
Aura membuka pintu, saat ini dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang sudah terlihat polos.
"Ada apa!"
"Nggak, aku pikir kamu pergi,"
Aura tersenyum lalu berkata, "Mana mungkin aku pergi, aku kan belum merasakan kegagahan kamu." Senyuman penuh goda diperlihatkan Aura, ditambah dengan tatapan genit. Kalau bukan Chiko yang sudah sering melihat hal seperti itu, pria lain pasti akan langsung meleleh.
"Kalau sudah keluarlah, aku sudah ingin menyegarkan tubuhku," ucap Chiko yang tidak menanggapi godaan Aura, membuat wanita itu sedikit meruncingkan bibirnya dan keluar dari kamar mandi.
Chiko masuk saat Aura sudah berada diluar, wanita itu jadi semakin gemas dengan sikap Chiko yang cuek, "Bener-bener bikin aku penasaran, biasanya orang seperti itu hebat diatas kasur, malam ini aku pasti akan membuat dia merasa sangat puas." Ucap Aura penuh semangat.
Selama menunggu Chiko yang sedang mandi, Aura mempersiapkan diri, dia memakai pewangi tubuh serta rambut yang biasa dia pakai, segala macam ritual sebelum berperang Aura lakukan.
"Pakai, tidak …, pakai, tidak …," ucap Aura sambil memegang dress yang tadi dikenakannya. Wanita itu sedikit bingung, karena dia harus memilih antara memakai kembali dressnya atau tetap memakai handuk, "Emm gak usah deh," ucapnya yang sudah mengambil keputusan.
Aura duduk di kursi meja rias yang dengan sengaja kursi itu dibuat menghadap ke tempat tidur, satu kaki disilangkan ke kaki yang lain serta dengan sengaja membuka handuknya sebatas pangkal paha, lalu handuk yang menutupi bagian tubuh depan diturunkan agar semakin terlihat bagian yang membuat pria tergoda, Aura menunggu sambil memainkan ponselnya.
Dalam kamar mandi Chiko membuat tubuhnya basah dibawah guyuran air yang turun dari Shower, dia mengangkat sedikit kepala dan menutup mata. Bayangan April terlintas saat matanya tertutup, itu membuat keraguan dalam diri Chiko, apa dia harus melanjutkan apa yang sudah dimulainya tadi atau dia harus menundanya.
__ADS_1
"Aku seperti tidak bisa berpaling dari April, selalu saja ada keraguan setelah aku mengenal dia jika ingin melakukan kesenanganku," keluh Chiko lalu menghela nafas.
Chiko melihat pedangnya, dia mencoba membuat adiknya itu tenang, tapi dia sudah terus merengek sedari tadi, mungkin jika tidak ditahan dengan sepenuh tenaga, hasrat adiknya itu sudah ingin dikeluarkannya. "Biarlah, toh April juga masih terus berhubungan dengan si Raya, aku tidak mau memikirkan hal itu sementara yang aku mau juga dia tidak menjaga dirinya, entah benar atau tidak ucapan April dulu." Ucapnya menolak keraguan dalam diri sendiri.
Chiko segera menyelesaikan ritual mandinya, lalu dia kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya saat ini tidak akan berpengaruh pada hubungannya dengan April, karena Chiko berpikir bahwa April juga masih melakukan hal itu dengan Raya.
Chiko sengaja membiarkan rambutnya tidak terlalu mengering, begitu juga dengan tubuhnya, hal itu membuat dirinya terlihat sangat seksi. Hanya mengenakan handuk kecil untuk menutupi seperempat bagian tubuhnya, Chiko keluar dari kamar mandi. Dia melihat Aura yang duduk sambil melihat ponselnya serius, namun saat Chiko memperhatikan, ternyata penampilan dia saat ini membuat otak kotornya meronta.
Senyum tipis terlihat di wajah pria itu, melihat Aura yang sudah standby, Chiko melangkah perlahan seperti harimau yang mendekati mangsanya.
"Lihat apa!" Tegur Chiko membuat Aura terkejut dan langsung matikan ponselnya, "Serius banget," kembali dia berkata dengan terus mendekat ke arah Aura.
"Hanya melihat media sosial biasa, sambil nunggu kamu selesai mandi," jawabnya.
"Aku pikir sedang melihat sesuatu untuk membangkitkan hasratmu," ujar Chiko yang menghentikan langkahnya dengan jarak yang sangat dekat.
Aura tersenyum dan lebih mendekat, sampai hembusan nafas Chiko terasa di wajahnya, dia sedikit mengangkat wajah karena Chiko lebih tinggi darinya. Tatapan goda kembali diperlihatkan seraya berkata, "Aku tidak memerlukan itu," ucapnya pelan, "Karena dengan hanya melihat kamu saja aku sudah sangat berhasrat," timpalnya, lalu Aura menepis jarak yang hanya tinggal sejengkal, dia memberikan satu kecupan singkat di bibir Chiko.
'Boleh lah.' Batin Chiko saat mendapat sentuhan pertama dari wanita itu. Setelah kecupan singkat Chiko yang kali ini mendaratkan kecupannya, dan langsung dibalas kembali dengan \*\*\*\*\*\*\* yang akan membuat hasrat mereka mulai bergerak naik.
__ADS_1
Satu kendaraan sudah memasuki halaman sebuah rumah yang tidak terlalu besar, seorang wanita cantik keluar dari dalam kendaraan tersebut dan langsung masuk ke rumah.
Tak lama setelah wanita itu masuk, satu persatu lampu yang ada di rumah itu mati, kecuali lampu yang berada disebuah kamar. April meletakkan tas kecil di tempat yang seharusnya, kemudian dia merebahkan tubuh sejenak sebelum akhirnya dia membersihkan diri.
Ponselnya berdering beberapa kali saat April sedang dikamar mandi, setelah mandi dan berpakaian dia langsung melihat ponselnya dan tertera panggilan tidak terjawab dari Raya, "Untuk apa dia menelpon!"
Ada pesan singkat juga dari pria itu, April segera membukanya, Raya mengatakan jika dia ingin melihat wajah April sebelum dia tidur. "Kan baru tadi ketemu, maksud banget sih Raya." Gerutu April setelah melihat pesan singkat itu, lalu dia menjawab seperti apa yang dikatakan tadi.
Ternyata Raya sedang in, jadi dia langsung menjawab pesan itu, saling balas pun terjadi, berbagai pertanyaan membuat mereka lupa dengan waktu, Raya memaksa April untuk melakukan video call, sampai akhirnya dia mengalah dan melakukan panggilan itu.
Senyum manis langsung terlihat di wajah Raya saat pertama kali layar ponsel itu tersambung, dia mengatakan senang karena bisa melihat April sebelum tidur. Hanya lima detik sambungan itu dilakukan April, setelah itu dia matikan kembali dan mengatakan jika Raya sudah melihatnya, maka sekarang dia akan beristirahat.
Sedikit kecewa dirasakan Raya, karena April tidak terlalu meresponnya, tapi dia berpikiran positif mungkin saat ini April sudah merasa ngantuk dan lelah, jadi dia tidak marah atau menghubunginya kembali. April memang sudah sangat lelah, setelah menutup telponnya dan mengucapkan selamat beristirahat pada Chiko, dia langsung tidur.
Tautan yang Chiko dan Aura lakukan berhasil membuat hasrat mereka sedikit meningkat, desiran aneh mulai menjalar kebagian tubuh mereka, sehingga membuat Chiko dan Aura semakin mendekatkan lagi diri mereka.
Aura melepaskan tautannya, lalu menatap Chiko tajam dan berkata, "Bagaimana, apa ini jadi awal yang panas untuk kedepannya?"
"Ini sedikit oke, tapi masih belum membangkitkan gairahku," sahut Chiko masih dengan tubuh mereka yang saling merangkul.
__ADS_1
"Emm gitu, oke. Kita lanjutkan levelnya." Tukas Aura yang langsung menarik tubuh Chiko dan mendorongnya hingga terjatuh diatas kasur empuk itu.