SULUNG

SULUNG
TITIK HITAM


__ADS_3

Saking paniknya, Alan langsung menuju lift, tak sempat pamit ke Erfina dan tamunya, pikirannya kalut. Keadaan Nadya lebih penting dari apapun. Ancaman mama menghiasi pikirannya, sungguh ia sangat takut kejadian Naila beberapa bulan yang lalu terjadi pada Nadya juga.


Shiiiitt!!!


Begitu sampai lobi, ia lupa membawa kunci mobil. Memesan taksi online pun kelamaan, terpaksa ia meminjam motor security. Bayangkan saja, pimpinan perusahan, ganteng dan necis mengendarai motor matic jadul menuju rumah sakit umum. Laju motor pun ia buat semaksimal mungkin, meski ia sudah tidak pernah mengendari motor apalagi motor matic.


Hanya butuh 15 menit, Alan sudah sampai dan sempat parkir juga. Ia segera menuju UGD, Erick duduk dengan bermain ponsel. Pak Din, sopir kantor pun ikut menemani Erick juga.


"Kok bisa sampai pingsan sih Rick?" tanya Alan penuh emosi. Erick langsung mendongak dan mengajak Alan untuk duduk terlebih dulu.


"Kita mau makan siang, udah dekat kantor juga. Di Cafe X ituloh. Pas baru keluar dari mobil, Nadya pegangan di pintu sebelah kiri.. eh langsung limbung. Ya udah aku bawa ke sini aja."


"Gue udah bilanv gak usab ajak Nadya keluar kantor, jangan bikin dia capek dong."


"Ya elah, Lan. Namanya devisi keuangan gak mungkin longgar. Kerjaan Nadya pun udah banyak gue handle sendiri kali."


Alan diam, ia lebih fokus pada pintu UGD yang tak kunjung terbuka. "Lama amat sih, gak boleh masuk ini?" Alan semakin gusar.


"Sabar Pak Alan, insyaAllah Bu Nadya gak pa-pa, mungkin lagi ngidam." Sahut Pak Din tiba-tiba.


"Ngidam? Maksudnya?" tanya Alan .


"Pas tadi mau berangkat, saya sempat tanya ke Bu Nadya sakit apa enggak, soalnya beliau pucatnya beda dengan orang penyakitan."


"Kok Pak Din tahu ciri oranv hamil?" pertanyaan gak bermutu dari Erick terlontar begitu saja, hingga Alan menatap manajer keuangan dengan tajam.


Pak Din terkekeh, "Lah saya sudah khatam ciri orang hamil Pak Erick, anak saya lima loh."


"Waduh...Pak Din hobi bikin anak juga ternyata." Cicit Erick yang disambut tawa oleh Alan dan Pak Din.


Ceklek


Pintu ruang UGD terbuka, perhatian ketiga pria tersebut langsung teralihkan. Bahkan Alan sampai mendekati perawat yabg bertugas.


"Keluarga Bu Nadya?" tanya perawat itu dengan lembut dan tersenyum, sedikit salah tingkah karena Alan begitu dekat dan menatapnya intens.


"Iya ...saya suaminya." Jawab Alan.


"Ouh suaminya. Silahkan sudah siuman, nanti dijelaskan oleh dokter Rivat di dalam." Ujarnya dengan nada ketus. Erick yang berada tak jauh dari keduanya tertawa, jiwa playboynya tahu lah kalau si perawat jaga image pada Alan dan langsung berubah ketus kala tahu status Alan.


"Kenapa lo?" tanya Alan heran, padahal tidak ada yang lucu.


"Gak pa-pa, dah segera masuk. Gue dan Pak Din mau ke kantin, makan siang. Lo mau apa biar gue beliin sekalian?"


"Gak usah, ntar aja. Ya udah gue masuk dulu."

__ADS_1


Nadya sudah sadar tapi masih memejamkan mata, tubuhnya terlihat lemas dan terpasang infus. Alan mendekatinya dan menggenggam tangan sang istri. Mata sayu Nadya terbuka, melempar senyum tipis pada sang suami.


"Masih pusing?" tanya dokter di sisi ranjang lain.


"Masih dok." Jawabnya lemah.


"Iya wajar, kadar glukosa Bu Nadya rendah. Lagi gak nafsu makan ya?"


Nadya mengangguk, sedangkan Alan hanya diam.


"Setelah ini, periksa ke dokter kandungan dulu ya. Nanti diantar suster ke sana." Terang Dokter Rivat dengan ramah.


"Terimakasih dok." Jawab Alan yang sudah bisa mengontrol emosinya dan masih menggenggam tangan Nadya.


"Iya sama-sama, saya permisi dulu." Pamit dokter ganteng itu, menyisakan pasutri yang masih canggung.


"Aku kenapa, Mas kok diperiksa ke dokter kandungan?" tanya Nadya.


"Mas juga gak tahu, kita ikuti saja ya. Mana yang sakit?"


Nadya tersenyum, bahagia karena Alan masih perhatian dengannya ternyata. "Pusing aja, Mas."


"Kamu makan yang bener dong, Sayang. Masa' kadar glukosa sampai rendah gitu." Protes Alan dengan nada selembut mungkin.


"Maunya apa loh?"


"Seblak."


"Mas u-"


"Maaf, mau ke dokter kandungan kapan?" tanya suster yang tiba-tiba datang sembari mendorong kursi roda.


Nadya menoleh pada Alan, ia takut kalau terjadi apa-apa. "Sekarang aja ya?"pinta Alan yang penasaran juga ada apa dengan tubuh sang istri. Ia pun dengan sigap memangku ala bridal style Nadya dan mendudukkan dengan sangat hati-hati di kursi roda. Infus pun dibawa oleh suster, sedangkan Alan memilih mendorong kursi roda sang istri.


Nadya cemas, takut kalau ada penyakit yang sedang diidapnya. Berkomat kamit membaca kalimat thayyibah untuk menenangkan hatinya dan mengusir pikiran negatif.


Masuk ke ruang praktik dokter kandungan, disambut senyum ramah dokter dan asistennya. Kebetulan, Nadya adalah pasien terakhir di shif ini.


"Mari Bu, kita periksa dulu." Ucap Sang dokter yang bername tag dr. Malik Ramadhan, Sp, OG.


Alan terdiam, ada perasaan tak rela ketika perut sang istri dibuka di depan laki-laki lain. Tapi ia bisa apa, kejadian pingsannya Nadya membuat dirinya ngeblank. Okelah...untuk hari ini saja, selebihnya ia akan mencari dokter kandungan lain.


Dokter itu tersenyum ketika alat usg sudah menemukan yang ia cari. Titik hitam di dalam rahim.


"Selamat, Bu Nadya positif hamil.Titik ini bakal bayi Bu Nadya. Masih kecil, usianya masih 7 minggu."

__ADS_1


Alan semakin terdiam, bisa dibilang ngeblank juga. Sungguh kabar hari ini sangat mengejutkan sekali.


"Tuh, papanya bengong aja." Tegur dr. Malik yang sudah selesai memeriksa Nadya. Alan tersadar dan hanya tersenyum kikuk. Ia membantu Nadya di kursi roda dan siap mendengarkan penjelasan dokter. Dokter Malik begitu ramah menjelaskan perihal kehamilan Nadya dengan kondisi kadar glukosa rendah, bisa dibilang wajar di trimester pertama, karena sang ibu sedang mengalami nafsu makan turun. Beliau pun menyarankan makan buah kalau masih mual pada nasi ataupun makanan berat, yang penting bisa masuk dan tidak dehidrasi. Beliau pun meresepkan beberapa vitamin sebelum pasutri itu keluar.


Alan memutuskan agar Nadya rawat inap saja, sampai kadar glukosanya normal. Apalagi sedang hamil juga. Ia memilih kamar VVIP untuk sang istri, lalu menghubungi mama dan ibunya.


"Aku suapin ya." Ucap Alan yang sudah duduk di samping ranjang. Menyanggah mangkok berupa bubur menu dari rumah sakit.


"Pasti hambar." Nadya cemberut, memprediksi rasa bubur menu rumah sakit.


"Mau apa, biar aku bilang Rilo biar bawa makanan. Sekarang ada baby loh di perut kamu, harus dipaksa makan."


"Iya aku tahu, aku bakal makan banyak biar dia tumbuh sehat. Kamu bahagia gak, Mas?"


"Bahagia, masih belum percaya juga aku bisa cetak anak."


"Tapi kok ekspresi kamu kelihatan gak bahagia?" Cecar Nadya curiga.


Alan menatap manik mata sang istri, waspada ..khawatir kalau salah ucap, malah bikin mood Nadya kacau dan gak mau makan.


"Ini rumah sakit sayang, kalau di rumah udah aku makan kamu buat luapin rasa bahagia aku." Otak cerdasnya langsung punya ide, dan berhasil melontarkan kalimat yang membuat istrinya merona.


"Apaan sih." Tuh kan Nadya tersipu.


"Kita cerita sambil aku suapin kamu ya." Alan masih membujuk sang istri. Menyodorkan sendok dengan porsi kecil agar sang istri pelan-pelan makannya.


"Aku tadi dimarahi mama tahu, kata beliau aku izinin kamh naik taksi online. Perasaan aku gak pernah kan Sayang."


"Apaan, pas aku bangunin kamu tadi aku pamit naik taksi online kamj bilang hem gitu, ya aku pikir kamu kasih izin."


"Kapan?"


" Pas kamu tidur, jam setengah 10an."


Alan tergelak, "Ya Allah sayang, orang tidur omongannya kamu simpulkan gitu aja."


"Ya bisa aja ..itu sudah tertanam di alam bawah sadar kamu, Mas."


"Gak...gak bakal aku biarkan kamu naik angkutan umum, kalaupun aku gak bisa sopir mama atau sopir kantor atau mama yang aku minta temenin kamu."


"Kamu sayang berarti sama aku?"


"Masih tanya, udah ah, ayo makan. Aaaa." Alan berhasil menyuapi Nadya setelah ungkapan perhatiannya. Ah perempuan, ucapan sederhana saja sudah bisa merona.


"Love you." Ucap Alan sambil mencium kening Nadya, bubur pun sudah tandas. Membuat Alan semakin bahagia.

__ADS_1


__ADS_2