SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
GANGGUAN MANIS


__ADS_3

Kecupan nakal itu terus berlanjut sampai ke leher jenjang April, tubuhnya menggeliat merasakan geli mulai merasuk dan membuat bulu kuduknya berdiri.



Rengekan manja keluar dari bibir April, Raya terus saja melakukan hal yang membuat wanita itu meliuk pelan. April terus mencoba menolak dengan gerakan meronta yang manja, tapi bukannya menjauh dari tubuh April, gerakan April yang seperti itu malah membuat gairah Raya semakin bertambah.



Tangannya mulai membuat tali dress malam itu turun, tautannya semakin dibuat memanas, Raya membuat April selalu kehabisan nafas. Erangan kecil keluar dari bibir indah April, wanita itu sepertinya perlahan sudah mulai menikmati apa yang diberikan pria yang sekarang berada di atasnya itu.



Tiba-tiba ponsel Raya berbunyi, namun Raya mengacuhkannya, dia terus memberikan rasa pada tubuh April. Ponsel itu terus berdering, membuat wanita itu merasa tidak nyaman mendengarnya, April mendorong perlahan tubuh Raya seraya berkata, "Lihatlah dulu, siapa tahu penting!"



Raya mengendus kesal, mau tidak mau akhirnya dia melihat ponselnya saat Raya ingat tentang Arya anaknya, 'Apa dia yang menghubungi?' Batin Raya sambil melangkah meraih benda pipih di atas meja, dan ternyata memang benar itu dari nomor Istrinya.



"Iya," kata Raya tegas karena kesal.



"Ayah, kapan pulang?" Suara anak kecil yang terdengar, ternyata Arya masih belum tidur karena menunggu dirinya, Raya menghembuskan nafas panjang saat mendengar suara itu.



"Iya sayang, setengah jam lagi Ayah sampai dirumah, Kamu tunggu yah," jawab Raya.



"Iya Ayah, Arya tunggu Ayah, cepat yah," sahut lucu anak itu dengan suara khas anak kecil yang imut.



Sambungan telepon itu dimatikan, April mendengar semua percakapan tersebut. "Arya yah?" "Iya," "Dia sakit?" "Iya," jawab singkat kembali Raya yang kali ini meraih celana nya untuk kemudian dipakai.



April hanya melihat Raya mengenakan semua pakaiannya dalam diam, dia duduk diatas kasur itu masih dengan dress yang masih belum dirapikan, hingga Raya bisa melihat dua gunung besarnya yang mengintip di balik kain penutup tipisnya.



Setelah rapi Raya menghampiri April, dia memberikan kecupan singkat di pucuk kepalanya lalu duduk didepan April. "Aku pulang dulu yah," ucap Raya dengan nada kecewa, karena dia harus berpisah dari April juga harus menahan hasratnya.



April membelai lembut pipi Raya seraya berkata, "Iya, pulang saja, aku numpang tidur disini yah," tangan itu di kecupnya, tanpa menjawab Raya menepis jarak mereka untuk memberikan \*\*\*\*\*\*\* di bibir wanita itu.



Seolah masih belum ingin meninggalkan April, Raya kembali membuat tautan yang sedikit panas kembali, "Ray sudah, anak kamu menunggu," kata April sambil mendorong pelan tubuhnya.



"Sebentar sayang, aku mau ini," sahut Raya lalu wajahnya langsung menyusup diantara dua benda kenyal milik April, dia seperti seorang bayi disana, membuat April merasa tubuhnya sedikit berhasrat, namun dia teringat sekilas akan anaknya Raya yang sudah menunggu Ayahnya.


__ADS_1


April kali ini mondorong kuat tubuh Raya hingga sedikit bergeser, "Pulang sekarang," usir April.



"Pril, sebentar lagi …," rengeknya.



"Gak akan sebentar kalau kamu sudah menyentuh tubuhku Ray, pergilah," kembali ucap April.



Raya menghela nafas kasar, kemudian dia balikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan April. Dengan langkah cepat dan keras Raya melangkah, April tau jika Raya marah, tapi mau bagaimana lagi, April berpikir jika anak yang lebih penting dari hanya ingin mengeluarkan hasrat pria itu.



Setelah Raya pergi April menghela nafas panjang, dia merasa lega akhirnya Raya pergi. Karena dia malas untuk melayani nafsu Raya saat ini, dia senang melihat Raya yang tidak ingin lepas darinya, "Mungkin kalau tidak ada Arya, walaupun Istrinya sakit dia tidak akan pulang."



April melempar tubuhnya sambil merentangkan tangan, saat matanya tertutup bayangan Chiko lewat di pelupuk matanya, pria tampan juga mapan yang menjadi kekasihnya.



"Dimana dia sekarang, apa dia sedang menikmati malam dengan para selirnya itu?" Pikir April. Selir, itu yang selalu dia katakan pada para wanita yang selalu menemani malam Chiko saat dia ingin melepaskan hasratnya, itu yang selama ini April tau.



April tidak mengetahui perasaan Chiko karena dia menutup rapat tentang hal itu, April juga tidak menyadari jika semua itu adalah karena dirinya.



Lama April mencoba untuk terlelap, namun matanya hanya bisa terpejam sebentar tanpa membuatnya tertidur, karena pikirannya terus melayang pada sosok Chiko sang donjuan pilihan hatinya.




"Emm," sahut malas seseorang diujung telepon.



"Kamu sudah tidur Chik?"



"Emm," jawabnya lagi.



"Yang bener kamu, sedang tidak bercanda kan!" Seru tidak percayanya April, membuat Chiko akhirnya terpaksa membuka mata.



"Hei wanita, Kamu pikir ini jam berapa hah! Sudah tidur lah aku," ucapnya sedikit ketus karena April mengganggunya.



"Yah memang sudah larut sih, tapi aku pikir kamu sedang berada diluar gitu menghabiskan malam dengan teman kamu yang gak guna itu, atau kamu sedang menikmati malam dengan para selir kamu gitu," ujarnya dengan bicara seperti Chiko berada di hadapannya.

__ADS_1



"Itu semua sudah aku lakukan tadi, kecuali yang terakhir,"



"Wah-wah, ada apa dengan donjuan ku ini, sedang malas atau sedang lelah?" Ejeknya.



"Pril, kalau kamu menghubungi aku cuma ingin ganggu kamu berhasil, karena saat ini mataku sudah terbuka penuh serta aku kesal karena kamu saat ini karena kamu juga, tapi jangan mengejek juga dong, mau aku jitaknya jauh," ujar Chiko panjang dan hanya dijawab tertawa geli oleh April.



"Sorry yah, soalnya aku gak bisa tidur nih,"



"Terus gangguin aku biar bisa temani kamu gitu, dasar," ketus Chiko yang kembali membuat April tertawa, "Memangnya kamu dimana?" Kata Chiko selanjutnya.



"Aku di apartemen Raya."



Kemudian April menceritakan apa yang terjadi sebelum itu, sebelum dia ditinggalkan oleh Raya. April juga menceritakan kalau dia senang dengan kepergian Raya, karena saat ini dia hanya ingin bertemu tidak yang lain.



Saat Chiko mendengar hal itu timbul pikiran jahilnya, Chiko kembali meledek April kalau apa yang diucapkannya itu bohong, padahal wanita itu sedih karena ditinggal dan harus menahan hasratnya.



Ungkapan Chiko itu langsung di sela April, karena itu semua tidak benar menurutnya, sedikit perdebatan seru terjadi yang pada akhirnya membuat mereka tertawa. Chiko menanyakan alamat apartemen Raya, dengan senang hati April memberikannya.



"Kamu mau susul aku disini?"



"Lihat nanti,"



"Sini lah, aku gak bisa tidur nih, besok kita ada meeting loh,"



"Terus kalau aku kesana aku ngapain?"



"Usap-usap aku biar tidur," ucapnya seperti anak kecil.



"Gak mau, aku maunya main," tukas Chiko yang dijawab cepat oleh April, "Aku bukan selirmu,"

__ADS_1



"Tapi kamu ratuku, jadi malam ini raja mau dilayani oleh ratu, dan saat ini raja langsung meluncur ke istana ratu, dan raja berharap ratu mempersiapkan diri dengan baik," ujar Chiko yang membuat April kembali tertawa.


__ADS_2