SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
KUMAT


__ADS_3

“Mas, tolong jaga mata kamu.” tegur Santi yang membuat Raya langsung menoleh ke arahnya.



Raya tersenyum dan memberikan senyuman ejekan pada Santi seraya berkata, “Kamu cemburu yah sayang,” “Tidak, aku hanya tidak suka saja dengan sikap kamu yang genit seperti itu, padahal saat ini aku sedang disamping kamu Mas,” ujar Santi sedikit tegas dengan wajah tidak suka akan sikap Raya.



“Emm, baiklah kalau begitu, maaf yah,” jawab Raya. Mereka melanjutkan kembali mencari sepatu, Raya mencari sepatu untuknya berolahraga, sedangkan Santi lebih memilih sepatu untuk dipakai sehari-hari. Arya sudah menemukan yang dicari, dia memberikannya pada sang Mama, “Mah aku mau yang ini boleh?” Tanya anak itu, “Iya boleh sayang, Mamah kasih kamu pilih satu lagi yah, sandal sepatu saja,” jawab Mama dan meminta Arya untuk mencari satu lagi kebutuhannya.



Arya bersorak sambil berlari untuk kembali mencari barang yang di mau mamanya tapi selera Arya, dia memilih dengan ditemani pelayan toko. Arya sangat sumringah memilih sepatu sandal yang dia suka, Raya masih sibuk memilih sedangkan Santi sudah memilih satu sepatu yang akan dibelinya.



Pasangan yang sangat serasih memasuki sebuah rumah makan, mereka menjadi sedikit pusat perhatian disana. Keduanya terlihat seperti selebritis hingga menarik banyak mata untuk menatap mereka, tangan saling bergandengan membuat mereka terlihat sangat romantis. Sesekali sang wanita bermanja di bahu Pria, sang Pria juga sangat menyayangi Wanitanya terlihat dari cara Pria itu sesekali membelai juga memberikan kecupan singkat di kepala sang Wanita.



“Mau makan apa kita sayang?” Tanya pria itu saat sudah melihat beberapa resto dan tempat makan yang berjejer di hadapan mereka. “Emm, sepertinya aku mau makan masakan jepang kali ini Chik, gimana kamu mau gak?” “Gitu, kalau aku sih ikut kamu saja sayang, tahu sendiri kau makan apa saja ayo.” April tertawa tipis mendengar jawaban Chiko, mereka memang suka sekali makan, walau April suka sekali makan dan makan cemilan tapi tubuhnya tetap terlihat sangat ideal.



Buku menu kali ini tidak dipakai, Chiko langsung minta makanan terfavorit yang ada di rumah makan itu. Minumannya juga Chiko mau minuman yang terbaik dari tempat itu, semua dipesan yang terbaik karena Chiko dan April ingin merayakan sesuatu bersama April.


__ADS_1


Beberapa pelayan membawa pesanan ke meja Chiko, mata April berbinar melihat begitu banyak makanan yang dipesan oleh pria itu, “Chik, kamu sadar gak berapa banyak makanan yang kamu pesan!” seru April melihat banyaknya makanan yang ada diatas meja. Chiko tertawa dan menjawab dengan percaya diri jika dia akan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja.



“Ah jangan asal ngomong kamu, bagaimana bisa kamu menghabiskan makanan sebanyak itu, aku saja melihatnya engap Chik,”



“Kita lihat saja nanti, aku sedang ingin makan banyak soalnya nih, tapi gak tau mau makan apa, jadi semua aja aku pesan,”



“Ya ampun Chik kamu itu yah,”



“Ah sudah lah jangan berisik, kita makan saja sekarang dan kalau tidak habis itu soal gampang.” Tukas Chiko yang langsung mencicipi makanan yang ada di depannya. Satu persatu makanan itu di cicipi Chiko, saat dia menemukan rasa yang cocok di mulutnya Chiko langsung ambil banyak dan makan dengan lahap.




Kaki indahnya melangkah ringan menuju bagian sepatu sport, Santi melihat dan mencari mana sekiranya akan cocok dengan Raya. “Sepertinya ini bagus, mau gak yah Mas Raya.” ucap Santi. Santi menghela nafas, lalu dia coba membawanya serta memberitahu Raya. “Mas, kalau ini kamu cocok tidak?” Tanya Santi sambil memberikan sepatu yang dipegangnya.



Raya mengambilnya dari tangan Santi, dia melihat detail dari sepatu tersebut, “Emm, warnanya oke dan modelnya juga bagus,” sahut Raya sambil terus melihat, “Sepertinya aku cocok dengan ini, oke aku ambil yang ini San, makasih yah,” ucap Raya. “Hah Mas, dari tadi saja aku yang pilihkan, kamu selalu saja seperti itu tidak bisa memilih mana yang kamu mau, plin plan,” tukas Santi yang sangat tahu bagaimana Raya.

__ADS_1



Selesai dari toko itu Raya dan Santi pergi ke tempat permainan, mereka ingin memberikan waktu Arya untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Santi duduk disana menunggu sambil memainkan ponselnya, Raya pamit untuk pergi sebentar berkeliling karena dia merasa bosan menunggu Arya bermain.



Raya berkeliling melihat-lihat pusat perbelanjaan dengan santai, masuk dari toko satu ke toko yang lain. Mata genitnya selalu berputar saat dia melihat ada wanita yang melihat kagum padanya, senyuman manis pun dilempar saat para wanita itu melihat dan mengagumi ketampanan Raya. Pria itu selalu tebar pesona saat dia melenggang dengan santainya, membuat para wanita semakin terpesona.



Mata Raya berhenti berputar saat dia melihat Wanita yang tadi sempat ditemuinya di toko sepatu, senyum sumringah langsung terlihat diwajah Raya karena tadi saat di sana dia hanya bisa tebar pesona pada gadis itu. “Pucuk ddatang ulam pun tiba.” ucap Raya, matanya terus melihat ke arah wanita yang sedang sibuk melihat barang yang ada di toko aksesoris.



Dengan percaya diri Raya menghampiri Wanita itu, dia menyapa juga dengan sangat ramah memperkenalkan diri juga mengajak Wanita itu berkenalan. Tapi sayang apa yang diinginkannya tidak sesuai harapan kali ini, Wanita itu tidak menyambut uluran tangan Raya sama sekali. Dia hanya melihatnya dan tersenyum manis, tanpa berkata apapun Wanita itu pergi meninggalkan Raya.



Kerutan di kening terlihat di wajah Raya, dia tidak percaya jika dia akan ditolak oleh seorang Wanita. “Damn, sok jual mahal banget tuh cewek, apa karena gua belum tebar pesona sama dia.” ucap Raya. Pria itu tidak menyerah, Raya kembali mendekati dan mulai ajak bicara Wanita tersebut.



Raya terus mengikuti kemana Wanita itu bergerak, bahkan saat Wanita itu ingin membayar barang yang dibelinya Raya dengan sukarela membayar apa yang harus dibayar Wanita tersebut. Sudah pasti tidak ada penolakan dari Wanita cantik itu, dia membiarkan Raya membayarnya lalu pergi.



“Hei, apa kamu tidak ingin mengucapkan kata terima kasih padaku!” ujar Raya yang berhasil membuat langkah wanita itu berhenti. Hembusan nafas pendek dilakukan wanita itu sebelum dia balik badan dan menjawab ucapan Raya, senyuman manis diberikannya pada Raya, membuat Raya seperti mendapat angin segar.

__ADS_1



“Terima kasih, tapi maaf aku tidak akan berkata lebih, karena ini bukan aku yang minta.” tukas Wanita itu membuat Raya menaikkan satu alis mendengar jawabannnya.


__ADS_2