
"Aku hanya ingin kamu yang menjadi melepas penatku," ungkap Raya.
Lalu dia menatap lembut mata April, wanita itu tersenyum, lalu dia menepis pelan tangan Raya yang sedang memegang kedua bahunya seraya berkata, "Maaf Ray, tapi aku tidak ingin seperti itu, aku tidak mau hanya pelepas kepenatan kamu dari keluarga Santi," jawab April, lalu melangkah dan duduk di atas kasur kembali.
Raya mengikuti April, tapi dia tidak duduk, Raya berdiri di hadapan April dengan meletakkan tangannya didepan dada.
"Aku tidak perlu mengulangi alasan aku untuk tidak menerima itu, jadi aku mau kita selesaikan hubungan ini sampai disini," ujar April yang membuat Raya bersimpuh di hadapannya, "Aku gak mau Pril," jawabnya cepat, "Aku tidak mau hubungan ini berakhir," timpalnya.
Tangannya berada di lutut April, wajahnya memelas, "Melihat kamu bersama Chiko itu sudah sangat membuat aku sakit hati, apalagi sampai kamu juga meninggalkan aku dan terus bersama dia,"
"Memang seharusnya seperti itu Ray, aku juga tidak ingin dicap pelakor dalam rumah tangga kamu,"
"Nggak, Kamu bukan itu, siapa yang berani berkata seperti itu sama kamu!"
"Walau bukan aku yang menginginkan hal ini, tapi pandangan yang melihat pasti akan beranggapan seperti itu, karena aku hadir diantara kalian, itu yang dilihat oleh mata mereka dan aku tidak mau hal itu," tukas April.
Wanita itu kembali menepis tangan Raya seraya berkata, "Sudah menjelang pagi, aku butuh istirahat, kamu sebaiknya pulang,"
"Aku ingin tidur disini,"
"Kenapa tidak ke apartemen kamu saja,"
"Aku ingin sama kamu."
April menghela nafas, lalu dia akhirnya membiarkan Raya untuk tidur di sana juga bersamanya nya, tapi April minta kepada pria itu agar tidak melakukan hal diluar batasannya, dan Raya menyanggupi persyaratan April tersebut.
Mereka tidur bersama, setelah April merebahkan tubuhnya dan menarik selimut Raya membuka baju, lalu dia baru mulai naik ke atas ranjang dan tidur di samping April. April tidak mengetahui jika saat itu Raya tidur dengan membuka baju, dia mengetahuinya saat dirinya balik badan dan tangannya menyentuh dada bidang Raya.
__ADS_1
'Dia bertelanjang dada.' Batin April dengan mata yang masih tertutup, 'Iya yah, aku sampai lupa jika itu memang kebiasaan dia.' Timpalnya dalam hati.
April mengangkat kembali tangannya, namun Raya menahan tangan itu dengan kedua tangannya, tangan April dipegang erat oleh kedua tangan Raya dan tidak ingin dilepaskan dari atas dada bidangnya.
Mereka tertidur sampai pagi tiba, pukul lima lewat tiga puluh menit saat alarm berbunyi April memaksa matanya untuk terbuka, dia memaksa tubuhnya juga untuk bergerak agar bangun dari tidurnya.
Perlahan April membuka kelopak matanya, pemandangan yang dia lihat saat ini adalah wajah Raya, wajah yang cukup lama berada dalam waktu paginya saat membuka mata.
April pelan bergerak menjauh, agar Raya tidak terbangun akibat gerakannya, setelah berhasil dia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu April pergi untuk berolahraga pagi di taman depan rumahnya dan membiarkan Raya yang masih terbuai dengan mimpinya.
Kemarin malam Chiko sudah terbang menuju arah pulang, dan pagi ini tepat pukul enam dia mendarat di bandara. Saat kendaraannya melaju pelan, Chiko teringat akan sosok yang sudah membuat dirinya tidak bisa mengeluarkan hasrat.
Rasa rindu pada perempuan itu dirasakan saat dia melihat gedung-gedung tinggi di luar jendela kendaraannya, kemudian Chiko berpikir jika dia akan menghampiri April saat ini juga. Jadi Chiko mengurungkan niatnya untuk pulang dan beristirahat di rumah, dia langsung balik ke arah menuju rumah April dan berniat untuk beristirahat di sana.
Karena rasa laparnya, akhirnya Chiko berhenti dulu untuk membeli sarapan, dia membeli dua bungkus sarapan untuk April juga dirinya, setelah itu dia melaju Kembali menuju rumah April.
Wanita itu menunggu di belakang kendaraan saat kendaraannya itu sedang parkir dan mematikan mesin mobil, kala pintu itu terbuka April langsung menghampiri sosok yang baru saja datang itu dengan langkah cepat.
"Chiko …," teriak April yang langsung memeluk pria tersebut, sepertinya dia sangat senang melihat kedatangan Chiko, dan terasa rasa rindunya pada Chiko dari pelukan yang diberikan pada pria tersebut.
"Aku kangen banget," ucapnya manja dengan masih memeluk tubuh Chiko. Chiko tersenyum senang mendengarnya, lalu dia membelai kepala April seraya berbisik, "Aku lelah,"
Mereka melepaskan pelukannya, "Kamu baru tiba banget?"
"Emm, aku baru landing, aku mau istirahat disini,"
April tersenyum dan memberikan kecupan singkatnya, "Ya sudah, kita masuk. Apa ada yang harus dibawa,"
__ADS_1
"Tidak, nanti saja itu, aku mau sarapan dulu, tadi aku beli ini," ujarnya sambil menunjukkan bungkusan makanan.
"Kebetulan, aku belum sarapan," sahut April, mereka lalu melangkah bersama, mereka bergandengan tangan kedalam rumah.
Saat sampai di pintu masuk April menghentikan langkahnya dan mematung, membuat Chiko melihat ke arahnya dan sedikit mengerutkan dahi, "Ada apa?" Tanya Chiko heran, April menoleh dan menjawab, "Aku lupa sesuatu karena senangnya bertemu kamu,"
"Apa?" Tanya Chiko kembali, lalu April ajak Chiko untuk duduk dulu di teras depan, dengan wajah entah serius entah takut dia bercerita.
"Semalam saat aku tidur, sekitar pukul setengah dua belas malam Raya datang kesini," ujar April menghentikan ceritanya karena ingin melihat reaksi Chiko, tapi Chiko diam hanya sedikit anggukan kepala, April memegang tangan Chiko yang berada di atas meja.
"Dia datang tanpa sepengetahuan aku, aku tidak tahu bagaimana cara dia masuk, karena kunci rumah ini hanya sama kamu, singkat cerita aku tidak melakukan apa-apa, aku sudah mengusirnya tapi dia tidak mau, dia minta tidur disini," ungkap April dengan sedikit wajah yang terlihat cemas ketakutan.
Chiko dapat melihat kejujuran di setiap kata yang keluar dari bibir April, saat April bercerita dia terus melihat dalam kematanya. Chiko membelai pucuk kepala April dan menenangkan dirinya, "Aku percaya sama kamu, jadi kamu tidak usah takut," ucap Chiko.
"Jadi saat ini dia masih tidur disana?"
"Iya," sahut April lalu menundukkan pandangannya.
"Mau aku bangunkan atau kita biarkan dan kita sarapan dulu?" Tanya kembali Chiko yang membuat April merasa semakin tidak nyaman dengan situasi ini.
"Terserah kamu, jika kamu merasa tidak nyaman aku akan bangunkan Raya dan meminta dirinya pergi," jawab April dengan lebih mengeratkan genggaman tangannya.
"Boleh aku jujur?" April mengangguk menjawab ucapan Chiko.
"Aku sangat lelah dan lapar, tapi saat ini hal pertama yang ingin aku lakukan adalah sarapan, setelah itu baru aku mau istirahat agar istirahat aku enak," ungkap Chiko.
April tersenyum, "Ya sudah, kita kedalam dan sarapan," jawab April.
__ADS_1