SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
TAWARAN WOW


__ADS_3

"Kamu percaya meninggalkan aku dan Suamimu disini?"



Pertanyaan April membuat janyung Raya berhenti, dia mematung sambil melihat April, Santi tersenyum seraya berkata, "Percaya, aku percaya penuh pada Suamiku ini, kamu gak usah takut karena dia sudah jinak,"



April tertawa, setelah itu Santi pergi dengan Arya meninggalkan mereka berdua. Raya langsung mendekati April, wanita itu mencoba untuk bersikap tenang.



"Sejak kapan kamu mengenal keluarga ini?"



"Baru tadi dengan kedua orang tuanya, kalau Santi kamu tahu kan sejak kapan!"



"Kenapa sepertinya kalian sudah sangat lama saling mengenal, Mamah dan Papah terlihat sangat akrab denganmu, begitu juga Arya, sejak kapan kamu kenal anakku?"



"Kan aku sudah bilang tadi, aku baru kenal mereka disini tadi, kalau dengan Arya ini kali kedua aku bertemu," ungkapnya, April menoleh, dia menatap Raya, "Apa kamu takut aku berada disini?"



Raya menghela nafas, "Aku bukan takut, tapi yang jelas tadi aku sangat terkejut saat melihat kamu ada disini, apalagi kamu sudah terlihat sangat akrab dengan mereka, apa kamu tidak takut?"



April tersenyum, "Untuk apa aku takut!"



April melihat ponselnya, dia ingin melihat apa ada pesan dari Chiko setelah beberapa saat dia tidak buka ponselnya, sementara itu Raya melihat sekeliling seperti memantau.



April terlalu fokus dengan ponselnya dan itu membuat Raya sedikit kesal, saat Raya hendak menegurnya dia sudah mendengar suara Santi dari arah belakang.



"Kok pada diem-diem saja!" Tegur Santi sambil berjalan mendekat, April langsung meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah suara.



"Kalian kaku banget sih, canggung yah," ujar Santi kembali lalu dia duduk di sebelah Raya.



"Yah kamu pikir saja San, kamu kan baru kenal, gak enak juga," jawab April.


__ADS_1


"Hei Pril, kamu gak ditegur Mas Raya tadi fokus gitu mainin hape?"



"Nggak, memangnya kenapa?"



"Dia gak suka jika ada teman ngobrolnya, maksud aku jika ada orang yang sedang bersama dirinya lalu dia fokus banget sama ponselnya dia pasti kesal dan marah,"



"Mana berani dia tegur aku, ya Mas Raya, kita kan baru ketemu, kalau dia berani juga langsung aku marahin balik," sahut April membuat Santi tertawa, Raya tidak merespon apapun dari perbincangan mereka.



Santi dan April melanjutkan obrolan mereka, sesekali Santi juga bergelayut manja kepada Raya, pria itu tidak banyak bicara, dia tidak banyak merespon percakapan Santi dan April karena menurutnya percakapan itu hanya untuk wanita.



Raya merasa geram saat Santi menanyakan hubungannya dengan Chiko, apalagi saat itu April menjawab semua tentang Chiko. April menjawab dengan jawaban dan raut wajah sumringah, membuat Santi semakin ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai hubungan mereka berdua.



Mendengar itu Raya semakin merasa telinganya panas, Rata pamit kepada kedua wanita itu untuk melihat televisi sambil menunggu mereka selesai berbincang. Santi dan April asyik ngobrol sampai lupa waktu, mereka tersadar saat Raya datang dan mengatakan jika saat ini sudah pukul sebelas malam.



"Ya ampun, gak kerasa banget sih waktu," ujar Santi sambil melihat jam di layar ponselnya.




"Iya, makasih Mas sudah mengingatkan kami," ucap Santi lalu merangkul Raya tanpa rasa canggung dan malu pada April yang berada di depan mereka, Raya hanya menjawab singkat.



"Ya sudah kalau begitu, aku pamit yah, Sepertinya Mas Raya sudah lelah," ucap April membuat Raya melihat malas ke arahnya.



April melangkah lebih dulu, saat mereka melintas di ruang tengah, Santi minta Raya agar mengantar April sampai ke kendaraannya, namun Ray menolak, tapi Santi memaksa dengan alasan gak enak jika April tidak diantar, sedangkan dirinya sudah tidak kuat menahan ngantuk yang tiba-tiba menyerang dirinya.



"Sudah lah San tidak usah, aku bisa sendiri kok, hanya ke depan saja gak masalah, santai," ujar April pada Santi dan Raya, karena dia mendengar Suami istri itu kasak kusuk dibelakangnya.



"Nggak ah, sudah sana Mas. April maaf yah aku keatas,"



"Ya sudah, aku balik," ucap April lalu mereka berpelukan, saat Santi sudah menaiki tangga Raya dan April balik badan, mereka melanjutkan langkahnya keluar rumah.

__ADS_1



Namun Raya seketika meraih tangan April dan menghimpitnya di dinding, April hanya tersenyum tipis saat Raya menatapnya, "Kenapa! Mau minta salam perpisahan atau ucapan selamat malam?"



"Dua-duanya, karena kamu tidak minta maka aku yang akan memberikannya," ujar Raya dengan tatapannya.



Seketika Raya memberikan kecupan singkat, Lalu mereka kembali saling tatap sejenak kemudian kembali melanjutkan untuk saling bertautan. Raya membuat tubuh April menempel dengan tubuhnya, pria itu seolah tidak merasa takut jika perbuatan mereka akan ada yang melihatnya.



April melepaskan tautannya dan mendorong tubuh Raya pelan, "Sudah ya, aku harus segera pulang dan lagipula apa kamu tidak takut jika apa yang kamu lakukan ini terlihat orang rumah!"



"Sebentar lagi, gak akan ada yang mengetahui, aku pastikan itu," ujar Raya yang kembali meraih tubuh April untuk melakukan tautan, April menolak dengan memalingkan wajahnya, namun Raya meraih dan menahan wajah cantik itu kemudian dia kembali \*\*\*\*\*\*\* bibir April.



Kali ini April sempat terbuai dengan apa yang dilakukan Raya, namun saat matanya baru saja tertutup wajah Chiko melintas di dua kelopak matanya itu, 'Chiko!' Batinnya. April jadi hilang rasa saat Chiko hadir dalam ingatannya.



April kembali melepaskan tautannya dan minta agar Chiko menghentikan kelakuan mereka itu, dengan alasan takut ada yang melihat. April langsung nyelengos tanpa menunggu Chiko menjawab ucapannya, Raya menghela nafas lalu mengikuti April sampai ke dalam kendaraannya.



April langsung masuk dan berlalu, tanpa berkata lagi pada Raya yang terus melihat ke arahnya. Setelah April keluar dari gerbang, Raya baru masuk ke rumah dan langsung menuju kamar.



Sampai di kamar ternyata Santi sudah tertidur, Raya tidak berniat mengganggunya, dia mendekati dan ikut dengan santi beristirahat. Seulas senyum tipis terlihat di wajah Chiko mendengar ucapan beraninya Aura.



"Yakin hanya semalam, apa tidak mau menemani aku selama aku berada di kota ini!" Ujar Chiko malah membuat wanita itu tertawa senang, "Kalau ini beda yah, tadi aku yang menawarkan diri, Kalau ini kamu yang memintaku,"



"Jelas berbeda dong, bagaimana?"



"Berani bayar berapa untuk satu malam?" Ucap Aura blak-blakan dengan wajah yang ditopang tangan serta tatapan genitnya.



"Silahkan buka harga, aku tidak akan bayar dimuka, jika dengan harga yang kita sepakati ternyata tidak memuaskan aku, aku akan memberikan setengahnya, bagaimana!" Ujar Chiko yang membuat wanita itu semakin penasaran, lalu dia kembali duduk santai.



"Waw, Sepertinya kamu bukan pria yang gampang ditaklukkan rupanya."

__ADS_1


__ADS_2