
"Kamu yakin menemui ibu?" Tanya Ardhan yang sedang mengancingkan kancing kemejanya. Ia menatap lekat sang istri yang sedang mengenakan hijab di depannya. Perut yang sudah agak sedikit membuncit itu yang menyebabkan Ardhan enggan memberi izin pada Naila yang akan menemui ibunya. Bukan melarang mengunjungi, hanya saja kunjungan kali ini pasti beeujung adu otot antara istrinya dan ibu mertua. Ardhan tahu sekali Naila lebih frontal ketimbang Nadya dalam hal menyuarakan pendapatnya. Ia tak mau sang istri lelah atau capek karena adu pendapat dengan mertuanya nanti.
"Yakinlah, makanya aku udah rapi gini, nebeng ya?" pinta Naila lalu membantu sang suami menyisir rambutnya.
"Gak usah ngotot."
"Iya, aku gak ngotot kok."
"Bujuk rayunya yang kalem aja gak usah ngegas."
"He.em." Naila sudah mulai gemas dengan peringatan sang suami.
"Kalau ibu tetep kekeh, kamu juga gak boleh maksa siapa tahu memang Faiq jodohnya Mbak Nad."
Naila menghembuskan nafas pelan, "Jodoh atau enggaknya Mbak Nad sama Faiq urusan belakang. Setidaknya aku pernah membantu kakakku memperjuangkan kebahagiannya." Ucap Naila dengan suara serak, otw nangis. Mungkin karena ibu hamil muda sensitifnya lagi keluar.
"Selama ini Mbak Nad, selalu membahagiakan aku, sampai rela mengalah untuk melepas Mas Alan saat itu." Jebol sudah air mata Naila. Melihat sang istri menangis, Ardhan tak tega. Ia pun mengizinkan Naila dan tak akan cerewet lagi. Ia hanya khawatir keadaan Naila, takut kalau sang istri berpikir keras lalu stress dan bisa berpengaruh pada sang janin, jelas Ardhan tak mau itu terjadi.
Apalagi Ardhan tidak berada di dekat Naila sampai sore nanti, maklum hari ini Ardhan menemui profesor yang akan membantu penelitiannya. Ardhan memang seorang dokter yang lebih konsen pada penelitian. Ia belum terjun langsung dalam rumah sakit, kecuali saat co-as dulu, kini ia sedang menyusun thesis dan menjalani proyek penelitian bersama seorang profesor.
"Kalau ada apa-apa telpon." Pesan Ardhan sebelum pergi. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju rumah mertua lalu meluncur ke kampus menemui profesor. Ponsel sudah disilent, ia akan konsen pada tugasnya.
Naila yang sudah tiba di rumah ibu langsung masuk ke dapur, pasti ibu masih berkutat pada orderan jajannya. Meskipun kedua putrinya melarang berjualan, tapi beliau kekeh berjualan. Alasannya agat tubuh beliau mengeluarkan keringat, itung-itung olahraga.
"Assalamualaikum." Sapa Naila dengan suara cemprengnya.
"Waalaikumsalam, loh kamu?" jawab ibu dan terkejut, anak bungsunya sudah duduk manis di kursi sembari mengeluarkan beberapa box salad buah yang Naila bawa dari rumah mertuanya.
"Kamu kapan datang? mana suamimu? Gak lagi berantem kan?" tanya ibu beruntun, dan segera cuci tangan karena beliau sedang membuat resol mayo.
"Tanyanya satu-satu napa, Bu. Naila mau incip ini." Cicit Naila sambil menatap risol mayo yang sudah digoreng dengan mata berbinar. Dasar ibu hamil, keinginannya kadang datang secara tiba-tiba.
Ibu pun menyodorkan piring kecil dan garpu yang berisi risol mayo dihadapan Naila. Ah...si bungsu tampak girang saat menggigit risol mayo yang masih hangat itu.
"Mbak Nadya gak kerja, Bu? tumben motornya masih di teras jam segini."
__ADS_1
"Diantar calon suaminya dong." Sahut Ibu yang melanjutkan menggoreng risol mayo. Dari suara beliau, terdengar sangat suka karena putri sulungnya sudah mendapat calon suami yang idaman sesuai kriteria menantu beliau.
Ganteng ...oke, wajah-wajah ustadz muda yang sering wara wiri di TV itu dengan penampilan ala anak muda, pakai kaos atau kemeja dipadu dengan jeans.
Pintar.... jangan ditanya, dosen Tafsir Hadits loh!
Kaya.... Alhamdulillah anak dari keluarga berada meskipun tidak sekaya Ardhan.
Sholeh.. sudah diuji karena Faiq sering sekali menjadi pendakwah baik di acara kampus almamaternya maupun pengajian di beberapa masjid ataupun pengajian komplek perumahan.
"Sebenarnya yang mau nikah itu Ibu apa Mbak Nad sih?" celetuk Naila santai, dengan mengunyah.
"Hush....ya mbak mu lah."
"Kok kayaknya ibu yang bahagia banget ampe kelejotan senengnya." Goda Naila yang memang seperti biasa nyinyir dengan celotehan lucu.
"Mbak Nad juga bahagia, Nai."
"Kata siapa?"
"Kepaksa." Serobot Naila sedikit emosi.
"Kamu ngomong apa sih, udah deh, biarkan Nadya menerima Faiq sebagai suaminya. Gak kalah ganteng juga dengan Alan, Nai."
Naila meneguk segelas air dingin, membasahi kerongkongan setelah memakan risol mayo lalu membantu ibu memasukkan risol mayo ke box kue.
"Bukan masalah ganteng, Bu. Cuma hati mbak Nadya tuh condong ke Mas Alan. Ibh gak kasihan sama Mbak Nadya nikahnya kepaksa demi menyenangkan hati ibunya. Ingat, Bu. Yang menjalani pernikahan itu Mbak Nadya bukan ibu. Standar kebahagiaan ibu bisa jadi berbeda dengan standarnya Mbak Nadya, bu."
Ibu terdiam, tangan yang sedari tadi lincah memegang spatula pun terhenti, tak lupa mengecilkan kompornya. "Itu hanya sementara, Nai. Masalah hati dan cinta bisa berubah karena kebiasaan."
"Ya iya juga sih, tapi aku cuma kasihan aja sama Mbak Nadya. Dari dulu selalu membahagiakan kita, mendahulukan kepentingan kita bahkan ia rela bekerja siang malam lembur untuk kita, tapi aku aja sampai saat ini gak bisa balas kebaikan Mbak Nadya. Bahkan masalah nikah pun, Mbak Nadya mengalah sama aku, makanya aku bantu Mbak Nadya buat ngerayu ibu agar membatalkan. Setidaknya aku masih ada usaha memberi perhatian akan masa depan Mbak Nadya."
Telak
Ibu terdiam lagi. Ucapan Naila seakan menembus ulu hati beliau. Bayangan wajah sendu Nadya sejak dua hari belakangan ini terlintas, mata tampak merah tapi ia bilang kelilipan. Wajah jutek selalu hadir bila pembahasan tentang Faiq. Ibu tahu ia terpaksa, tapi ibu yakin suatu saat perasaan Nadya akan muncul untuk Faiq.
__ADS_1
"Ayolah, Bu. Pikirkan perasaan Mbak Nadya, hari jumat besok adalah penentunya."
Ibu menghela nafas pendek, lalu melanjutkan acara menggorengnya. "Lanjut aja, Nai. Gak usah dibatalkan, insyaAllah pilihan ibu terbaik untuk mbak Nad."
Naila terdiam, kekeh sekali pendiriannya. "Baiklah, kalau ibu masih kekeh dengan keputusan ibu. Biar Naila aja yang bantu Mbaj Nadya." Ucar Naila mantap.
"Caranya?"
"Menikung Faiq di sepertiga malam, aku akan mengerahkan semua, Aku, Mas Ardhan, Mas Alan, bibi du rumah mertua aku, ibu mertua. Semua teman Mbak Nad. Hayo..."
Ibu tertawa terbahak-bahak, cara apa itu, tikung menikung. "Udah ah, cara mu gak bakal menang dengan doa ibu."Ucap beliau. "Ibu mau antar ini ke kompleks sebelah. Kamu gak pa-pa sendiri."
"Gak pa-pa. Kayak anak kecil aja takut di rumah sendirian. Emang ibu antar pakai apa, aku pesenin go car ya?"
"Gak usah, jalan kaki aja. Dekat kok."
"Ya udah, biar Naila aja yang antar. Ada motor juga."
"Jangan, nanti kalau ada apa-apa gimana, kamu lagi hamil Nai."
"Ya elah, perumahan sebelah doang Bu. Lagian hamil itu bukan orang sakit. Udah mana alamatnya." Naila masih memaksa.
"Yakin gak pa-pa? kamu gak dimarahin Ardhan kalau naik motor."
"Kalau ketahuan bakal dimarahi, nah ini kan gak ada Mas Ardhan, jadi aman."
"Eh gak boleh gitu, Nai. Sama suami itu nurut baik di belakang maupun di depan."
"Nurut, Bu. Khusus hari ini deh dengan misi membantu ibu. Insya Allah aman."
Ibu pun mengizinkan Naila membawa motor untuk mengantar risol mayo ke Bu Endang, customer yang order risol mayo di perumahab sebelah.
"Bismillah, Nai." Ucap ibu mengantarkan Naila di depan pagar. Gadis itu memang lincah, bahkan saat hamil muda begini tidak malas untuk naik motor.
Semoga selamat sampai tujuan. Batin ibu sembari memegang dada beliau dan menatap punggung si bungsu yang kian menjauh.
__ADS_1