
Santi bergegas berdiri cantik menyambut kedatangan Raya, senyum terbaiknya di pasangnya di wajah.
Sambil menunggu Pintu itu terbuka dengan jantung yang sedikit berdebar, saat melihat bayangan itu perlahan masuk detak jantungnya semakin kencang. Raya masuk dengan wajah yang terlihat lelah, matanya sedikit melebar saat langkahnya terus masuk dan melihat suasana kamar yang diciptakan oleh Santi.
Raya semakin dibuat heran saat dia melihat sang istri berdiri dengan pakaian yang sangat menggoda juga senyuman yang seolah ingin menarik perhatiannya. Perlahan Santi mendekat masih dengan senyum manis terpasang di wajahnya, sapaan hangat dan ramah pun diucapkan Santi untuk sang suami.
"Selamat malam Mas, kamu sangat lelah ya," sapa hangat Santi sambil meraih tas yang dibawa Raya.
"Kamu yang menyiapkan semua ini?" Tanya Raya dengan wajah lelahnya.
"Iya," jawab Santi yang langsung meletakkan tas itu di tempatnya dan Raya kembali melangkah lalu duduk disisi tempat tidur sambil mengendurkan dasinya.
Santi mendekati Raya, lalu berdiri di hadapannya. Dia membantu tangan Raya yang sedang mengendurkan dasi, "Aku harap kamu suka, dan aku harap ini bisa membuat rasa lelahmu berkurang," ucapnya, yang entah sengaja atau tidak, tapi dengan dia berdiri disana semakin jelas terlihat tubuh setengah polosnya itu.
Mata Raya tidak bisa lepas dari tubuh Santi yang mengintip dari balik kain menutupnya itu, membuat dua mata lelah Raya sedikit terbuka karenanya.
Santi memang sudah melahirkan satu anak, namun kemolekan tubuhnya serta kekenyalan kulitnya ya masih sama seperti saat dia belum memiliki seorang anak. Wanita itu terus menjaga tubuhnya agar terlihat seperti gadis, bahkan Raya pun memuji penampilan fisik Santi itu.
Bukan cuma sekedar seksi tapi juga tubuh Santi sangat bugar dan sehat, dia terus menjaga kebugaran tubuhnya dengan rajin berolahraga dan mengkonsumsi makan makanan yang sehat. Hal itu juga yang diberikannya kepada Arya anaknya, juga menyarankannya pada Raya.
__ADS_1
Raya meraih pinggang Santi, hingga dia oleng dan melepaskan dasi dari tangannya serta berpegangan pada baju Raya agar dia tidak terjatuh, "Kamu sengaja yah buat aku tergoda?" Tanya Raya dengan sedikit mengangkat wajahnya melihat Santi.
Senyum diberikan Santi sebagai awal jawabannya, lalu tubuhnya dibuat turun dan berjongkok, "Iya sayang, aku sengaja, kamu mandi dulu yah," ujarnya sangat manis.
"Kalau aku malas mandi bagaimana?"
"Aku sudah siapkan air hangat di bathtub, mau aku temani?"
Senyum sumringah langsung terpancar di wajah Raya, walaupun saat ini dia merasa sangat lelah tapi mendapat tawaran yang sangat menarik tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Apalagi saat ini dia sedang merasa sangat galau, dan memang sudah beberapa hari dia juga belum mengganti oli nya, dia juga belum memberikan nafkah batin pada Santi, Karena rasa galau yang dimilikinya akibat wanita lain sehingga melupakan Santi sang istri.
Raya langsung beranjak dari duduknya, sambil tersenyum manis dia menarik lengan Santi dan membawanya menuju kamar mandi. Disana Raya ya minta agar Santi membantunya, Santi tidak menjawab, dia hanya memberikan senyuman terbaiknya pada Raya. Lalu dia mendekat dan membuka satu persatu kancing kemeja sang suami, Raya menatapnya dan diam membiarkan Santi melakukan tugasnya.
Sentuhan tangan Santi membuat ada desiran yang menjalar ke seluruh tubuh Raya, dan desiran itu membuat sedikit bulu kuduk Raya terbangun. Raya minta Santi untuk mandi bersamanya namun dia menolak, tapi seperti anak kecil Raya merengek dan memaksa Santi untuk masuk ke dalam bathtub dan mandi bersamanya.
Dengan menghela nafas terlebih dahulu akhirnya Santi mengikuti kemauan sang suami, malam dingin itu dibuat sedikit panas. Sentuhan-sentuhan Santi yang terus menyusuri setiap lekuk tubuh Raya membuat mereka akhirnya melakukan pemanasan pada tubuh mereka.
Setelah sedikit pemanasan dalam air hanya, mereka melanjutkannya di bawah tetesan air yang keluar dari lubang shower, sensasi yang berbeda pun kembali mereka dapatkan. Desah pendek terus keluar dari bibir Santi saat Raya bermain nakal, semua sentuhan Raya membuat tubuh Santi menggeliat.
Semakin lama darah dalam diri mereka semakin bergejolak, membuat dinginnya air dan suasana sembab di dalam kamar mandi itu tidak terasa, yang ada saat ini malah tubuh mereka yang terasa terbakar, terbakar gairah yang semakin lama terus menanjak menuju puncak.
__ADS_1
Raya lalu menggendong tubuh polos dan basah Santi ke luar dari kamar mandi, lalu merebahkannya di atas tempat tidur, mereka tidak menghiraukan tubuh basah mereka membuat sprei serta kasur itu juga menjadi basah.
Mereka hanya hanya peduli dengan rasa mereka saat ini, di atas kasur empuk itu Raya mulai bergerak lincah, setelah tubuh mereka kembali panas dan deru nafas saling berkejaran.
Malam itu Raya melakukan tugasnya sebagai seorang Suami, setelah untuk beberapa saat dia melupakan kewajibannya itu, Raya juga melampiaskan rasa kesalnya pada Santi malam itu, dengan cara mengeluarkan semua rasa pada Santi.
Kekesalannya pada April dikeluarkannya melalui hasrat, sebuah rasa yang disalurkan pada Santi sang Istri. Raya ingin melupakan rasa yang ada sebelum dia pulang dan bertemu dengan Santi, namun tetap saja, selama permainan itu wajah cantik April terus berada dan menggoda dirinya, walau saat ini dia sedang berada dengan Istri sahnya.
Raya ingin membohongi dirinya, dia berharap malam ini April tidak ada dalam pikirannya, namun usaha dia percuma, saat dia melihat wajah Santi tidak lama wajah itu berubah menjadi bayangan April, wanita yang sudah membuat dirinya tidak tenang malam ini. karena ulahnya itu.
Setelah melampiaskan hasratnya Raya melempar tubuh lelahnya, mereka diam dengan nafas yang masih sangat memburu, mereka diam untuk mengatur nafas. Mata terpejam, aroma yang keluar dari lilin-lilin kecil itu membuat rasa lelah mereka menjadi nikmat.
Merasa tidak ada pergerakan, Santi membuka mata, dia melihat wajah lelah serta tubuh Raya terlentang, tergeletak tak berdaya. Senyumnya terlihat, dia merasa senang setelah melakukan malam hangat bersama suaminya tercinta.
"Sepertinya aku berhasil, semoga esok dia bisa kembali terlihat baik-baik saja," ucap Santi.
Tubuh polos itu diselimuti, satu kecupan singkat diberikan Santi pada Raya yang sudah terlelap, "Lelah bangat ya Mas, maaf yah," ucapnya dengan senyum sambil kembali memberikan kecupan sayang.
Malam itu Santi sudah melakukan kewajibannya sebagai Istri, dia juga sudah membuat Raya lupa akan kegalauan diri pria itu pada wanitanya yang lain.
__ADS_1