
Sudah dua minggu, Alan dan Nadya menjadi suami istri dan masih belum berencana untuk resepsi. Mama Shofi minta awal bulan resepsi dilaksanakan, namun melihat jadwal Alan PP Malaysia-Indonesia beliau pun mengurungkan rencananya.
"Masih ngantuk?" tanya Alan saat mobil sudah sampai di pelataran, menoleh ke arah sang istri yang menyandarkan kepalanya di jendela mobil dengan mata terpejam.
"Banget. Kita tidur baru jam 3 loh, Mas. Jam 5 udah bangun."
Alan terkekeh, mengelus kepala sang istri dengan sayang. Salah dia memang, tidak mengizinkan Nadya istirahat. Sang istri sudah menjadi candu baginya sejak dibayar tunai.
"Maaf, ya. Habisnya kamu terlalu mengasyikkan." Ujarnya dengan mencium pipi sang istri. "Di ruanganku aja, tidur."
"Terimakasih, bukannya tidur malah ditiduri." Ujar Nadya kesal, ia pun mulai membuka mata dan mengambil kaca untuk membenahi jilbabnya.
Banyak mata yang akhirnya menganggumi kehadiran Nadya di samping Alan. Gadis itu sangat mempengaruhi karakter Alan. Maklum, bos gantengnya itu semenjak menikah lebih manusiawi. Disapa karyawan sudah bisa tersenyum dan mengangguk, sangat berbeda dengan dulu, angkuh dan datar.
"Habis meeting nanti ke ruangan ya." Pinta Alan yang lebih dulu mengantar Nadya ke devisi keuangan. Kebiasaan baru yang bikin jomblo meleleh.
"Ngapain, aku banyak kerjaan, Mas."
"Bawa kerjaannya ke ruanganku kan bisa. Bye." Ucap Alan sambil mencium kening Nadya begitu saja, membuat Nadya berdecak sebal, main sosor depan ruangan, Cindy dan Imel sampai gigit bolpoin.
"Gitu ya sekarang, mentang-mentang halal selalu bikin kita pengen. Sumpah deh, Nad. Lo gue kasih SP karena melanggar kode etik jomblo." Semprot Ersa sambil mencomot combro yang ia bawa.
"Bukan gue ya yang bikin gara-gara, tuh bos loh." Sewot Nadya, heran juga tim keuangan bisa kompak berangkat lebih pagi, tidak mepet seperti biasanya.
Cindy, Imel, dan Ersa langsung menuju meja kerja Nadya. Menatap gadis itu serius seperti ada yang mau ditanyakan.
"Apaan?" Nadya peka dengan gelagat mereka.
"Lo dan Pak Alan 'gituan' terus ya?" Ersa menatap Nadya dengan tatapan menyelidik.
"Hm?" Nadya gelgapan.
"Kamu tahu gak gosip tentang lo dan Pak Alan?" Ersa masih mengintrogasi Nadya. Kupingnya sudah panas ditanyai penggemar Alan yang belum move on.
"Gosip apaan sih?"
"Mbak...itu....lehernya Pak Alan banyak bekas..." Imel terbata membahas gosip itu.
"Bekas apaan sih, Mel. Kalau kalian cerita yang jelas dong. Jangan saling lirik doang." Nadya mulai sewot.
"Bekas ******." Lanjut Cindy to the point. Sontak Nadya melotot, wajahnya merah.
__ADS_1
"Nah...nah...ekspresi lo, Nad. Ketahuan kan, bener berarti berita itu. Bukan gosip lagi."
"Apaan sih." Nadya mengelak.
"Gini ya, Nad. Tiga hari setelah kalian menghebohkan kantor dengan me-ni-kah diam-diam. Anak produksi dikunjungi Pak Alan tiba-tiba, yang lo berangkat puagi banget. Ingat kan?"
Nadya mengangguk, sambil mengerjapkan mata. Waspada dengan serangan pertanyaan yang membuatnya malu.
"Rudi, melihat cu*ang di leher Pak Alan sebelah kanan. Sumpah Nad, kalian jadi topik panas pokoknya."
Nadya menutup muka dengan kedua tangan, sambil cekikikan. Sumpah, dia gak mood membuka laporan yang menumpuk. Ingin rasanya menghilang dari kantor. Duh....
Ting
Pesan masuk terdengar di ponsel semua anggota. Imel yang ngeh langsung membuka grup keuangan dan langsung berteriak, "Mbak Nadya."
"Apaaan, ngapain teriak-teriak sih." Protes Cindy yang langsung memukul lengan Imal.
"Poto di grup keuangan lihat."
Semua langsung membuka grup keuangan, mata mereka langsung mendelik kompak tanpa dikomando.
"Nadya." Ucap Ersa dan Cindy sambil menatap tak percaya pada Nadya, apalagi caption yang ditulis Erick sangat absurd.
Bu Bos ganas bangetťttt
Yaah....kali ini memperjelas cu*ang di leher Alan yang sempat terlihat oleh Rudi beberapa hari lalu, dan kini Erick yang melihat secara langsung. Pasalnya pagi itu memang semua manajer, Rilo dan Alan meeting bulanan. Kebetulan Erick duduk di dekat Alan, matanya yang jeli langsung menangkap bekas gairah pengantin baru di leher Alan. Tanpa ba bi bu langsunh cekrek kirim di grup keuangan.
**Nadya: Pak....hapus dong!!!
Ersa: Mataku ternoda pagi-pagi, Ya Allah tolonggggggg
Imel: Kasihani anak perawan ini mak
Nadya: Halah....anak perawan apaan, apa kabar Bian?
Imel: Mbak jangan buka kartu.
Cindy: Udah buka segel?
Imel: Kalau Mbak Nad, sih udah. Bukti udah nyata di leher bos.
__ADS_1
Nadya : Itu digigit nyamuk
Ersa: Hanya orang bodoh yang percaya itu gigitan nyamuk
Erick. KERJA WOOOOYYYYYYY**
Para perempuan keuangan langsung tertawa ngakak membaca teguran manajer ganteng itu. Mereka pun segera menyimpan ponsel dan berkutat pada layar komputer masing-masing, tapi tetep obrolan tentang Nadya dan Alan masih berlangsung, sampai Nadya kesal dibuatnya.
Saat makan siang tiba, Nadya menuju ke ruangan Alan. Langsung masuk dan merebahkan diri di sofa karena sang suami memang masih menemui klien di ruangan sebelah.
Suhu ruangan yang sejuk, badan juga sangat capek, Nadya pun memejamkan mata. Entah berapa menit dia tertidur hingga ******* lembut membangunkannya. Wajah tampan sang suami sudah di depan mata.
"Meetingnya udah?" tanya Nadya.
"Udah, mau makan apa? pules banget. Udah sholat?"
Nadya menggeleng, "Nunggu kamu."
"Ya udah ayo." Alan sudah menyingkap kemejanya hingga siku. Namun ditahan oleh Nadya. "Kenapa?"
Nadya menatap wajah Alan, memiringkan kepala mencari sumber gosip para karyawan. "Kenapa sih sayang, melihatnya gitu amat?"
"Mas ...ya Allah, ini." Ucap Nadya sambil memegang bekas itu.
"Oh. Ini. Kenapa?"
Puk
Nadya memukul lengan Alan sambil cemberut. Tapi sialnya Alan justru tertawa ngakak. "Kamu gak malu ya Allah, Mas. Kamu yang merah aku yang malu."
Alan tergelak dan langsung memeluk istri tercintanya, mengecup bibir manisnya sekilas. "Ngapain malu, bangga banget, punya istri liar abis."
"Sembarangan....aku yang malu, Mas."
"Biasa kali, lagian di dada kamu malah banyak."
"Astaghfirullah, Massss." Nadya geram, omongan Alan sevulgar itu.
"Beruntung banget kamu pakai hijab, jadi aku bisa sepuasnya kasih stempel. Apalagi di sini." Ucap Alan sambil meremas 'masa depan' sang istri.
"Dihh....tangannya." Tepis Nadya kasar, ia pun segera menuju toilet di ruangan Alan, berwudhu dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim secara berjamaah.
__ADS_1