SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
HAPPY ENDING


__ADS_3

Raya lama berada di taman itu sampai membuat sopir yang menunggu dirinya merasa khawatir, sopir itu beberapa kali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah satu jam lebih Raya berada di taman itu karena perasaannya yang cemas akhirnya sopir tersebut pergi untuk mencari Raya dalam taman.



Sopir itu terakhir melihat Raya di lokasi yang saat ini di pijaknya namun dia tidak ada di sana, sopir tersebut lalu mencari ke seluruh taman namun masih belum juga menemukan Raya di taman itu sampai dia harus menghubungi Raya dengan ponselnya.



Raya menjawab dan mengatakan jika dia saat ini berada di danau sebelah taman, sopir tersebut langsung mencari Raya ke tempat yang sudah dikatakannya tadi. Sesampainya disana dia melihat ada segerombol orang yang sedang melihat sesuatu, sepertinya ada yang tenggelam di sana.



Dia penasaran dan melihat siapa korban yang tenggelam tersebut, sopir itu terbelalak saat melihat Raya dengan tubuhnya yang basah kuyup dan tidak berdaya. Sang sopir langsung mendekat dan mengatakan jika pria itu adalah bosnya, lalu dia minta bantuan warga untuk membawa Raya juga kursi rodanya ke mobil.



Sementara itu April sudah melaksanakan tugasnya, dia kembali ke kantor untuk melapor pada Chiko yang saat itu masih berada di kantor yang memang menunggu April untuk melakukan tugas luar bersama. Satu kecupan singkat di berikan April saat dia datang dan melihat Chiko asik dengan laptopnya.



“Kamu tau nggak tadi aku ketemu siapa di kantor Sinta?” tanya April sambil bersandar manja pada Chiko.



Tanpa menghentikan gerakannya Chiko bertanya balik pada April karena dia memang tidak berada disana jadi mana tau apa yang terjadi dan siapa datang.



“Tadi itu pas aku mau pergi Raya datang dan melihat kartu undangan kita,” tutur April yang hanya di respon senyum tipis Chiko. April merengek karena Chiko tidak tidak memberikan tanggapan dan dengan santainya Chiko berkata jika tidak ada yang harus dikatakan selain kata bagus.



“Aku tidak mau mengetahui hal yang lain selain semua yang berhubungan dengan hari pernikahan kita, ok,” ucap Chiko.



April menghela nafas dan tidak mengatakan apapun lagi selain yang diinginkan Chiko karena saat itu Chiko mengatakannya dengan tatapan tajam dan April sangat tahu jika Chiko sudah seperti itu maka dia tidak mau dibantah.



Santi langsung menjawab telepon dari sopir Raya, “Ya Pak, ada apa?”


__ADS_1


“Maaf Bu, saya hanya ingin mengabari jika saat ini Bapak sedang berada di ruang UGD.”



“Ada apa dengan Mas Raya, tadi dia kesini dalam keadaan baik-baik saja kok,” balas Santi sedikit heran.



“Iya, tapi pulang dari sana Tuan langsung minta di bawa ke tempat yang sepi, sepertinya Tun sangat terpukul dengan semua yang menimpanya Bu, soalnya tadi Bapak mencoba untuk bunuh diri,” ungkap sopir itu.



Santi sangat terkejut mendengar hal itu, dia menutup teleponnya setelah mengatakan jika nanti dirinya akan menjenguk keadaan Raya disana. Sepulang dari kantor Santi langsung menemui Raya di rumah sakit namun saat dia datang Raya masih belum juga sadarkan diri.



Dokter yang merawatnya mengatakan jika Raya banyak kemasukan air danau yang kotor, di tengah kondisinya yang masih belum pulih benar dari kecelakaan saat itu membuat tubuhnya rentan dan hal itu membuat tubuh Raya masih belum bisa menerima apapun yang membuat tubuhnya semakin lemah.



Hari pernikahan semakin dekat, April dan Chiko sudah mempersiapkannya begitu sempurna. Menjelang hari pernikahannya April merasa sangat bahagia karena Chiko yang terasa semakin sayang dan peduli pada dirinya lebih dari yang biasa.



Santi merasa sangat senang melihat kebahagiaan mereka berdua walau saat ini dia masih sedikit terpuruk karena perceraiannya dengan Raya juga sedikit bingung dengan kondisi Raya saat ini. Setelah sadar Raya seperti orang yang linglung, menurut dokter dia mengalami depresi yang cukup berat.




“Bagaimana Nyonya?”



“Lakukan yang terbaik Dok, jika memang menurut Dokter itu baik untuk Mas Raya maka silahkan lakukan,” jawab Santi yang menyerahkan semuanya pada pihak rumah sakit.



Santi merasa iba dengan kondisi Raya saat ini namun dia tidak bisa berbuat banyak, Santi berpikir jika mungkin itu semua adalah karma untuk dirinya atas semua hal buruk yang pernah diperbuatnya. Santi merasa sedih saat dia melihat Raya untuk terakhir kalinya sebelum dia di masukkan ke rumah sakit jiwa.



“Maafkan aku Mas, aku tidak bisa berbuat banyak untuk kamu, aku hanya bisa mendoakan agar kamu bisa cepat pulih seperti sedia kala.”

__ADS_1



Menjelang tiga hari pernikahannya April terus ditemani Santi, dia menemani mulai dari April melakukan berbagai macam ritual menjelang malam pengantin. April mengikuti semua ritual dengan sangat baik sampai hari H tiba.



Semua mata memandang takjub pada April yang dikenal sedikit tomboy namun tetap cantik, tetapi kali ini dia sangat cantik dan membuat semua orang pangling termasuk Chiko yang tidak percaya jika April bisa secantik itu.



Pelaksanaan ijab kabul terasa hikmat dan Chiko berhasil dengan sangat lancar membaca ijab satu kali nafas dan hanya sekali. Semua bertepuk tangan dan merasa lega, ada beberapa suara yang meledek Chiko yang dibilang tidak sabar ingin cepat malam pertama.



Resepsi pernikahan terlihat mewah, banyak tamu undangan yang terpana melihat dekorasi yang sangat indah di pesta itu. Tidak ayal ruangan indah itu menjadi ajak foto-foto para tamu undangan, makanan serta souvenir yang diberikan sangat mewah dan hal itu sangat wajar mengingat siapa seorang Chiko.



Pukul tujuh malam tamu sudah mulai sepi dan pukul sembilan kedua pengantin sudah berada di kamar mereka, malam itu tidak akan ada yang berani mengganggu kedua pengantin tersebut untuk melakukan malam pengantin mereka.



April sudah melepaskan semua pakaian pengantinnya dan berganti dengan pakaian tidur dan Chiko pun sama. Saat dia menaiki tempat tidur Chiko merangkak seperti macan yang hendak menerkam targetnya dan membuat April tertawa.



“Apaan sih Chik, biasa aja dong,” ucapnya yang membuat Chiko meruncingkan bibirnya.



“Malam ini malam pengantin kita Pril dan aku tidak mau yang biasa saja,” jawab Chiko, “aku mau yang luar biasa dan tidak bisa,” timpalnya, “kamu ganti pakaian sana, aku sudah siapkan dikamar mandi,” kembali dia berucap.



April menghela nafas dan melirik tajam pada Chiko dan Chiko malah tertawa gemas melihat ekspresi April yang malas namun tidak berani menolak. Dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, Chiko mencoba menahan tawa melihat wajah April.



“CHIKO!” Teriak April lalu keluar dengan membawa lingerie juga ada tali panjang yang biasa dibuat untuk permainan yang liar, dengan mata yang membulat sempurna April kembali berkata, “apa maksudnya ini!”



“Aku mau kamu pakai itu, kita melakukan sesuatu yang berbeda sayang,” jawab Chiko yang pasang muka memelas namun April menolaknya tetapi Chiko terus memaksa.

__ADS_1



Malam pertama itu pun dilalui dengan pertengkaran yang menggemaskan, dimana April yang terus menolak dan marah sedangkan Chiko terus memaksa dengan wajah memelasnya.


__ADS_2