aku kangen juga sepertinya," sedikit rayuan Chiko keluar dan berhasil membuat April tersipu.
"Apa sih, gak mungkin lah seorang Chiko bisa kangen sama cewek, secara wanitanya banyak dan kalau merasa kesepian tinggal jentikkan jari saja," sindir April.
"Emm betul juga sih, tapi itu dulu, setelah bertemu kamu semua berbeda Pril," kembali ucapan Chiko membuat desiran hati wanita itu. April mengakhiri sambungan teleponnya karena takut jika Chiko akan membuat dia buta hati.
Wanita itu menghela nafas dan bersandar di kursi kerjanya, dia akan tetap pergi kesana, namun dia juga harus berhati-hati berada dirumah itu, "Aku ingin tahu kenapa dulu Raya malah mencari wanita lain diluar rumah, apa karena istrinya atau bagaimana, tapi Santi aku rasa wanita sempurna, selain baik dia juga cantik," pikir April.
April melihat waktu di jam meja kerjanya, dia melihat jika waktunya masih lumayan lama kalau dia harus pergi sekarang, sedangkan saat ini baru setengah lima. "Apa Raya tahu soal ini yah," kembali April berkata, benda pipihnya di ambil, dia ingin memanyakan hal itu pada Raya.
__ADS_1
"Emm tapi gak usah deh," ucapnya lagi karena ragu, dia meletakkan ponselnya kembali, lalu April melihat hasil kerjanya yang tadi sampai menunggu pukul enam nanti baru dia akan pergi.
Pukul enam April mulai merapikan meja kerjanya, dia hanya sedikit memberikan polesan pada wajahnya agar tidak terlihat kusam, lalu dia mulai meluncur menuju rumah Raya. Dijalan dia minta alamatnya pada Santi, kemudian April berhenti sejenak untuk membeli buah tangan.
Sampai di rumah Santi tepat pukul tujuh, dia disambut hangat oleh Santi juga Arya, sampai didalam dia diperkenalkan oleh kedua orang tua Santi. Mereka sangat ramah, April merasa betah berada didekat mereka karena sikap baik mereka.
'Semua tampak sempurna, lalu apa alasannya!' Banak April.
Satu persatu foto di rumah itu diperhatikan April, mulai dari saat Santi dan Raya bertunangan, menikah sampai punya Arya, semua terpampang nyata di dinding rumah besar mereka.
"Tante!" Teriak sosok kecil yang berlari menghampiri April, wanita itu sedikit berjongkok sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan Arya, "Halo sayang," tutur ramah April pada Arya yang tampan seperti Ayahnya.
"Apa kabar tampan?" Sapa April lalu memberikan kecupan singkat di pipi Arya.
"Aku baik, Tante kok baru datang, aku dengar Mamah telepon Tante dari siang loh," ujarnya polos, Santi tersenyum melihat kedekatan anaknya dan teman barunya itu.
Mereka sangat akrab, April bahkan bisa cepat membuat kedua orang tua Santi menerima dirinya. Mereka sudah duduk di meja makan, semua sudah siap tinggal menunggu satu keluarga lagi.
"Selamat malam semua, maaf aku sedikit telat," ucap Raya saat dia baru datang dan langsung meraih pinggang Santi lalu mengecupnya singkat.
Saat dia memeluk dan memberikan kecupan itu mata Raya sedikit membesar, saat matanya melihat sosok yang berada di samping Santi sedang duduk manis dan melihat ke arahnya dengan senyum tipis.
Santi memberikan kecupan balasan, dia tidak begitu memperhatikan raut wajah Raya, "Malam Mas, belum telat kok, Kamu baru saja duduk," jawab Santi lalu meraih tas kerja Suaminya dan memberikannya pada pelayan disana.
"Kenalkan Mas, ini April!"
__ADS_1