
“Chiko!” ucap April, Chiko melihat April dan memberikan senyuman terbaiknya juga tatapan yang sangat menyejukkan mata.
'Sial, kenapa dia datang selalu tepat waktu." Gerutu Raya dalam hatinya. Tatapan Raya tajam ke arah Chiko, setelah memberikan senyuman manisnya pada April, Chiko mengalihkan pandangannya ke Raya.
Tatapan nanar langsung menusuk jantung Raya, mata yang memicing tajam membuat April dan Santi merasa takut melihat Chiko seperti itu.
April takut jika Chiko akan membuat Raya nanak belur, April menarik pelan lengan Chiko dan berharap dia mengerti maksudnya. Tetapi sayang sekali, Chiko mengabaikan gerakan April. Chiko menggeser kursi yang ada di depannya dia duduk dan berkata, "Aku tidak menyangka sama sekali, seorang pemimpin perusahaan besar berani angkat tangannya pada seorang wanita lemah," sindir Chiko.
Semua diam tidak ada yang membalas ucapan Chiko, Raya kembali duduk dengan raut wajah marahnya. "Aku pikir kamu sebagus wajahnya, ternyata sikap sama sifatnya bejat." Tukas Chiko yang berhasil kembali memancing amarah Raya. Sonyak Raya langsung menggebrak meja seraya menyentak, "Jaga ucapan lo Chik!"
Chiko tertawa, April menarik-narik lengan Chiko berharap agar dia menghentikan semuanya. Santi malah tersenyum senang melihat Chiko dengan gayanya menyindir Raya, dan kena tepat sasaran. "Ud, gampang kalau itu, gua juga hanya mengeluarkan kata kasar pada orang yang seharusnya, tepat dan wajib untuk dikatakan seperti itu,” balas Chiko.
Santi semakin tertawa mendengar balasan Chiko, Raya semakin meradang. “Chik sudah lah,” seru April, “Toh tidak sampai kejadian juga,” timpalnya.
“Iya itu karena aku datang tepat waktu, coba kalau tidak kamu pasti akan langsung kena pukulan olehnya, dan kalau sampai itu terjadi aku akan hajar dia habis-habisan,”
Raya tersenyum tipis mendengar ucapan Chiko, “Kalau kamu mau melakukannya sekarang tidak masalah buatku Chik, aku juga melakukan itu karena April sudah sangat kurang ajar padaku. Dan kamu juga samanya dengan dia, kalian pasti bersekongkol mau menghancurkan aku melalui Santi kan,”
Chiko tertawa ngakak mendengar ucapan Raya, Chiko berkata jika pikiran Raya sangat dangkal. Chiko juga mengatakan jika Raya tidak tahu diri, Raya diminta intropeksi diri dan mengakui semua kesalahannya. Santi juga membalas ucapan Chiko, dia mengatakan pada Raya agar dia meninggalkan tempat itu.
“Aku akan hubungi orang rumah agar tidak menerima kau lagi dirumah itu!” Tandas Santi dengan mata nanarnya.
“Maksud kamu apa San, kamu ngusir aku?”
“Iya Mas, aku sudah bilang kan apa yang akan aku lakukan jika kamu melakukan kesalahan lagi, aku sudah bilang juga agar kamu intropeksi diri jangan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dengan diri kamu sekarang, tapi apa yang kamu lakukan sekarang,” ujar Santi dengan mata menyalak.
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan, aku tidak hanya menyalahkan April San, tapi itu semua adalah kebenarannya, kamu memang berubah setelah mengenal April, kamu berani melawan juga membantah semua ucapanku itu semua karena kamu mulai mendengar hasutan Wanita ini,” teriak Raya sambil menunjuk ke arah April.
Chiko beranjak dari duduknya dan mengajak April pergi dari tempat itu, Chiko berkata percuma ngasih tau orang yang gak tahu diri dan takut jadi gelandangan, jadi bagaimanapun dia akan mencari kambing hitam agar dia tidak keluar dari rumah besar itu. Raya hendak membalas apa yang diucapkan Chiko, namun Santi menghentaknya agar Raya diam.
Chiko pergi bersama April, Santi menyusul mereka dan meninggalkan Raya dengan kekesalannya, “Sial, kenapa jadi seperti ini, bisa-bisa gua jadi gelandangan beneran kalau seperti ini.” ucap Raya, yang khawatir tentang keadaan dirinya jika Santi tidak menarik ucapannya.
“Hei tunggu!” Teriak Santi pas pasangan serasi yang ada di depannya. Sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya dan balik badan menunggu Santi datang. Santi berlari kecil menyusul Chiko dan April, “Aku ikut dong, ada yang mau aku bicarakan juga dengan kalian,” ucap Santi.
“Emm, ayo gak masalah,” jawab Chiko dengan ramah.
Santi berteriak gembira mendengar jawaban Chiko, dia langsung berpelukan dengan April dan April melepaskan pegangan tangannya pada Chiko, “Kan aku dilupain.” gurau Chiko membuat dua wanita itu tertawa.
“Sepertinya malam ini memang harus tidur di apartemen.” ucap Raya lemas.
Santi dan April juga Chiko pergi ke sebuah rumah makan, karena Chiko saat itu merasa perutnya sangat lapar. Dalam perjalanan Santi menyatakan permintaan maafnya atas kelakuan Raya, Santi mengatakan jika dia sudah memberi ultimatum pada Raya. Mereka membahas Raya dalam perjalanan bahkan sampai ke tempat tujuan, Chiko hanya jadi pendengar setia disana.
Chiko menyantap makanannya dengan lahap, dia berkata jika dari sore tadi perutnya merasa sangat lapar. Sementara itu Santi dan April meneruskan obrolan mereka.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan San, apa kamu gak mikirin Arya anak kalian?”
“Yah aku sudah pasti mikirin itu Pril, aku hanya ingin memberikan pelajaran pada Mas Raya, aku kesal dia hanya karena tidak bisa intropeksi dirinya, tidak sadar-sadar jadi lelaki,” gerutu Santi.
__ADS_1
“Terserah kamu kalau itu, aku hanya kasihan sama Arya nanti, mereka kan sangat dekat,”
“Tidak Pril,mereka tidak dekat, Arya memang selalu menanyakan keberadaan Ayahnya, Raya juga sama sih tapi mereka jarang berinteraksi, belakangan malah Raya tidak pernah menemui Arya karena kesibukannya, dia sangat acuh dan perlahan Raya tidak menanyakan Raya sering-sering,” ungkap Santi.
“Seperti itu, ya sudah lah kalau seperti itu, kamu tahu mana yang terbaik untuk kalian,”
“Kalian gak bosen apa ngomongin si Raya, aku aja yang dengernya kesel, cari bahasan yang lain dong,” gerutu Chiko.
“Kan kita memang sedang membahas dia dari awal Chik, kamu gimana sih,”
“Iya tapi kan udahan kali, perasan udah selesai dari tadi,”
Melihat wajah kesal Chiko akhirnya dua Wanita itu menghentikan obrolan mereka yang masih membahas Raya, mereka takut nanti Chiko akan berubah moodnya. Selesai semuanya Chiko dan April mengantar Santi sampai kedepan pintu rumahnya, Chiko terus membuat April dan Santi tertawa dengan ocehannya.
Bahkan Santi kena lelucon yang di lempar Chiko, April menggelengkan kepalanya, “Sorry yah San, kayaknya dia kekenyangan dan memang belum minum obat juga,” gurau April yang heran kenapa Chiko bercanda terus kali ini.
“Nggak, nggak masalah Pri, aku suka kok, dan sepertinya memang lagi butuh banget candaan kayak gini,” jawab Santi sambil terus tertawa.
“Nah kan, kamu sih Pril gak peka, aku kan sangat tahu apa yang dibutuhkan wanita,”
“Iya deh tau aku,” sahut malas April, karena Chiko sedang dalam mode sangat percaya diri.
__ADS_1
“San, berarti malam ini dan selanjutnya gak bakal ada yang buat sawah kamu basah dong, kering deh nanti,” ucap Chiko yang langsung membuat April berteriak memanggilnya.