SULUNG

SULUNG
GAK NYAMBUNG


__ADS_3

"Sampai jumpa!" pamit Meysa sambil cipika cipiki dengan Alan, ketika berpamitan. Alan hanya mematung, heran dengan sikap Meysa yang menurutnya terlalu agresif. Berbeda dengan Meysa beberapa bulan yang lalu.


Sontak saja, Nadya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Naila sudah melipatkan tangannya di depan dada, bersikap menentang pada tingkah Meysa itu.


"Benar-benar rayuan janda." Gumam Naila geram, sang suami pun langsung merangkul pundaknya, menggiring agar masuk ke dalam rumah. Bagi Ardhan itu adalah drama FTV yang tak perlu diperhatikan.


"Udah, gak usah dipikirin, nanti malah anak kita mirip kelakuannya loh." Ardhan berusaha mengontrol emosi Naila, agar tidak meluap marah.


"Aku tuh kesal sama mas Alan, bisa-bisanya menerima dengan lapang dada sosoran wanita itu." Keluh Naila dengan ketus.


See, badmood kan??


"Ya udahlah, Mas Alan juga gak menanggapi." Pinta Ardhan berusaha mengalihkan topik obrolan tentang Meysa.


"Nai." Panggil ibu yang baru selesai sholat di kamar tamu, beliau sudah berjilbab dan sepertinya sudah siap pulang.


"Bu, ibu nginep di sini dong." Rengek Naila, sambil melepas rangkulan pundak Ardhan, dan segera memeluk sang ibu.


"Eh...mana bisa, mbak kamu besok kerja. Kasihan kalau gupuh."


"Biar nebeng Mas Alan kan juga bisa, Bu." Saran Ardhan yang diangguki Naila. Sedangkan ibu hanya menghela nafas pendek, ingin sekali menuruti permintaan bungsunya, sudah lama juga mereka tidak tidur bersama. Mau bagaimana pun, hati seorang ibu pasti tetap kangen dengan putri kecilnya.


"Tanya Mbakmu dulu deh, kalau iya ibu nginep."


Oke...Ardhan langsung beranjak ke teras rumah, memanggil Nadya yang sedang duduk bersama Alan, Rilo dan Vika.


"Mbak, nginep sini ya?" tanya Ardhan to the point.

__ADS_1


"Beuh, ati-ati, Dhan. Bisa-bisa bujang lapuk langsung ajak main, Nadya tuh." Celetuk si playboy dengan seringai mengejek.


"Gak usah mikir macam-macam, lo. Udah datang menjelang doa, numpang makan malam, bener-bener asisten lucknut." Omel Alan kesal. Mentang-mentang Alan gak masuk kerja, Rilo dengan seenak jidatnya hanya bertemu dengan satu klien saja, selebihnya main game, dan sesekali membantu Mutia dan Erfina.


"Eh...si bapak, baper amat." Sahut Rilo cengengesan. Sengaja menggoda Alan agar tidak menyerang Nadya kalau dia benar-benar menerima tawaran Ardhan.


"Gak usa h deh, kayaknya Mbak pulang aja, besok kerja."


"Kan ada Pak Alan sih?" celetuk Vika yang diangguki Ardhan dan Rilo.


"Enggak deh, Mas Alan sudah ada janji kayanya." Nadya jelas mendengar percakapan Cece dengan Alan di meja makan tadi. Pasalnya, Alan dan Nadya sedang duduk berhadapan, dan gadis itu ikut nimbrung bersama, dan meminta besok dianter Uncle Alan. Respon Alan pun mengangguk, hatinya tak tega menolak keinginan Cece, apalagi ada celetukan Cece yang mengiris hati Alan. Iba.


'Mau ya Uncle, Cece pengen kayak teman-teman Cece, diantar mommy dan daddy.'


"Kan bisa antar Cece dengan kamu sih sayang, kok manyun lagi. Aku juga gak mau kali sama Meysa."


Rilo sengaja menyembur kopi yang baru saja ia sesap, mengenai lengan Alan. "Sori Bos, kaget gue." Cengir Rilo dengan mengusap lengan Alan dengan tisu.


"Makin gencar PDKT kayaknya, pantang menyerah. Lo siap-siap ya, Nad. Kulakan stok sabar yang banyak, dan Itu harus." Titah Rilo tegas, sedari awal ia berkenalan dengan Meysa, Rilo tak suka. Baginya wajah Meysa menunjukkan wajah penuh drama, dan ia berharap bukan Meysa yang jadi kakak iparnya.


"Buat apa kulakan sabar, kalau emang Mas Alan mau, silahkan dong."


"Yang?" tegur Alan, ia tak suka kalau Nadya bersikap cuek akan hidupnya. Bagi Alan, Nadya harus peduli dengan hidupnya. Karena suatu saat nanti, kepentingan Alan maka akan menjadi kepentingan Nadya juga.


"Panas nih kayaknya." Lirih Rilo yang melihat ketegangan Alan-Nadya yang mendadak diam.


"Gimana, Mbak?" tanya Ardhan sekali lagi.

__ADS_1


"Aku bakal batalin janjiku sama Cece, Yang."


"Terserah ibu juga sih, aku ngikut."


"Ibu tadi bilang pengen nginep kok, berarti deal ya nginep."


Nadya mengangguk saja. Toh ada ibu, Alan pasti gak berani macam-macam, lagian belum tentu Alan mau tidur di rumah utama.


"Lan, kamu gak pulang, udah mau tengah malan loh." Goda Mama Shofi, tak menyangka sang besan dan Nadya mau menginap, dan pasti membuat Alan betah di rumah utama pastinya.


"Kangen mama." Ucapnya manja sambil memeluk mama Shofi. Kelihatan banget kalau bahagia, dan kangen mamanya hanya sebuah kamuflase agar berduan dengan Nadya tak terendus.


"Heleh, paling ada Nadya." Sentak Mama sambil menepuk lengan Alan yang memeluknya. "Ya gini Jeng, nasib putra kita yang udah cinta sama cewek lain, mamanya dinomor duakan."


Ibu hanya tersenyum kecil, beliau masih sungkan pada besannya, terlalu jauh kasta mereka.


"Geli gue." Protes Ardhan yang langsung beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Alan, dan Nadya memutuskan menonton film di ruang tengah, karena setelah perdebatan unfaedah itu, para orang tua pamit tidur. Mungkin memberikan kesempatan mereka nonton. Maklumlah, terlalu fokus dan sedang meniti karier, baik Alan dan Nadya, hidupnya berkutat tentang uang.


"Aku tidur ya, Mas?" pamit Nadya yang berhasil menyelesaikan film itu hingga tak sadar kalau Alan sudah merem dari tadi.


"Eh iya, maaf aku ketiduran."


Nadya hanya tersenyum lalu beranjak menuju kamar tamu, kamar yang sudah ada ibu sedanng bergelut dengan selimut.


"I love you, Mas." Ucapnya lirih sambil melangkah menjauhi Alan yang masih setengah sadar.


"Ouh iya. I will marry you." Balas Alan sambil menguap, beranjak menuju kamarnya.

__ADS_1


"Gak nyambung banget sih." Gumam Nadya dengan senyum malu-malu.


__ADS_2