
"Emm kalian mesra bengat sih, Chik, romantis banget sih kamu," ledek Santi pada Chiko.
Chiko tersenyum, "Iya dong, harus bisa membahagiakan wanita yang kita cinta," ucapnya.
"Ya ampun Pril, so sweet banget sih pria kamu ini,"
April tersenyum, lalu membelai wajah Chiko, "Iya, dia memang sangat manis, sampai aku ingin jilati terus saking manisnya," gurau April yang membuat Santi tertawa.
"Oh iya Pril, aku mau undang kamu nanti yah, minta nomor yang bisa dihubungi dong," ucapnya.
"Emm, boleh, aku sebutin yah,"
"Oh iya, tunggu," Santi mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas kecil yang dibawa, lalu dia mengetik angka yang disebutkan oleh April. Setelah itu mereka bertukar nomor, lalu nanti pamit dan akan menghubunginya lain waktu.
Setelah kepergian Santi, April duduk kembali dan memandang wajah Chiko yang selalu datar saat melihat Santi, April pun bertanya kenapa dia selalu pasang wajah itu ketika bertemu Santi, Chiko menjawab jika dia merasa kasihan pada wanita itu, kemudian Chiko berkata bagaimana jika dia tahu kelakuan suaminya di luar.
Mendengar ucapan Chiko, April tidak menanggapinya, saat ini dia belum bisa mengatakan apa-apa, dia tahu Santi akan sangat sakit hati jika mengetahui ternyata suaminya yang selama ini dipandang baik dan penyayang ternyata memiliki muka dua bahkan tega menyakiti istri juga anaknya.
Chiko sengaja mengatakan hal itu agar April merasa sedikit tersentuh, Chiko mempunyai keyakinan jika dia terus melakukan sindiran-sindiran kecil pada April, bukan tidak mungkin lama-kelamaan dia akan tersindir dan melepaskan Raya dari tangannya.
"Sudah kenyang belum?"
"Sudah sih,"
"Masih mau disini atau langsung pulang,"
"Emm, pulang aja deh, udah malam juga."
Chiko beranjak dari kursinya, disusul April yang mengikuti langkah nya dari belakang. Melihat April jalan di belakangnya Chiko menarik tangan April agar mereka bisa jalan beriringan.
Sampai di parkiran Chiko mencari kunci mobilnya, dia lupa meletakkan dimana. Satu persatu saku di rogoh, dia mencari kunci itu di tempat yang sekiranya kunci itu berada. Saat Ciko sedang sibuk mencari kunci, seorang pria menegur April dan ternyata dia adalah Raya.
__ADS_1
Chiko berhasil menemukan kunci itu di dalam dompet miliknya, saat melihat yang menegur itu Raya, Chiko diam ingin melihat apa yang akan mereka lakukan.
"Disini juga?"
"Iya, habis makan malam, jemput Santi!"
"Iya," sahut Raya, lalu dia melihat ke jari yang tadi pagi diberikan cincin olehnya, ternyata cincin itu tidak ada tempatnya. Merasa Raya memperhatikan jarinya, April pun menutup jari-jari telapak tangannya yang satu dengan telapak tangan yang lain.
Raya tersenyum, lalu dia berkata, "Aku mengerti, ternyata benar apa kata Chiko, selingkuhan tetaplah selingkuhan, tapi aku senang." April tersenyum mendengar ucapan Raya, setelah mengucapkan itu Raya pun pergi meninggalkan mereka, dengan memberi sedikit senyum tipis pada Chiko.
Chiko mendekat, "Kalian habis ketemuan kan tadi pagi!" Ucapnya dengan memandang sedikit tajam mata April.
Pandangan Chiko seperti ancaman untuknya, bagaimanapun Chiko adalah kekasihnya, dia tidak ingin ada yang ditutupi walaupun itu akan menyakiti dirinya.
"Iya, tadi pagi Raya menghampiri ku, kemudian dia ajak aku jalan, tadinya dia mau ajak aku ke Bandung, tapi aku tolak," ungkap April dengan pandangan ke arah lain, tanpa berani menatap Chiko.
Chiko kebingungan dengan sikap April, "Apa ada yang salah sama omongan gua yah!" Kemudian dia menyusul April kedalam mobil, saat masuk dia melihat wajah April yang muram dan langsung buang muka saat dia masuk.
Dalam perjalanan Chiko terus mengeluarkan rayuan serta kelakarnya, namun mungkin April sangat bete jadi semua usaha Chiko sia-sia. Sampai di halaman saat baru saja Chiko matikan mesin mobil, April sudah langsung keluar.
Dia berjalan cepat dengan wajah yang masih terlihat kesal, "Sebenarnya mau gak sih tuh orang aku jauh sama Raya, dia terlalu baik atau cuek sih sebenarnya, jadi kesel sendiri," gerutu April.
Dia sengaja tidak menutup pintu depan, karena tau Chiko pasti akan mengikuti nya, sebab seperti itu memang biasanya. Setelah April membersihkan diri Chiko sudah duduk manis di ruang tengah, dia pun menghampirinya sambil bawa minuman hangat.
"Makasih sayang,"
"Emm,"
"Sudah baikan sekarang, udah gak kesel,"
__ADS_1
"Dikit, sudah malam Chik, Kamu pulang yah,"
"Ngusir ceritanya,"
"Iya,"
"Ya sudah, besok kan masih bisa ketemu, untung saja aku gak pernah ngerasa bosan lihat kamu setiap hari Pril," ledek Chiko sambil berdiri.
"Sama, besok mau aku masakin sarapan gak?"
"Gak usah deh. Emm, Pril," seru Chiko sambil mendekati April yang juga sudah berdiri mau bukakan pintu.
April menoleh, "Kenapa tuh muka mupeng gitu," seru April sedikit mengejek.
"Iya, lagi pengen memang, aku ingin bermalam disini boleh gak, soalnya untuk satu minggu kedepan kita gak akan ketemu, jadi takut kangen nanti," ungkapnya membuat April sedikit terkejut.
"Memangnya kamu mau kemana selama satu minggu itu?"
"Ada kerjaan yang mau aku kerjakan di luar kota, Padang. Aku akan minta Gito bantu kamu, dia kan tau semua, kamu tinggal awasi dia saja selama aku pergi," ucapnya sambil terus mendekat dan saat mereka sudah berjarak dua jengkal, Chiko langsung membuat tubuh mereka saling menempel.
"Aku mau malam ini sama kamu, please," bisik Chiko memohon. April sedikit menjauhkan wajahnya, dia menatap Chiko yang masih dengan wajah maunya, senyum tipis diberikan April sebelum akhirnya dia menempelkan bibirnya dengan bibir Chiko.
"Oke, tapi kalau mau tidur sama aku mandi dulu yah,"
"Mandiin," manja Chiko berkata pada April. Mereka berjalan menuju kamar April, kamar yang tidak sebesar kamar Chiko, tapi masih sangat membuat mereka nyaman. Chiko berjalan dengan terus bergelayut pada tubuh April, walau sudah disingkirkan tapi tetap saja dia kembali seperti itu.
Sampai di kamar Chiko langsung diperintahkan untuk mandi, dia masuk sementara itu April naik ke atas tempat tidur untuk melihat ponselnya.
Selesai mandi ternyata Chiko melihat April sudah tertidur, pria itu menghela nafas, 'Yah, dia malah tidur.' Keluhnya dalam hati. Masih mengenakan handuk Chiko langsung naik ke tempat tidur, dia melihat wajah April yang memang sudah nyenyak.
__ADS_1
Matanya tidak bisa lepas dari dua bukit yang mengintip dari balik kain penutupnya, dua benda kenyal itu seolah memanggil-manggil Chiko agar menyentuhnya. 'I am coming.' Serunya dalam hati sambil sedikit tertawa, perlahan dia mendekat sambil sesekali melirik ke wajah April, takut jika wanita itu terbangun.