SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
TENTANG RASA


__ADS_3

"Kamu merasa aman, si Raya yang kelihatan gak nyaman " ketus Chiko



April sedikit tersenyum mendengar ucapan Chiko, lalu dia balik bertanya, "Bagaimana perasaanmu tadi saat bertemu Raya?"



"Apa kamu tidak lihat ekspresi ku tadi!"



"Tidak, memangnya apa!"



"Aku muak melihat dia, mempermainkan pernikahan yang seharusnya dia jaga. Dalam pernikahan dia sudah diangkat sumpah dan pria sejati itu yang dipegang adalah ucapannya, kalau ucapannya saja tidak bisa dipegang apalagi yang lain," tukas Chiko.



"Saat ini mungkin hanya kamu dan Santi yang terlihat, bagaimana dengan yang tidak terlihat atau saat dia kembali ke masa di mana bosan dengan Santi lalu lari ke kamu, nanti bosan dengan kamu lari lari ke yang lain," celotehnya, lalu dia minum tegukan terakhir dari minumannya.



Seutas senyum kembali terlihat diwajah April, mendengar ucapan Chiko sudah bisa dilihat dengan jelas bagaimana pria itu memandang pentingnya ikatan perkawinan. Semakin bangga bisa berdampingan dengan orang yang punya pemikiran seperti itu, Chiko hanya terlihat di luar seperti lelaki yang benar-benar tidak baik, namun semua itu dilakukan ada alasannya.



Chiko juga tidak pernah gombal dengan banyak wanita, dia bermain dengan wanita yang ditemui juga sedikit menarik perhatiannya. Chiko to the point jika ingin mengajak wanita itu pergi, namun dijelaskan juga oleh Chiko jika setelah itu mereka harus tidak saling mengenal, itu jika dia bermain dengan wanita yang ditemuinya di tempat hiburan.



"Aku semakin kagum sama kamu Chik," puji Chiko yang langsung dijawab cepat oleh Chiko, "Ga butuh itu, aku butuhnya hati kamu, udah sering dapat pujian," dengan wajah serta ucapan yang sengaja dibuat sombong.



Mendengar juga melihat wajah Chiko seperti itu, membuat April jengkel, dia gemas sampai melempar Chiko dengan barang yang ada atas meja.



Pertengkaran kecil itu membuat awal jadi keromantisan lainnya, Chiko ajak April untuk membeli barang yang dia suka setelah mendapatkan perhiasan, namun ternyata April sudah tidak mau dan memang sedang tidak ada yang ingin dibeli juga.



April malah mengajak Chiko jalan, karena saat ini malam terang bulan, April ajak Chiko untuk membawanya ke suatu tempat yang indah, agar dia bisa menikmati malam itu dengan duduk santai sambil melihat lukisan malam.


__ADS_1


Permintaan April langsung diwujudkan, Chiko langsung mengajaknya keluar dari mall besar itu untuk pergi ke suatu tempat yang diinginkan April. Namun dia tidak menyebutkan dimana tempat itu berada, sementara itu Raya dan Santi pergi untuk menjemput Arya yang masih asyik bermain.



"Ar, sini minum dulu," teriak Santi saat mereka tiba di arena permainan. Arya langsung berhenti dan menghampiri sang Mamah, Ayahnya duduk di kursi tunggu sambil mengingat kejadian yang tadi.



"Ternyata wanita yang diceritakan Santi itu adalah April, berarti dia benar-benar mau tunangan dengan si Chiko!" Ucapnya lalu mengepalkan tangan, "Kenapa dia tidak pernah cerita denganku masalah itu, aku harus segera menemuinya untuk menanyakan hal tersebut," kembali Raya berkata.



Dia merasa kesal melihat Chiko tadi, dia tidak seperti April yang bisa bersikap biasa saat bertemu Santi yang jelas sudah menjadi istrinya, saat dia melihat April bersama Chiko yang sudah jelas adalah kekasihnya, Raya di bakar rasa cemburu, apalagi kemarin dia tidak jadi melampiaskan hasratnya pada April.



Semenjak April tahu jika dia sudah mempunyai keluarga, sejak itu juga Raya tidak pernah bisa membuat April jatuh dalam pelukannya, Raya tidak pernah bisa berhubungan intim dengannya. April selalu bisa menghindar saat Raya menginginkan hal itu, atau ada saja gangguan lain dari keluarga kecilnya saat Raya ingin melakukan itu dengan April.



"Sudah sejauh itu mereka ingin mempererat hubungan mereka, apa karena itu juga April selalu menolakku, apa dia sudah berhubungan dengan Chiko sampai dia selalu menolak ajakanku," kembali dia berkata.



Semua pikiran tentang April buyar, karena Arya memanggil lalu memeluknya, "Ayah, Mamah ajak pulang, tapi aku masih mau disini," rengeknya.




"Yeah, iya Ayah aku mau, aku mau beli banyak tidak apa-apa kan!" Teriaknya.



Sambil menggendong Arya menjawab, "Boleh lah, kamu boleh ambil apa saja yang kamu mau," membuat Arya kembali bersorak riang.



"Mas, jangan seperti itu, untuk apa banyak-banyak,"



"Sudah lah, toh aku juga bekerja untuk membahagiakan anakku,"



"Iya, tapi tidak perlu berlebihan juga Mas, seperlunya saja, nanti malah jadi kebiasaan,"

__ADS_1



"Kebiasaan bagaimana,baru juga kali ini aku bisa ajak kamu dan Arya jalan-jalan, karena itu wajar jika aku manjakan kalian, kalau kamu tidak mau tidak masalah, tapi untuk Arya maaf itu urusan aku," tandasnya dan Santi memahami jika Raya tidak menyukai ucapannya tadi.



Santi juga enggan untuk membalas ucapan Raya, dia tidak ingin menjadikan hal itu panjang atau nanti malah akan membuat mood Raya jadi jelek, Santi tahu sekali bagaimana sikap Raya jika sedang bad mood.



Raya terus ajak Arya kemana yang anak itu mau, dia juga membelikan barang yang anaknya tunjuk, hari ini Arya sangat dimanjakan oleh sang Ayah. Santi hanya bisa menghela nafas panjang dan gelengkan kepala saat apapun yang Arya mau lakukan di setujui oleh Raya.



Pukul sembilan malam Raya ajak anak serta istrinya pulang, karena besok dia masih harus bekerja, jadi tidak bisa ajak mereka berlama-lama disana.



"Gak apa-apa kan sayang pulang sekarang, besok Ayah masih harus kerja,"



"Iya Ayah gak apa-apa, aku senang hari ini, sudah cukup mainan aku sudah banyak, makasih ya Ayah," ucapnya lalu memeluk Raya dan memberikannya kecupan singkat di pipi.



Santi tersenyum melihat kedekatan mereka, satu kebahagian besar karena Raya merupakan Ayah yang baik bagi Arya. Dia selalu mementingkan Arya di atas yang lainnya, bahkan dengan Santi dia tidak seperti itu.



Di sebuah taman berbukit Chiko menghentikan kendaraannya, lalu dia mengajak April keluar dan menyusuri jalan taman itu. "Gimana, oke kan tempatnya?" Tanya Chiko setelah mereka berjalan agak jauh dari parkiran.



"Iya, bagus dan udaranya sangat sejuk, aku suka, makasih yah Chik,"



"Iya sama-sama," dengan senyuman manisnya Chiko menjawab, "Kita duduk disana yah," ujar Chiko sambil menunjuk ke arah yang dimaksud, anggukan kepala diberikan April sebagai tanda jika dia setuju.



Dua sejoli itu duduk dibawah pohon besar, udara yang sejuk membuat suasana disana semakin romantis, lukisan malam di atas langit menambah kesempurnaan malam itu untuk dua sejoli yang sedang mendekatkan diri.



Chiko melihat April yang sedang menikmati langit malam, wajah April terlihat cantik dimata Chiko saat itu.

__ADS_1



"Pril," tegurnya, April menoleh dan Chiko membuat mereka saling bertatapan.


__ADS_2