
"Emm gitu, oke. Kita lanjutkan levelnya." Tukas Aura yang langsung menarik tubuh Chiko dan mendorongnya hingga terjatuh diatas kasur empuk itu.
Chiko tersenyum, dia menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Aura terlihat siap untuk menyantap mangsanya saat ini, dia lalu mulai bergerak menyusuri tubuh Chiko, lalu memberikan tautan yang kembali akan membakar gairah mereka.
Handuk yang mereka kenakan dibuka oleh Aura, kemudian dia berkata, "Show time Baby." Dengan mulai sedikit ganas Aura memberikan rasa pada Chiko, sementara ini pria itu hanya diam dan menerima, masih belum membalas semua yang dilakukan Aura.
Chiko ingin merasakan kenikmatan yang diberikan oleh wanita itu, sampai nanti jika dia benar-benar sudah membuat gairahnya mendidih. Aura terus memberikan sentuhannya pada tubuh Chiko, sampai pria itu tidak bisa lagi diam dan mulai menggila.
Semua cara sudah dilakukan Aura, namun Chiko tidak bisa benar-benar berhasrat, mungkin karena memang dia merasa ragu untuk melakukan itu, karena dia terus teringat dengan April.
Aura yang dibuat kesal akhirnya, karena Chiko tidak merespon dan melakukan balasan padanya, Chiko hanya sedikit mendesah pendek setelah itu kembali diam, Aura seperti sedang bermain dengan pria lumpuh. Saat Chiko merasa sa sedikit tergoda, tangannya bergerak seperti meminta Aura menghentikan gerakannya.
"Akh, kamu kenapa sih, kalau tidak mau berhubungan bilang dong," akhirnya Aura meluapkan kekesalannya. Chiko menghela nafas, dia tau kalau dia salah, tapi dia mencoba berkelit.
"Yah gimana dong, hasrat ku belum bisa naik, kamu hanya membuat hasratku sedikit naik lalu turun kembali, jadi aku gak bisa bergairah," jawab Chiko membuat Aura meradang.
"Bohong, aku tau sekali jika kamu menikmati semua sentuhan ku, tapi semua rasa itu kamu tolak," sahutnya dengan sedikit nada tinggi, "Aku bukan anak kemarin sore yang gak tahu apa-apa soal pria, jangan kamu pikir bisa membodohi ku," timpalnya, lalu dia duduk bersandar di sudut tempat tidur.
Melihat wajah Aura juga kekesalannya Chiko menjadi merasa tidak enak hati, dia pun bangkit dan bersandar seperti yang Aura lakukan saat ini. Chiko mengatakan jika apa yang diucapkan Aura itu benar, karena dia menahan semua hasrat nya untuk seorang wanita.
Mendengar hal itu Aura sedikit kesal, karena untuk apa jika mengajak dia berhubungan jika ternyata dia tidak menginginkannya, sebab mau bagaimanapun Aura membuat dirinya bergairah, jika dalam diri Chiko sendiri tidak menginginkannya, maka hal itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Chiko mengakui kesalahannya, dan dia juga mengutarakan kata maaf pada Aura, Namun wanita itu tidak ingin memberikan kata maaf itu pada Chiko, karena saat ini yang dia inginkan hanyalah kepuasan, dan itu hanya bisa Aura dapatkan dengan bermain bersama Chiko.
"Aku tidak ingin membuat waktuku sia-sia, kamukan tahu kalau dari awal itu aku maunya mencari kepuasan denganmu, kalau tau seperti ini kenapa tidak dari awal saja kamu tolak, jangan sok malah kamu yang ngajakin aku," celoteh Aura yang masih tampak sangat kesal.
"Duh Ra, kamu itu sama seperti wanita lainnya yah, kalau gak dikasih ngoceh," sedikit candaan Chiko keluarkan, bermandi agar Aura tidak terlalu merasa sakit hati.
"Jelaslah, bukan wanita saja kali Chik, cowok juga sama, tau sendiri mungkin tanpa harus aku beritahu," jawab Aura masih dengan kekesalannya.
Chiko menghela nafas dalam-dalam, dia menggeser tubuhnya dan membuat tubuh mereka menempel. Lalu Chiko memeluk Aura, berharap dengan begitu amarahnya mereda, "Sudah lah, kamu bisa melakukannya dengan yang lain nanti," ujar Chiko dalam pelukannya.
"Tapi kan aku maunya dengan kamu Chik, apa aku tidak menarik yah dimana kamu?" Ucapnya terdengar sedikit menyimpan rasa kecewa.
"Lalu kenapa?"
"Emm, ya itu, aku tidak bisa karena aku setia dengan pasanganku, jadi walaupun aku sebenarnya sangat menginginkan hal itu, tapi keinginanku itu masih kalah dengan kesetiaan yang aku miliki, jadi yaj seperti inilah," ungkap Chiko yang terdengar sedikit menyentuh.
"Beruntung sekali wanita yang jadi kekasihmu itu, aku mau dong dijadikan yang kedua," gurau Aura yang membuat Chiko mendaratkan satu cubitan gemas di pipinya.
"Maafkan aku sekali lagi, aku akan memberikan uang yang kamu minta, atau mungkin mau aku lebihkan!"
"Gak usah, itu sudah cukup untuk tidak melakukan itu denganku,"
__ADS_1
"Okelah, Kita tidur saja yah, besok pagi aku masih banyak pekerjaan,"
"Emm, tidur lah lebih dulu."
Malam itu Chiko tidak jadi melampiaskan hasratnya, karena seperti ada yang menahannya untuk melakukan hal itu. Dia juga sebenarnya merasa tidak enak hati dengan Aura, karena wanita itu begitu menginginkan tubuhnya bisa tuh oleh Chiko malam ini. Malam itu mereka hanya tidur bersama hanya melepaskan lelah setelah seharian beraktivitas tanpa mengeluarkan hasratnya.
Weekend ini hari penentuan dimana seharusnya Raya memutuskan apa yang akan dia putuskan malam ini, perjanjian yang mereka buat akan berakhir pada malam ini tepat pukul dua belas. Sampai pukul sebelas malam Raya masih belum menghubungi April, wanita itu berharap jika waktu cepat berlalu dan Raya tidak memilih akan bertemu dirinya.
April sudah mengantuk, saat ini sudah pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Jadi wajar saja jika saat ini dia sudah merasakan berat di matanya, wanita itu pun tarik selimut dan mematikan lampu setelah itu matanya dipejamkan April mencoba untuk beristirahat.
Karena merasa sudah sangat mengantuk maka April dengan cepat sudah memejamkan matanya, April sudah terbuai di alam mimpi. April tidak menyadari dan tidak mendengar jika ada seseorang yang masuk ke rumahnya. Sosok itu masuk melalui pintu depan rumah dia, sosok itu bisa membuka pintu depan dengan menggunakan kawat.
Sosok itu pun langsung masuk dan menuju ke arah kamar April. Pakaiannya yang serba hitam membuat dirinya bisa dikatakan maling, Jika ada yang melihatnya masuk secara diam-diam seperti itu.
Dia mengendap-ngendap masuk kamar, sangat perlahan dia membuka pintu agar tidak terdengar suara, agar tidak membuat orang yang sedang tertidur di dalamnya terbangun. Wajah itu hanya bisa sedikit terlihat, karena dalam ruangan itu hanya ada sedikit cahaya.
"Ternyata kamu sudah tidur Pril," ucap sosok itu setelah dia melihat tubuh April yang sudah terlelap. Dia melangkah mendekati April, tanpa menyalakan lampunya dia terus mendekat lalu duduk disamping April dan memperhatikannya dalam tidur.
Karena sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, pria itu perlahan \*\*\*\*\*\*\* bibir April lembut, dalam kelembutannya itu membuat April hanya sedikit menggerakkan tubuhnya.
"Rasa bibir kamu yang manis ini salah satunya yang membuatku slalu rindu." Ucap sosok tersebut.
__ADS_1