
"Maaf tapi itu benar," jawabnya membuat wanita yang ada di hadapannya itu mengendus kesal.
"Maaf," sela April, "Sebaiknya kamu memperkenalkan diri lagi, mungkin itu akan membuatnya ingat," timpalnya yang membuat Chiko melirik kesal, dan ditanggapi senyum ejekan dari April.
"Iya, sepertinya memang harus seperti itu, pasti ini karena terlalu banyak wanita di sekelilingnya," ujar wanita tersebut yang disambut tawa geli April.
"Memangnya kamu siapa, maaf sekali lagi tapi aku benar-benar lupa,"
Wanita itu lalu mengajak Chiko dan April untuk berbincang sebentar, dia melihat ada kursi panjang di sisi sebelah kiri tepatnya di halte dia memilih tempat terdekat agar bisa cepat mengingatkan Chiko tentang siapa dirinya.
Di kursi panjang halte itu sang wanita menceritakan siapa dirinya, namun saat awal cerita Chiko masih belum mengingatnya, sampai wanita itu mengatakan jika Chiko pernah menolongnya saat dia hendak berniat untuk bunuh diri, dari sana kemudian mereka menjadi dekat sampai akhirnya Chiko harus kembali ke ke Indonesia.
"Sampai sini apa sudah ingat?"
"Ingat dong, kalau tidak ingat keterlaluan sekali aku, Sabrina my lovely," ujarnya sambil merentangkan tangan agar wanita itu memeluknya.
"Ah …, akhirnya ingat juga kamu," teriak senang Sabrina sambil beranjak dan memeluk Chiko yang sudah berdiri dan merentangkan tangannya.
Dua sahabat itu langsung berpelukan Chiko dan Sabrina berpelukan hangat untuk melepaskan rasa rindu mereka, setelah dihitung ternyata perpisahan mereka memang sudah cukup lama, sekitar tujuh tahun mungkin karena itu Chiko menjadi lupa siapa salah satu sahabatnya di negeri yang pernah singgahi nya dulu.
Mereka berbincang sangat dekat dan akrab, terlihat dari perbincangan itu seberapa dekat Chiko dan Sabrina sampai mereka melupakan jika ada April diantara mereka. Melihat mereka yang asik melepas kerinduan April hanya bisa menghela nafas panjang dia mencoba mengerti, tapi tidak dicuekin seperti ini juga kali pikirnya.
Chiko kemudian mengajak Sabrina ke tempat yang lebih nyaman, saat itu April berkata jika silahkan mereka berbincang untuk melepas rindu, sedangkan April memilih untuk pulang dan beristirahat. Chiko berkata Jika dia akan mampir ke rumah April nanti, sebelum akhirnya dia beranjak pergi.
Setelah Chiko beranjak pergi bersama Sabrina, April berdiri di halte itu sendiri menunggu taksi yang melintas. Sudah sepuluh menit ia berada di sana, namun tidak ada taksi atau angkutan umum yang melintas.
Satu mobil berwarna hitam dengan nomor yang sepertinya dikenal berhenti di depannya, kaca mobil itu terbuka kemudian terlihat wajah seseorang yang saat ini sedang dilupakan oleh April. Dia memanggil dan meminta agar April masuk, sebab dia akan mengantarnya pulang, namun April menolak sampai akhirnya pria tersebut turun untuk menghampiri April.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Sudah lah Ray, sebaiknya kita memang harus menjauh," ucap April, dia tidak melihat Raya saat dia bicara, April takut jika dia melihat wajah Raya, perasaannya akan kembali muncul.
Lengan April sedikit ditarik hingga tubuh wanita itu berbalik dan menghadap ke arah Raya, akhirnya mata mereka bertemu, pandangan yang sudah lama tidak dilihatnya kembali membuat dirinya mengingat masa lalu, kembali membuatnya merasa ada sedikit setruman kecil di bagian luar hati.
April bergerak menepis tangan Raya seraya berkata, "Lepaskan Ray!"
"Kita harus bicara Pril, ikut aku sekarang,"
"Aku sudah bilang tadi, aku tidak mau," jawabnya lalu sedikit menjauh, namun tangan Raya kembali meraih pergelangan tangannya, hingga membuat dia kembali menghentikan langkah.
"Aku memaksa," tukasnya, dengan mencengkram tangan April.
Wanita itu menelan salivanya, tatapan tajam Raya membuat dirinya sedikit ciut, April berpikir, jika dia ikut tidak akan bisa sebentar Raya ingin bertemu, pasti akan lama, bahkan tidak menutup kemungkinan jika Raya akan memaksanya untuk bermalam.
"Maaf aku tidak bisa," jawab Raya dengan sorot mata yang membuat April mengalihkan pandangannya.
Dari jarak yang cukup dekat, mobil putih milik Chiko ternyata putar balik, Chiko melihat perdebatan Raya dan April.
"Itu kekasih wanita itu Ray?" Tanya Sabrina yang masih bersama Chiko.
Dengan tatapan tajam lurus ke depan Chiko menjawab jika wanita yang bersama pria itu adalah kekasihnya, bahkan dia menjelaskan jika wanita itu adalah calon istrinya dan pria yang bersamaan itu adalah mantannya yang masih saja terus menginginkan April.
Walaupun sebenarnya saat ini pria itu sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Mendengar semua penjelasan Chiko, Sabrina terkejut mengapa dia tidak memberi tahu dari awal jika April itu adalah kekasihnya, kemudian Chiko menjelaskan.
Chiko ingin menghentikan kendaraannya, namun April terus dipaksa masuk oleh Raya, Sampai akhirnya April ditarik dan dimasukkan paksa ke dalam mobil Raya, kemudian Chiko mengikuti kemana arah mobil itu pergi, itu pun setelah dia mendapat persetujuan dari Sabrina.
__ADS_1
Dengan perasaanmu yang tidak menentu Chiko terus membuntuti kendaraan itu, Sabrina menjadi geram sendiri saat dia mengetahui kelakuan Raya dari cerita Chiko. Dia bahkan memaki Raya, pria yang bahkan belum dilihat wajahnya itu.
April melihat Raya sedikit takut, sepertinya Raya sedang tidak bisa diajak baik-baik, namun April berusaha untuk membuatnya tenang, tapi sepertinya dia bisa tenang jika sudah bisa menyentuh April.
"Kita mau kemana Ray?" Tanya April akhirnya.
"Kamu duduk manis saja seperti biasanya," jawab Raya masih dengan tatapan ke depan, "Biasanya kamu tidak pernah bertanya, apa semua perubahan sikap karena Chiko?" Timpalnya.
"Tidak, ini semua kemauan aku, tidak ada sangkut pautnya dengan Chiko,"
"Tidak mungkin Pril, aku tau kamu sangat mencintai aku dari dulu bahkan sampai sekarang,"
"Kamu tahu kan kalau jawaban kamu itu salah, dan kita sudah lama juga tidak bertemu, aku rasa itu lebih baik,"
"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu Pril, maaf, tapi aku mendengarnya hanya sebatas di mulut saja," ujarnya.
"Terserah, mau percaya atau tidak itu hak kamu," sahutnya lalu dia melihat ke arah kaca spion samping, dia seperti melihat mobil Chiko sekilas, 'Apa itu Chiko!' Benaknya.
April melihat terus ke arah kaca itu, dia ingin memastikan, matanya terus melihat ke arah plat kendaraan, 'Benar!' Pekiknya dalam hati saat dia bisa melihat nomor dari kendaraan tersebut.
"Akh, mau kemana dia, ini bukan jalan menuju apartemen di Raya," geram Chiko.
Dia terus melaju cepat, agar tidak ketinggalan jejak, mata Chiko membulat sempurna saat Raya masuk ke lingkungan perhotelan mewah, pikirannya berkecamuk, 'Masih aja dia bawa April ke tempat seperti ini.'
"Ray, kenapa kita jadinya kesini, kamu kan bilang kalau kita hanya ingin berbincang!"
"Ayolah Pril, disini kan bukan hanya ada kamar, please dibuka pikirannya," ujar Raya mencoba berdalih.
__ADS_1