
“Nomor siapa ini, seperti nomor rumah atau kantor!”
Sinta sedikit ragu untuk menjawab panggilan telepon itu, dia takut jika itu dari seseorang yang iseng padanya. Tetapi setelah di pikir-pikir selama ini dia belum pernah menerima ada orang iseng yang mengganggunya, akhirnya Sinta menjawab panggilan itu.
Beberapa saat setelah dia bicara juga seperti menjawab beberapa pertanyaan dari seseorang yang ada di ujung telepon, perlahan ata indahnya membesar, matanya mulai berkaca-kaca dan tangannya yang memegang benda pipih sedikit terlihat bergetar.
Sinta tidak bisa menahan emosinya lagi, setelah telepon itu tertutup Sinta menangis sejadi-jadinya sampai membuat kedua orang tuanya terbangun mendengar tangisannya yang cukup keras. Kedua orang tuanya berlari saat melihat Sinta yang sedang duduk lemas di kamar sambil menangis pilu.
“Bicara sayang ada apa, jangan buat kami cemas,” beberapa kali mamanya mencoba agar Sinta bicara mengatakan ada apa sampai dia menangis seperti itu.
Sinta melihat pilu pada sang Mamah, dia lalu memeluk sambil menyebut nama Raya beberapa kali. Papa bertanya ada apa dengan Raya dan dengan isakan yang tidak henti dan suara sesegukan Sinta mengatakan jika Raya mengalami kecelakaan.
Papa langsung melihat ponsel Sinta untuk melihat panggilan terakhir dari telepon selulernya, kemudian Papa menghubungi nomor itu balik. Dari sana papa tau dimana rumah sakit tempat Raya di rawat saat ini, papa langsung izin untuk pergi kerumah sakit itu melihat keadan Raya.
“Aku ikut Pah,” sertu Sinta saat papanya balik badan.
“Tidak, kamu tetap disini, biar Papa yang urus semuanya dulu, nanti setelah semuanya terurus dan kamu sudah bisa tenang baru kamu susul Papa kesana,” jawab Papa namun Sinta bersikeras untuk pergi ke rumah sakit melihat keadaan Raya.
“Ya sudah biarkan Pah, Mamah juga ikut deh untuk jaga Sinta,” ucap mama yang akhirnya papa menyetujuinya.
Sebelum pergi Sinta minta pada pelayan disana agar membantu Arya menyiapkan diri ke sekolah nanti dan bilang jika mereka ke rumah sakit sebentar. Setelah itu mereka baru pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Raya, dalam perjalanan Sinta berusaha keras menahan sedihnya, menahan air matanya juga berusaha untuk tenang.
Sinta sempat membuat status di ponselnya dan April melihat itu kala dia baru saja bangun dari tidur setelah lelah bergelut semalaman dengan Chiko. Malam itu seperti biasanya Chiko selalu membuat dia lemas dan puas, membuat dia malas untuk bangun pagi jika tidak ingat kalau masih ada tugas yang harus dikerjakannya.
__ADS_1
“Ada apa dengan Sinta, apa maksudnya mengenai ucapan dia semalam atau hal lain,” kata April dengan sedikit berpikir.
Chiko perlahan membuka mata, samar dia melihat wajah wanitanya yang sedang berpikir lalu dengan jahilnya dia dengan cepat meraih pinggang April dan membuatnya jatuh terbaring.
“Ah, Chiko!” Teriak April cukup keras karena terkejut.
“Kamu mikirin apa sih?”
“Aku baru saja liat status Sinta dan sepertinya ada sesuatu deh sama dia,” ucap April yang terkurung dalam dekapan Chiko.
“Mungkin masalah semalam sayang,” sahutnya dengan suara yang berat khas bangun tidur dan malas.
“Aku juga berpikir seperti itu tadi, tapi kok perasaan aku bukan deh, apa aku hubungi saja dia yah Chik,” ucapnya gamang.
“Jangan mulai deh,” sahutnya kesal, “aku hubungi dia aja deh, aku khawatir nih, perasaan aku gak enak Chik,” timpalnya yang tidak direspon oleh Chiko.
Pria itu menenggelamkan wajahnya di bawah tubuh April dengan tangan yang membuat April tidak bisa bergerak. April lalu menghubungi Sinta yang saat itu masih berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Saat mendengar sambungan telepon itu April sudah bisa menebak jika saat ini SInta sedang tidak baik-baik saja, di mendengar isakan di ujung telepon.
Sontak hal itu embuat April cemas dan langsung membuat telepon itu di loudspeaker agar Chiko bisa mendengarnya juga. Sinta mengatakan jika saat ini dia sedang jalan menuju rumah sakit karena dia dapat telepon dari sana bahwa Raya mengalami kecelakaan.
Setelah dapat kabar dari Sinta, sesegera mungkin dua sejoli itu langsung menyusul Sinta kerumah sakit. Mau bagaimana pun mereka juga kenal dengan Raya dan mereka khawatir dengan keadaan Sinta yang memang saat ini sedang terguncang ditambah dengan kejadian ini.
Sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruang UGD, disana terlihat Raya yang tergeletak tidak berdaya dengan banyak alat bantu. Kepalanya di perban, lehernya dibantu alat penyangga dan wajahnya penuh dengan memar.
__ADS_1
Baik Sinta juga kedua orang tuanya tidak tega melihat keadaan Raya yang seperti itu, bagaianapun juga Raya masih suami dari anaknya walaupun saat ini keadaan rumah tangga mereka sedang tidak baik.
Saat ini beda cerita karena rasa kemanusiaan yang tidak mungkin mereka meninggalkan Raya yang sudah diketahui hanya hidup sendiri di dunia. Sinta dan keluarganya bukan orang-orang yang seperti itu, dokter datang tidak lama setelah mereka ada di ruangan itu.
Sinta juga papanya langsung bertanya bagaimana keadaan Raya saat ini dan ternyata kondisi Raya cukup memprihatinkan. Raya dinyatakan koma karena benturan yang cukup keras dikepalanya dan menyebabkan dinding pembuluh darah bagian otak pecah.
“Lalu apa bisa sembuh Dok?”
“Kemungkinan selalu ada, kami mungkin bisa memeriksa kondisinya lagi nanti setelah beliau sadar dari masa koma nya,” jawab dokter yang menangani Raya.
“Baik Dok, tolong usahakan yang terbaik untuk Raya,” pinta Sinta dengan wajah yang seperti memohon.
“Kami usahakan Bu, sama seperti yang lain,” balas dokter itu.
Setelah dokter itu pamit datang tiga orang dari kepolisian berbarengan dengan datangnya Apri juga Chiko yang hanya berjarak sekitar sepuluh langkah, Aprill dan Chiko bisa melihat ada petugas yang datang menghampiri Sinta dan kedua orang tuanya.
Wajar menurut Chiko karena kejadiannya adalah kecelakaan di jalan raya, mereka seperti memberikan beberapa pertanyaan pada Sinta juga pada kedua orang tuanya.
“Apa Anda mengenal wanita yang sedang bersama Tuan Raya, Nyonya?” tanya pak polisi itu yang membuat jantung Sinta seakan berhenti dan kedua orang tuanya saling bertatapan.
April dan Chiko juga terkejut saat mendengar pertanyaan itu dan disana Chiko langsung memecah keheningan sesaat dengan mengajukan pertanyaan balik, “Maaf Pak, maksud Anda itu Raya saat kecelakaan terjadi sedang bersama wanita?”
“Iya betul Pak, ada seorang wanita yang duduk di sebelahnya saat kecelakaan itu,” jawab polisi tersebut dan semakin membuat Sinta tidak ingin mengeluarkan suara.
__ADS_1
“Lalu saat ini dimana wanita yang bersamanya, saya ingin melihat siapa tau saya mengenalnya karena saya teman baik Raya,” ucap Chiko sementara April langsung mendekati Sinta dan memeluknya untuk memberikan dia dukungan penuh.