
"Ayolah Pril, disini kan bukan hanya ada kamar, please dibuka pikirannya," ujar Raya mencoba berdalih.
April mengatakan jika dia tidak ingin berada di tempat itu, walaupun itu hanya sekedar untuk berbincang, namun Raya berkilah jika sudah tanggung saat ini mereka berada di tempat itu, untuk apa harus mencari tempat yang lain.
Di depan lobby Hotel Raya menghentikan kendaraan, iya lalu minta April untuk turun, namun wanita itu tidak ingin mengikuti kemauannya. Raya terus merayu wanita itu agar mau ikut bersamanya, bahkan dia mengatakan jika April saat ini seperti anak kecil.
"Apa aku harus menggendong kamu agar mau masuk!" Ancamnya.
April menelan salivanya saat Raya mengancam dengan kata-kata itu, walaupun April bisa bersikap ketus dan sedikit jahat namun saat Raya marah dia tidak akan berani untuk membuatnya semakin marah. April terus melihat Raya yang membuka pintu lalu berputar untuk membukakan pintunya agar April keluar.
Selama Raya berjalan menuju pintu sampingnya ada perasaan takut yang dirasakan April, dia berharap jika kendaraan yang tadi dilihatnya itu benar adalah milik Chiko dan dia akan datang untuk menolongnya.
Namun dalam sekejap pikirannya berubah, dia berpikir untuk apa dia takut pada Raya sementara yang sangat mencintainya itu adalah Raya bukan dirinya. Jadi mau bagaimanapun Raya pasti bisa dikendalikan olehnya, April menghirup nafas panjang yang mempersiapkan diri sampai akhirnya hari Raya membuka pintu itu dan meraih tangannya untuk keluar.
Chiko kehilangan jejak, saat mobil Raya masuk ke lingkungan perhotelan tiba-tiba Papa menghubungi dirinya, mau tidak mau dia menjawab sambungan telepon itu yang pada akhirnya Chiko kehilangan jejak dari mobil Raya yang membawa April entah ke mana.
Chiko menanyakan kepada Sabrina kemana kendaraan itu pergi, namun sayang Sabrina juga tidak memperhatikannya karena saat Chiko menerima telepon dari Ayah dia juga mendapat telepon dari sang kakak yang berada di luar negeri.
"Akh, sial!" Teriak Chiko sambil memukul stir mobilnya.
"Hello! Sabar Mas Bro, kita akan cari terus, kamu gak buat ponselnya pakai GPS Chik!"
"Iya Yah, kenapa gak kepikiran sama aku," ucapnya sambil mengusap-usap dagu.
"Tolong," seru Chiko sambil memberikan ponselnya pada Sabrina, "Kamu buka yah," timpalnya setelah ponsel itu berada di tangan Sabrina.
__ADS_1
Wanita itu langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Chiko. April meraih tangan Raya dan ikut bersamanya, Raya menatapnya, ada bara dalam tatapan Raya kali ini. 'Malam ini aku akan membuat kamu kembali dalam dekapanku.' Batinnya.
April terus membuat tenang dirinya, dia sudah membuat sedikit janji dalam dirinya, dia akan membuat batasan dengan Raya seperti yang selama ini sudah dia lakukan, dan dia terus berharap jika hal itu masih terus dia jaga.
Raya booking untuk satu malam, selama Raya mengurus administrasi, April membuka layar ponselnya, tidak ada chat atau telepon dari Chiko, 'Apa tadi bukan Chiko, Apa dia masih asyik ngobrol sama Sabrina.' Batinnya, lalu dia kembali masukkan benda pipih itu ke dalam tas kecil yang dibawanya.
"Ayo!" Ajak Raya saat dia sudah menyelesaikan semua urusannya, April menghela nafas sebelum akhirnya dia ikut dengan pria itu.
Selama perjalanan menuju kamar mereka seperti orang asing, hal itu membuat Raya merasa tidak nyaman, "Kamu sudah benar-benar melupakan selingkuhan mu ini yah," sindirnya.
Sedikit senyum terlihat di bibir April saat mendengar itu, "Mungkin, karena aku sudah merasa tidak ada yang bisa aku dapatkan dari kamu," tandasnya yang membuat Raya langsung menghentikan langkahnya, dan membuat mereka saling berhadapan.
"Tidak ada! Pril, kamu yang mulai menjauhiku, kamu sendiri yang tidak ingin terikat denganku, apa karena kamu kecewa,"
"Tapi kan aku sudah bilang, kamu bisa minta apapun, aku akan berikan semua untuk kamu, asalkan kamu tetap menerima aku terus berada disisimu,"
Dengan senyum tipis April menghela nafas pendek, "Not all can you given to me," ucapnya lalu menyingkirkan tangan Raya yang membuat geraknya terhenti.
April melangkah mendahului Raya mencari nomor kamar yang sudah dipesan oleh pria tersebut, Raya berjalan cepat menyusul langkah April yang sudah mendahuluinya dia terus memberi pengertian agar wanita itu mau menerimanya kembali.
Sementara itu Sabrina memberitahu bila saat ini April berada di sebuah hotel yang yang sangat dekat dari jarak mereka, Chiko pun langsung melihat layar ponselnya selalu mengikuti kemana arah itu itu tertuju.
April dan Raya memasuki satu kamar yang cukup besar, saat April baru saja berjalan sekitar lima langkah dia sudah melihat kamar itu sengaja didesain sangat romantis, melihat hal itu dia langsung balik badan dan menatap Raya seolah bertanya apa maksud dari semua ini.
Seakan mengerti apa maksud dari tatapan April, Raya menghampirinya lalu berkata jika hal itu sengaja dilakukan agar tercipta suasana yang romantis saat mereka berdua, agar terbangun kembali rasa yang dulu pernah tercipta.
__ADS_1
April memelas malas, sambil melangkah ingin keluar dari ruangan itu dia berkata, "Aku malas dengan hal seperti ini,"
"Tunggu Pril, kenapa! Ini aku buat untuk membahagiakan kamu, agar kamu teringat kembali masa indah kita," ujar Raya sambil meraih pergelangan tangan April.
April membalikan tubuhnya, lalu dia menatap Raya, dia mengatakan apa apa benar yang diucapkan nya barusan, bahwa dia ingin membuat April bahagia, Raya pun langsung menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia memang menginginkan wanita yang ada di depannya itu bahagia.
Senyum tipis terlihat di wajah itu dan perlahan apel mendekat yang langsung disambut oleh Raya, pinggang ramping itu diraihnya agar mereka bisa semakin dekat Raya berhasil memberikan kecupan singkat di bibir April. Kecupan itu itu membuat sedikit rasa senang di wajah Raya dan itu sangat terlihat jelas oleh wanita yang saat ini menjadi di satu-satunya di dalam otak pria tersebut.
Raya kembali memberikan sentuhan di bibir itu, sentuhan yang berawal lembut dan membuat kembali April sedikit terbuai. Perlahan mereka saling bertautan, rasa yang pernah hilang kini perlahan muncul di permukaan.
Raya merasa hasratnya perlahan naik, saat Raya sedang menikmati permainan lembut itu, April melepaskan tautannya, terlihat sedikit rasa kecewa diwajah Raya. Apalagi saat perlahan wanita itu mendorong tubuhnya pelan, dan sedikit menjauh.
"Aku mau pulang, sudah malam," ucap April yang langsung membuat Raya melangkah cepat kearahnya lalu menarik tubuhnya tiba-tiba, hingga membuat tubuh yang berdiri santai itu hilang keseimbangan dan terjatuh dalam dekapan Raya.
Dengan cepat Raya mengunci tubuh itu dalam dekapannya, "Lepaskan aku Ray, aku harus pulang, kamu juga kan!" Seru April.
"Tapi malam ini aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, sesuatu yang akan membuat kamu kembali padaku," jawabnya.
"Apa?"
Wajahnya didekatkan ke telinga April, lalu berbisik, "Kepuasan."
Mendengar itu April langsung jauhkan wajahnya, "Sudah lah Ray, aku tidak butuh itu," ucapnya sambil mendorong kembali tubuh kekar Raya.
"Hei kenapa," seru Raya dengan tatapan tajam, "Apa kamu sudah berani main dengan kekasihmu itu, Apa dia sudah menyentuh tubuhmu dan memberikanmu kepuasan!" Ucapnya lagi dengan nada sedikit tingga dan rasa cemburu terlihat jelas dimata Raya.
__ADS_1