SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
KECEWA


__ADS_3

     “Apa kamu tetap akan melanjutkan gugatan kamu Sin?” tanya Raya balik yang membuat semua wanita itu sedikit terkejut.


     Sinta mengalihkan pandangannya sejenak dan menelan saliva perlahan dan pelan, April izin keluar karena dia merasa jika obrolan mereka sudah bukan kapasitasnya. Sampai April menutup pintu Sinta masih belum menjawab pertanyaan Raya, dia malah minta agar Raya tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu. Yang terpenting saat ini Sinta mau kondisi Raya terus membaik agar dia bisa cepat pulang.


     Sinta mencoba untuk mengalihkan obrolan mereka ke hal lain, Sinta mengalihkan pada Arya anak mereka yang sangat ingin menemui Raya dan dia berjanji jika Sinta akan menghubunginya melalui panggilan video setelah bertemu dengan Raya.


     “Apa bisa aku melakukan panggilan sekarang pada Arya, aku takut jika dia terus menunggu,” ucap Sinta.


     Wajah Raya terlihat tidak terlalu senang, Sinta kecewa melihat ekspresi Raya yang sepertinya enggan menghubungi Arya. Sinta bertanya kembali karena Raya tidak menjawab, Raya menghela nafas kasar yang sepertinya sangat terpaksa menghubungi Arya.


     ‘Padahal anaknya kangen banget sama kamu Mas, tapi kenapa kamu seperti tidak kangen sama sekali dengannya,’ batin Sinta.


     Selama mengobrol dengan Arya terlihat wajah tidak senangnya Raya, senyumnya sangat jelas dipaksakan. Berbeda dengan Arya yang sangat senang melihat papanya, dia sangat antusias banyak tanya ingin mengetahui kondisi kesehatan Raya bahkan Arya mengatakan jika dia sangat ingin bertemu dengan papanya.


     Tidak lama mereka berbincang karena Raya terlihat sangat tidak nyaman, Arya terlihat kecewa dan Sinta bisa melihat itu. Bukan hanya Arya yang kecewa tetapi Sinta juga. Dia tidak sangka jika Raya bisa bersikap seperti itu, Santi berharap jika Raya bisa jaga sikap, dia berharap Raya bisa jaga perasaan anaknya.


     ‘Mas Raya kenapa bersikap seperti itu pada Arya.’


     Sinta tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Raya, tanpa berkata dia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Raya. Raya menghentikan langkah Sinta dengan bertanya mau kemana dia, Sinta hanya menjawab semaunya.


     “Bilang aja ada apa. kamu gak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang kamu tidak suka,” ucap Raya yang tau bagaimana istrinya.

__ADS_1


     Hembusan nafas panjang terdengar dari Sinta, dia tahu jika dia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Raya karena dia tahu Raya sangat mengenal dirinya begitu pula sebaliknya. “Iya, ada yg aku tidak suka dari kamu memang Mas,” jawabnya, “aku tidak suka dengan kamu saat bicara dengan Arya, juga dengan mimik wajah kamu yang tidak bisa kamu kondisikan sama sekali.”


     “Emm, jadi karena itu kamu bersikap,” balas Raya yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.


     Sinta tidak menjawab, dia keluar tanpa berkata apa-apa lagi pada Raya. Dia merasa tidak enak juga dengan April yang saat ini berada di luar karena takut jika dia menunggu terlalu lama. Sinta tidak menemukan April di depan ruangan Raya, lalu Santi menghubungi April menanyakan keberadaannya dan ternyata dia sudah pergi.


     April pergi namun dia sudah mengirim pesan singkat pada Sinta namun Sinta belum sempat melihatnya. Semakin tidak nyaman dia berada di sana dengan Raya berdua karena sikap Raya yang tadi pada Arya. “Tapi gak ada pilihan lain, ku harus kembali ke dalam karena kasihan juga kalau Mas Raya sendiri disana.”


     Sinta kembali dan dia hanya duduk di kursi lalu menyibukkan diri dengan ponselnya agar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Raya. Terdengar gumam dari Raya yang memberi kode pada Sinta namun sama sekali tidak digubris oleh wanita itu, sampai akhirnya Raya kembali bertanya mengenai gugatan cerai yang akan dilakukan Sinta adanya.


     Sinta menutup ponselnya, lalu diletakkan didalam tas kecil. Kemudian ia menatap juga mendekati Raya seraya menanyakan apa benar dia akan membicarakannya saat ini dan Raya menjawab dengan cepat juga pasti dengan anggukan kepala juga ucapan iya.


     “Aku merasa kalau aku tidak akan membaik San, aku akan tetap lumpuh mau bagaimanapun,” jawab Raya yang terlihat sudah putus asa.


     “Apa sebegitu inginnya kamu pisah dengan aku Mas juga berpisah dengan Arya anak kamu,” balas Sinta.


     Raya tersenyum kecut mendengar balasan Sinta, “Bukan, aku malah tidak ingin pisah dengan kalian.”


     Sinta tersenyum, “Apa hal itu baru terpikirkan olehmu setelah kejadian ini, setelah kamu lumpuh dan merasa tidak bisa melakukan apapun kedepannya!”


     “Jawabannya jujur atau bohong?”

__ADS_1


     “Aku mau yang sebenarnya sudah tentu.”


     Raya mengatakan setelah kejadian itu tidak mungkin Santi akan memaafkannya karena dia sadar jika dirinya memang sudah banyak menyakiti Sinta, dalam benaknya kala itu dia sangat yakin jika Intan menyukainya dan akan menerima dirinya. Raya berkata pada Sinta jika dia sudah ingin menyakiti Santi lagi tetapi dia masih ingin menjadi ayah bagi Arya.


     ‘Sepertinya dia sudah bisa menerima keadaannya saat ini,” batin Santi.


     “Aku akan menggugat kamu setelah kamu sudah keluar dari rumah sakit ini, setelah kondisimu membaik dan bisa menjalani persidangan,” ujar Santi.


     Perbincangan itu membuat hubungan mereka menjadi sedikit jauh, dokter datang beberapa saat setelah mereka bicara. Kondisi Raya sudah semakin membaik saat ini, hanya tinggal pemulihan saja kurang lebih tiga hari. Jika keadaan Raya tenang, emosinya stabil juga kondisi tubuhnya terus membaik maka dia akan cepat pulang.


     Merasa jika semuanya sudah baik-baik saja dan Raya sepertinya sudah bisa melakukan apapun sendiri, Santi pamit namun sebelum dia pergi Santi mengambil sesuatu dari tas kecil yang dibawanya. Sebuah ponsel berwarna hitam dan saat melihat benda pipih itu Raya langsung bisa mengenali benda tersebut.


     Sinta memberikan benda pipih tersebut yang memang adalah ponsel miliknya yang sudah selesai direvisi. Wajah Raya sangat sumringah melihat benda yang diberikan Santi padanya, dia menerima ponsel itu sambil mengucap kata terima kasih. Setelah Sinta pergi Raya langsung mengaktifkan ponselnya, bukan nama  Arya anaknya atau nama sinta juga pekerjaan yang dicarinya pertama kali namun nama Intan yang dicari.


     Tidak menunggu waktu lama, Raya langsung coba menghubungi Intan. Nada suara ponselnya berdering, baru mendengar suara dari ponsel yang masih aktif aja Raya terlihat sudah sangat senang. Dia menunggu dengan sabar sampai sambungan telepon itu dijawab oleh Intan, nada dering yang didengar terasa merdu kali ini. Jantungnya entah kenapa berdebar dan merasa tidak sabar untuk mendengar suara Intan.


     “Kenapa jantungku berdebar dan merasa sangat tidak sabar mendengar suara manjanya Intan yah,” ucapnya sambil tersenyum dan membayangkan bagaimana manja Intan pada dirinya.


     Telepon tersambung dan wajah Raya langsung terlihat sumringah, lalu terdengar suara seorang wanita yang dikenalnya.


     “Iya hallo.”

__ADS_1


__ADS_2