
"Benerkan ucapanku?" Goda Santi saat melihat senyuman April.
April semakin tersenyum kala Santi berkata seperti itu, karena memang benar apa yang diucapkan Santi, Chiko memang seperti itu saat ini, bahkan dia bilang jika dia sudah beberapa lama tidak bersentuhan dengan wanita lain selain dirinya, hal itu membuat April jujur merasa sangat senang.
Terlihat jika Santi sangat mencintai Raya, bahkan dia bisa membuat keluarganya menerima Raya demi dia, karena memang Santi anak satu-satunya. April baru mengetahui cerita ini, dan dia sangat terkejut mendengar cerita Santi. April bahkan kembali menanyakan beberapa pertanyaan yang membuat dia semakin penasaran.
Arya berlari menghampiri dua wanita cantik itu, dia merengek jika saat ini dia merasa sangat lapar. April lalu mengangkat tubuh kecil itu dan didudukkan ke atas pangkuannya, “Tante yang suapi mau?” Tanya April yang langsung disambut anggukan cepat Arya.
Chiko datang saat Arya berada dalam pangkuan april dan tinggal sedikit lagi menghabiskan makanannya, “Wah wah, siapa nih yang sedang dipangkuan wanitaku,” gurau Chiko membuat Arya langsung berteriak memanggil nama Chiko.
“Kok gak telepon aku kalau kamu sudah sampai,” ucap April.
“Sengaja, memangnya kenapa, akukan bukan anak kecil lagi,”
Mereka berbincang sejenak, lalu setelah setengah jam berada disana Chiko menyarankan mereka untuk segera pulang, karena hari juga sudah mulai larut. Melihat Santi merasa kesal April bertanya ada apa, Santi menjelaskan kenapa dia seperti itu. Ternyata supirnya susah dihubungi, tadi dia sengaja minta sang supir untuk pulang karena takut menunggu lama.
Chiko mengatakan jika dia akan mengantar Santi dan Arya, mendengar itu Arya malah bersorak gembira, dia berkata dengan polosnya kalau dia ingin merasakan naik mobil Om Chiko. Tanpa menunggu persetujuan dari Santi, Chiko langsung membawa Arya menuju kendaraannya. Setelah semuanya berada di dalam, Chiko langsung meluncur cepat. Arya sangat senang, dia duduk di depan menemani Chiko dan Chiko membuat Arya seperti sedang berada dalam sirkuit balapan.
Chiko terlihat sangat seru mengajak Arya bermain selama dalam perjalanan, Santi mengejek April saat dirinya terus terpesona kala melihat Chiko yang bisa langsung sangat akrab dengan Arya. Memang benar, saat dia melihat Chiko yang bermain dengan Arya, April melihat sisi lain dari seorang Chiko, saat itu sisi kepabaan Chiko sangat terlihat, bahkan sampai membuat April terpesona.
__ADS_1
Santi menggenggam telapak tangan April dan mengatakan, kalau dia akan menjadi wanita yang sangat beruntung jika benar akan menjadi pasangan Chiko nantinya. April berpikir jika apa yang dikatakan Santi itu bis jadi benar, banyak yang tidak bisa mengenal Chiko dengan sangat baik, apalagi wanita selain dirinya.
Sampai di rumah besar itu mereka hanya mengantar saja, Chiko dan April langsung pamit pulang karena hari memang sudah sangat malam. Mobil lain masuk kedalam halaman rumah Raya, saat melihat kendaraan yang baru saja masuk itu Arya langsung berteriak,”Ayah!” Arya hendak berlari menghampiri sang Ayah, namun tubuh kecilnya segera di pegang oleh Santi. Mama muda itu berkata pada anaknya jika dia tidak harus kesana, tunggu disini dan biarkan Ayahnya yang datang.
“Chiko! Ngapain dia disana malam-malam, apa April berada disini?” ucapan saat melihat mobil Chiko ada di depan rumahnya. Raya keluar dari kendaraannya, lalu menghampiri Santi dan Arya, Arga langsung menubruk Ayahnya yang masih berjalan mendekat.
Raya menggendong Arya, dia menceritakan jika tadi dirinya habis bermain mobil mobilan bersama Chiko, Arya menyatakan kegembiraannya bisa naik mobil Chiko yang dibilang keren olehnya. Mendengar Arya yang sangat antusias menceritakan Chiko padanya, Raya merasa cemburu, bisa bisanya anak yang paling dia sayangi merasa kagum juga dengan Chiko.
Santi memberikan sambutan hangat pada Raya, cipika cipiki dilakukan mereka di depan Chiko dan April, setelah itu Raya menyapa keduanya. Santi menceritakan kalau dia habis ketemuan dengan April, tak lama Chiko kembali pamit, dia langsung tancap gas setelah Arya memberikannya salam perpisahan.
"Sudah tidur?" Tanya Raya.
"Emm, sudah," sahut Santi singkat yang kini sudah berganti pakaian juga.
"Cepat sekali, sepertinya dia sangat kelelahan, dari jam berapa kamu ajak dia ketemuan sama April?"
"Dari sore sih, setelah April pulang bekerja, ini kan memang sudah jamnya dia tidur Mas,"
__ADS_1
"Aku tidak terlalu suka kamu ajak Arya saat bertemu Chiko," tiba-tiba Raya mengatakan hal yang membuat Santi mengerutkan dahi, "Maksud kamu! Aku tidak ajak Arya untuk bertemu Chiko Mas, aku kesana bertemu dengan April dan Chiko pun hanya menjemputnya," jelas Santi.
"Iya, kamu juga pasti kan tahu jika Chiko pasti akan menjemput April, lain kali jangan ajak Arya, biarkan dia dirumah," tukas Raya yang terlihat sangat tidak suka jika Arya bermain dengan Chiko.
Santi tersenyum, sepertinya dia baru menyadari kenapa Raya bersikap seperti itu. Raya mendekati Raya yang sedang mengancingi piyama tidurnya, Santi langsung ikut membantu mengancingi baju itu seraya berkata, "Kamu cemburu yah kalau Arya dekat dengan pria lain, dia itu kan hanya menganggap teman main, beda dengan kamu yang adalah Ayahnya,"
"Kamu gak lihat tadi, dia terlihat sangat senang bisa bermain dengan Chiko, bahkan Arya berkata sangat menyukai dia,"
"Wajar sih kalau menurut aku, Chiko sangat menyenangkan orangnya, dia seperti April yang hamble dan Arya saat ini sedang merasa punya teman baru, mainan baru jadi wajar jika Arya terlihat sangat senang Mas, sudah lah jangan cemburu seperti itu," ucap Santi dan selesai dengan kancing yang terakhir.
Satu kecupan singkat diberikan Santi di pipi Raya, agar suami tersayangnya itu mereda rasa cemburunya, namun terlihat wajah Raya yang masih cemberut. Santi mengapit wajah Raya dan mendaratkan kecupannya disana lalu berkata, "Sudah yah, sekarang sudah malam waktunya beristirahat, jangan cemburu sama hal seperti itu."
Raya menghela nafas, dia melepaskan tangan Santi yang masih memegangi wajahnya. Raya nyelengos melewati Santi dan langsung naik ke kasur empuk, lalu dia merebahkan diri dan memeluk guling besarnya.
Melihat tingkah Raya yang seperti itu Santi merasa gemas, dia tersenyum lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Raya. Tidak ada raspon sama sekali dari Raya saat dia memeluk tubuhnya, Santi kemudian semakin erat memeluk tubuh itu hingga Raya meringis karena pelukannya membuat Raya merasa sesak.
"Santi apaan sih, gak bisa nafas nih aku,"
__ADS_1
Santi tertawa manja, "Yah habisnya kamu bikin aku gemas, bikin aku mau kalau kamu seperti itu tau," goda Santi.