SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
ADU EMOSI


__ADS_3

“Apa yang sedang kamu lakukan disini!” tukasnya.


Memandang dengan sorot mata tajam pada Chiko dengan wajah bantalnya, juga Raya merasa kesal dengan Chiko yang hanya mengenakan handuk kecil untuk menutupi bagian intinya saja. “Mana April, kenapa kamu yang bukakan pintu!” kembali dia berkata.



Chiko tersenyum tipis dengan posisinya yang membuat Raya kesal melihat, saat ini dia berdiri dengan satu tangan ke atas tubuh bersandar di pintu, wajahnya dilihat Raya seperti meledek dirinya.



“Pertanyaan yang satu saja belum terjawab, ini sudah kasih pertanyaan lagi, sabar dong Pak. Bapak tidak melihat muka bantal saya, saya terbangun karena Bapak datang kesini pagi-pagi,” ujarnya, “ Aku disini tidak akan pernah pernah ada masalah dengan itu, seharusnya pertanyaan itu yang kau tanyakan ke kamu, kamu ngapain kesini pagi-pagi, datang kerumah pacar orang, dan …,” Chiko melihat tangan Raya yang membawa sesuatu, “Apa itu! Bawain dia sarapan, maaf anda telat, karena disini saya yang sudah di siapkan air hangat dan sarapan darinya, karena seharusnya begitulah seorang kekasih,” Sindir Chiko yang sangat mengena di hati Raya.



Sekuat tenaga dia menahan amarahnya, tangannya sudah mengepal erat, darahnya mendidih menahan amarah, “Dimana dia!” kembali Raya bertanya.



“Maaf, tapi saat ini saya ingin menyembunyikan kekasih saya itu dari pria pengganggu macam anda,” tukas Chiko.



“Kamu tidak sadar, kalau kamulah yang mengganggu hubungan kami!” balas Raya dengan selangkah maju, namun Chiko masih bersikap sangat santai.



“Masa, saya tidak mengganggu hubungan kalian, saya datang diantara kalian karena April yang meminta saya, dan kamu tahu apa, seharusnya kamu yang pergi dari kehidupannya, sebagai lelaki sungguh disayangkan tidak ada harga dirinya sama sekali,” sindir Chiko yang membuat Raya mendorong tubuh Chiko seraya berkata, “Jaga ucapanmu!”



Chiko sudah memprediksi apa yang akan di lakukan Raya dengan melihat langkahnya yang kian maju juga emosinya, saat Raya mencoba mendorong tubuhnya Chiko sudah siap dengan menahan diri lalu mendorong Raya kembali dengan lebih kencang, “Aku akan jaga ucapanku kepada orang yang tepat,” tandas Chiko kali ini sudah tidak bisa bersikap santai menghadapi Raya.



“Ingat ucapanku tempo hari, selingkuhan tetaplah selingkuhan, jangan berlagak seperti kamu yang memiliki April, kamu yang ingin berada di posisi ini dan aku tidak akan pernah memberikan posisiku pada pria sepertimu,” tukas Chiko, dia menatap Raya tajam, “Kamu harusnya berpikir, bersyukur karena sudah mendapatkan Santi, sudah mempunyai keluarga yang kecil yang utuh, sudah diberi kenaikan derajat, jangan malah jadi tidak tahu diri, pergilah sebelum aku hilang kesabaran,” usir Chiko.



“Aku akan balas semua ini, jangan sombong kamu,” ancam Raya dengan sorot mata tajamnya.


__ADS_1


Chiko menyeringai, “Aku akan tunggu ancaman kamu itu, jangan sampai aku yang bertindak lebih dulu.”



Raya melempar bungkusan bubur yang sejak tadi di pegangnya, sementara Chiko masuk lalu menutup pintu rumah. Dia menghela nafas panjang, “Aku harap apa yang aku lakukan ini benar.” Setelah Raya pergi, Chiko tidak tidur kembali. Di langsung membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat, lalu dia teringat akan kata-kata April sebelum dia pergi tadi, Chiko melangkah menuju ruang makan, ternyata benar April sudah menyiapkan sedikit sarapan untuknya.



Satu buah sandwich juga susu yang bisa langsung dihangatkan oleh Chiko saat dia ingin meminumnya nanti, Chiko makan semua yang sudah disediakan oleh April, lalu dia sedikit membuat kata-kata manis di secarik kertas yang diletakkan di pintu lemari pendingin.



“Sepertinya setelah malam ini aku kan selalu merindukan wanita itu.” ujar Chiko dengan \*\*\*\*\*\*\* nafas sambil mengingat wajah cantik April dan bayangan kejadian semalam. Hanya lima menit dia berada di sana memikirkan hal itu, dia tidak ingin berlama-lama terlena dengan hubungannya saat ini, karena dia tahu bila saat ini hubungan itu masih belum bisa diajak untuk bertepi dan mendarat.



Chiko pulang ke kediamannya untuk mengambil barang yang sudah dia siapkan untuk kepergiannya kali ini, setelah selesai dengan semua persiapannya Chiko langsung meluncur cepat ke bandara dan melakukan penerbangan.



Sementara itu Raya pulang dengan geram rasa hati, dia terus memaki Chiko dalam perjalanannya. Dia terus menghina Chiko, dan dia sangat marah pada April juga saat ini. Tidak ada dalam dirinya merasa sedikit saja jika dirinya itu salah, karena sudah bermain api dengan April, karena sudah membohongi wanita itu.




Dito dan April mengenal sudah sangat lama, yang menjalani tugas sebagai asisten pribadi Chiko adalah Dito, April hanya bertugas menemani Chiko jika ada meeting penting dan dadakan.



"Makasih yah Pril untuk hari ini, gila emang si Chiko yah, gua heran bagaimana bisa dia kerjain begitu banyak pekerjaan itu sendiri, sedangkan kita saja yang berdua sudah dibuat pusing dan kalang kabut," ujar Dito, setelah mereka selesai dengan semua pekerjaannya dan sedang menikmati minuman segar untuk melepas lelah.



"Iya sama-sama, gak tau deh, hebat bener salut, kelihatan kerja kerasnya dengan hasilnya saat ini,"



"Iya, jujur kalau aku gak akan sanggup,"


__ADS_1


"Mungkin karena dia sudah dari kecil dididik oleh keluarganya jadi dia sudah sangat terbiasa dan lihat, apa-apa yang harus dikerjakan lebih dulu dia sudah mengetahuinya," ujar April.



"Mungkin juga, tapi gua masih gak bisa habis pikir."



Setelah mereka menghabiskan makanannya Dito memilih pulang lebih dulu, April masih ingin berada disana menikmati sedikit waktu yang tersisa.



"Kenapa jadi merasa hampa malam ini," ucap April lalu menyandarkan tubuhnya.



Ponsel April bergetar ada pesan masuk, dia meraih ponselnya dan cek pesan masuk itu dari siapa, "Raya!" Ucapnya, "Apa dia masih berada di luar rumah," ucapnya sambil membuka isi pesan itu.



Raya menanyakan dimana keberadaannya saat ini, kemudian dijawab oleh April jika saat ini dia sudah berada dirumah. Chat itu terus saling berbalas, namun Raya masih belum menceritakan tentang kejadian pagi tadi.



Dia masih menikmati chat serunya bersama April, saat dia tertawa dengan balasan Raya, seseorang menegur, "Hai Pril," April menoleh, "Santi!" ujarnya lalu berdiri dan mereka saling salam sapa.



"Sendiri?"



"Berdua tadi sama teman kerja, tapi dia baru saja pulang," jawabnya, lalu April melihat sekeliling Santi tidak ada orang, "Kamu sendiri?"



"Aku sama anakku Arya, dia sedang duduk disana, ini aku mau tambah minum,"



"Emm, sudah malam masih diluar saja kalian,"

__ADS_1



"Iya, tadi pulang les Arya mau jalan dan main, ya sudah aku ajak saja deh, kita kesana yuk gabung, dari pada kamu sendiri," ujar Santi.


__ADS_2