SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
PENYESALAN


__ADS_3

     “Tidak Mas, aku tidak kenal,” jawab Intan yang membuat jantung Raya terasa berhenti sejenak.


     ‘Apa dia bilang tadi, dia tidak mengenalku dan dia panggil lelaki itu dengan sebutan Mas,’ batin Raya.


     Raya tersenyum getir mendengar ucapan Intan barusan, dia lalu mendorong pelan kursi rodanya mendekati Intan yang enggan untuk melihat ke arah Raya. Sampai Raya berada hanya tiga jengkal di depannya, Intan masih buang wajahnya, masih membuang pandangannya ke arah lain. Tatapan pria yang bersama Intan juga membuat Raya muak, pria itu memandang Raya dengan tatapan yang sangat merendahkan.


     “Kamu bilang tidak mengenal aku! Aku rasa kamu bukan tidak mengenal tetapi sudah tidak ingin kenal aku karena keadaan aku saat ini, bukan begitu Tan?”


     Intan masih diam dengan wajah yang tetap mengarah ke arah lain sedangkan pria di sebelahnya terlihat sudah sedikit kesal dengan Raya, dia kembali bertanya pada Intan apa dia mengenalnya namun Intan masih belum mau mengakui jika dirinya memang sangat mengenal Raya yang saat ini tidak berdaya di atas kursi rodanya.


     Pria itu menggandeng tangan Intan dan membawanya pergi, Raya minta Intan agar berhenti namun baik Intan atau pria itu sama sekali tidak mendengarkan keinginan Raya. Mereka terus berjalan bahkan sampai Raya berteriak mereka tetap tidak berhenti.


     “INTAN, AKU TIDAK TERIMA DENGAN SEMUA UCAPAN KAMU DAN UNTUK KAMU PRIA YANG SEDANG BERSAMANYA, KAMU AKAN SAMA DICAMPAKKANNYA SEPERTI SAYA JIKA KAMU SUDAH TIDAK BERDAYA, JIKA SUDAH TIDAK ADA UANGNYA MAKA KAMU AKAN DIBUANG SEPERTI SAMPAH!” Teriak kesal Raya yang coba di tenangkan oleh sopirnya yang memang berada di sana menemani Raya.

__ADS_1


     Raya menghembuskan nafas kasar, wajah kesalnya terus menatap tajam ke arah dimana Intan menghilang. Nafasnya sedikit memburu karen rasa kesalnya, dalam benaknya dia berjanji akan membalas semua perlakuan Intan padanya. Raya diminta untuk kembali kedalam kendaraan dan pulang oleh sang sopir namun Raya masih enggan untuk pulang, dia minta pada supirnya untuk membawa dida ke sebuah taman atau tempat yang akan membuat dirinya merasa tenang.


     Di ruangannya Santi sedikit kepikiran dengan keinginan Raya tadi, Santi merasa jika dia harus mengatakannya pada papa. Santi mendatangi kantor papanya karena kebetulan beliau saat ini berada di kantor, melihat putri tercintanya datang papa menyambut dengan hangat namun melihat wajah Santi yang sedikit murung membuat dia sedikit cemas tentang kabar yang akan disampaikan.


     Papa langsung menolak apa keinginan Raya karena menurut beliau apa yang sudah diberikannya saat ini sudah lebih dari cukup dan papa minta agar Sinta jangan memberikan apapun itu pada Raya karena dia harus menerima lebih dari yang seharusnya. Santi hanya bisa menghela nafas, dia tidak bisa membantah ucapan papanya karena menurut dia itu juga benar.


     “Sudah lah San. Papa tahu kalau masih ada sedikit rasa cinta kamu dengannya, tapi kamu harus ingat kembali bagaimana dia memperlakukan kamu selama ini di belakang dan Papah tidak terima itu sampai kapanpun, singkirkan dulu rasa kasihan padanya,” ucap papa mencoba memperingati Sinta karena beliau tahu jika anaknya bukan orang yang tega untuk melihat orang lain susah.


     “Iya Pah, aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku akan lakukan apa yang Papah bilang sebab menurut aku itu benar semua, aku hanya minta dukungan saja dari Papa juga Mama saat ini,” jawabnya dengan nada suara yang terdengar sedih.


     Sebuah kendaraan yang cukup mewah melipir di sebuah taman pinggir jalan, kendaraan itu parkir di sisi jalan taman dan tidak lama seorang pria yang duduk di kursi kemudi keluar lalu dia mengeluarkan sebuah kursi roda dari belakang kendaraannya. Setelah kursi roda itu terpasang pintu kendaraan terbuka, lalu keluar sosok tampan menggeser perlahan tubuhnya dan sampai di sisi kursi dia sedikit mengangkat kakinya di bantu dengan sang sopir.


      Setelah pria itu duduk pria yang menjadi sopirnya itu hendak mendorong kursi rodanya namun ditolak, dia mengatakan jika dia akan berjalan sendiri dan dia bisa melakukan hal itu. “Apa anda yakin Tuan?”

__ADS_1


     “Iya, aku gak akan jauh-jauh, kalau ada apa-apa aku akan langsung tekan bel atau menghubungimu nanti.”


     “Baik Tuan, saya akan tunggu disini.”


     Pria itu menekan tombol agar kursinya berjalan, dia terus menekannya dan mengarahkan sampai dia sampai di taman yang tidak jauh jaraknya dari tempat dia turun kendaraan. Raya meliht kendaraan yang berlalu lalng di jalan raya, sesekali dia di melihat ke langit untuk menolak air matanya agar tidak turun. Terlihat berkaca-kaca mata tajam itu namun dia tidak mau sampai air matanya itu turun.


     “Tidak, aku tidak boleh menangis, tapi kenapa air mata ini sulit sekali untuk ditahan agar tidak jatuh, ah rese.”


     Wajah Nya di usap beberapa kali, air matanya coba dihilangkan. Raya merasa saat ini dia tidak ingin apapun, dia hanya ingin menangis meratapi nasib yang sudah terlihat di depan matanya. Raya masih sedikit tidak terima keadaannya saat ini, dia lumpuh dan tidak memiliki pekerjaan, uang yang ada sudah pasti akn habis jika dipakai terus menerus dalam jangka waktu yang lama dan dia sangat tahu hal itu.


     “Intan, kenapa aku harus berharap pada wanita itu. Dia wanita panggilan yang sudah pasti yang di inginkan hanya uang dan harta, mana mungkin dia memiliki perasaan padaku, itu hanya kata-kata manis dia saja untuk menjerat semua pria agar uangnya terus keluar, bodohnya aku,” ucap Raya yang merasa sangat bodoh sudah menyukai Intan dan percaya jika dia juga menyukainya.


     Malam itu di taman itu dia menyesali semua yang dilakukannya pada Santi, kebodohannya selama ini yang sudah membohongi wanita sebaik Santi juga keluarganya yang sudah mau menerima dirinya apa apanya dulu. Dia juga menyesali semua yang pernah dilakukan Raya pada April, wanita yang sebenarnya memang sempat dicintainya saat itu bahkan dia sampai tergila-gila dan sedikit melupakan Santi saat itu.

__ADS_1


     Raya menggenggam erat rambut di kepalanya, rasa penyesalan terlihat di wajahnya. Wajah Raya terlihat kusut, dia terus meringis menyesali semua perbuatannya yang lalu. Sesekali dia memegang dan melihat kakinya yang saat ini sudah tidak berfungs dan beberapa detik kemudian tangisnya pecah.


     “Bagaimana nasibku kedepannya ya Tuhan dengan keadaan aku yang seperti ini, Santi sudah tidak mau menerima aku lagi, April sudah sangat membenciku dan sudah memiliki pasangan hidup sedangkan Intan! Wait itu ternyata hanya menginginkan uangku saja ya Tuhan, bagaimana dengan hidupku selanjutnya,” lirih Raya menyayat hati.


__ADS_2