
Alan tertawa hingga memegang perutnya, melihat ekspresi Nadya yang kaget setengah mati dengan rencana Alan. Bisa-bisanya nikah tanpa rencana dan besok pula. Gila.
"Santai kali, Nad."
"Gak bisa santai kalau urusan masa depan kali."
"Emang bisa kok."
"Ya tahu kamu bisa, tapi ya gak segitu cepetnya. Bisa-bisa ibu jantungan pulang dari rumah Pak RT anak gadisnya minta nikah."
Alan terkekeh, ia pun kembali menatap wajah cantik Nadya yang masih merona. "Kamu siap kapan?" tanyanya kemudian.
"Nunggu Naila nikah ya, aku bakal ikhlas lahir batin menikah setelah adikku terjamin kehidupannya."
"Aku bisa tanggung hidup kamu dan keluarga kamu sayang."
"Aku gak mau, Mas. Aku gak mau merepotkan orang lain."
"Ck...kamu masih menganggap aku orang lain?"
"Ya maksud aku, biarkan hidup ibu dan adikku aku yang tanggung, Mas. Aku tuh malu kalau mereka butuh apa-apa sedangkan aku harus minta kamu dulu, bukan aku banget."
Hufh...Alan menghembuskan nafasnya berat, calon Nyonya-nya ini begitu keras kepala dan terlalu mandiri, bahkan menerima sokongan dana dari Alan pun ia tolak. Coba bayangkan kalau cewek lain, belum dikasih malah minta.
"Nanti kalau Naila udah nikah, udah ada yang nanggung hidupnya, baru deh aku lega. Setidaknya aku sudah memenuhi janjiku pada Ayah untuk membuat ibu dan adikku bahagia."
Alan tersenyum, merasa terharu akan kepribadian Nadya, gadis yang tak manja sekali, bahkan rela menunda kebahagiaannya demi sang adik.
"Emang kapan Naila mau nikah, udah ada calon?"
"Katanya sih tiga bulan lagi gitu, gak paham juga. Sebenarnya mereka sih teman tapi mesra gitu, tapi cowoknya udah beberapa kali melamar Naila, janjinya saat pulang ke Indo baru deh melamar Naila."
Alan mengangguk saja, "Sama ibu gak pa-pa kamu dilangkahi?"
"Gak boleh sih, hanya saja sekarang aku punya alasan, ibu gak perlu takut karena aku sudah punya calon."
"Siapa calon kamu memang?" goda Alan ingin memastikan dengan senyum yang masih tercetak tipis di wajahnya.
"Pakai nanya lagi." Cibir Nadya sewot yang diiringi tawa Alan yang terdengar sangat bahagia.
"I love you!" ucap Alan tiba-tiba dengan menatap Nadya intens. Sedangkan Nadya hanya menyunggingkan senyum.
"Gak usah dibalas, dengan kamu mau menerima aku jadi calon suamimu, di situ aku percaya sebenarnya kamu sudah ada rasa sama aku."
__ADS_1
"Tuh tahu."
*********
Hufh....Ibu baru saja menutup ponselnya, entahlah sepagi ini siapa yang menelpon. Nadya duduk di meja makan, mengambil nasi dan telor dadar serta sambal kecapnya. Hanya menu sederhana di pagi hari yang sudah disiapkan oleh ibu.
"Kenapa, Bu?" tanya Nadya sambil menyendokkan makanannya.
"Yu Mi telpon."
"Yu Mi siapa?" Naila yang baru saja bergabung langsung menyahut.
"Yu Mi istrinya Gok Ras di desa Nenek kamu, ingat gak?"
Nadya mengangguk saja, sepertinya ada berita penting hingga membuat ibu diam, suara omelan merdu di pagi hari tidak terdengar kali ini.
"Emang kenapa sih?" Naila penasaran.
"Yu Mi dan Gok Ras ini kan suami istri. sedangkan Mbak Sin dan Kang Agus juga suami istri. Yu Mi ini budenya Mbak Sin, Gok Ras kakak kandung Kang Agus."
Nadya dan Naila melongo, pagi-pagi diberi kabar silsilah keluarga tetangga di rumah ibu di desa. Pusing.
"Lalu?" Nadya pura-pura paham dan ingin melanjutkan cerita ibu saja ketimbang mencerna silsilah keluarga Yu Mi.
"Ya kan pamali, nikah dengan hubungan kekerabatan dekat seperti itu, yang tua akhirnya menanggung akibatnya. Gok Ras bangkrut karena banyak hutang, harta bendanya disita karena gak mampu bayar hutang plus bunganya."
"Eh kamu yah, namanya pamali itu jalannya ada aja. Dulu Mbak Sin mau nikah udah dikasih tahu baik buruknya, gitu juga diterabas sekarang efeknya."
"Hufh...gak bisa dinalar Bu." Masih Naila yang berkomentar, Nadya mah cuek, merasa bukan urusannya.
"Ya maksud ibu cerita ke kalian itu biar kalian tidak terlibat hubungan rumit yang bertentangan dengan agama dan adat."
"Insyaallah enggak, Bu!" jawab Nadya pelan.
" Kalau kalian menjalin hubungan dengan laki-laki itu jangan cinta aja yang dilihat tapi seluk beluk keluarganya juga."
"Tuh, Nai. Dengar!" Cicit Nadya pada sang adik.
"Gue mah udah kenal sama keluarganya Rafly." Jawabnya Jumawa.
"Kenal atau sekedar tahu. Ingat ya Nai, ibu gak mau kamu salah pilih suami, apalagi kalian selama ini hanya berkomunikasi lewat pidio kol."
Nadya tertawa hingga keselek, logat ibu mengatakan video call medok banget, nasehat yang seharusnya terdengar serius malah bikin ngakak.
__ADS_1
"Iya..iya, Bu. Mbak Nadya juga harus dinasehati juga."
"Calonnya mbak Nadya mah ibu udah kenal!"
"Emang siapa, Bu?" tanya Naila dengan memicingkan mata curiga pada sang kakak.
"Makanya jangan telpon terus sama Rafly, giliran mbak kamu ada tamu dan dila-----"
" Alan maksudnya? Beneran mbak?"
Nadya mengangguk saja, detik berikutnya ia dipeluk erat oleh sang adik. Naila begitu bahagia akhirnya Nadya mau menjalin hubungan dengan lawan jenis. Jalan menuju pelaminan dengan Rafly sekarang tak ada hambatan.
"Apaan sih, Nai. Lebay tau gak." Ujar Nadya sambil memukul lengan Naila yang melingkar di pundaknya.
"Ih..aku tuh bahagia, akhirnya mbak gue yang jomblo akut laku juga."
"Sembarangan." Cibir Nadya.
"Kalau gitu Naila boleh nikah tahun ini kan, Bu? Kan mabak Nadya udah punya calon."
Ibu hanya diam, "Sebenarnya ibu lebih sreg Mbak kamu dulu yang nikah, Nai."
"Bu, Nadya kan udah punya calon, ibu gak usah khawatir akan hal itu. Nadya lebih bahagia dan ikhlas kalau Naila dulu yang nikah, dan hidupnya bahagia, Bu."
"Pamali, Nad."
"Bu, Bismillah, kita tidak tahu rencana Allah bagaimana. Tapi yang jelas, Naila lebih baik menikah terlebih dulu. Bayangkan saja, Bu. Kalau Nadya yang menikah dulu, Nadya tidak bisa membahagiakan ibu dan Naila sepenuhnya, ada suami yang Nadya prioritaskan juga."
"Masa' Alan gak sanggup biayain kita sih, Mbak?"
"Bisalah, tapi Mbak gak mau nanti apa yang sudah dikeluarkan Alan apalagi masalah materi bisa diungkit di suatu hari nanti, mungkin bukan Alan. Tapi keluarga besarnya? kita tidak tahu akan hal itu."
"Ah..bijak sekali sih Mbakku ini."
"Pret!"
"Eh tapi tunggu, kalau aku nikah dulu, terus mbak nikah tahun selanjutnya, ibu sama siapa?"
Suasana bahagia meredam sementara, pembahasan akan kelanjutan hidup ibu mereka menjadi pembahasan cukup serius dan bisa memicu derasnya air mata. Pasalnya baik Alan dan Rafly tentu punya rumah sendiri dan akan mengajak istrinya tinggal terpisah dengan ibu. Lalu ibu? bersama siapa?
"Ya udah, ibu nikah lagi aja." Celetuk Nadya yang langsung mendapat tonyoran di pipinya oleh ibu.
"Sembarangan kalau ngomong, ibu tuh lopdet sama ayah kamu."
__ADS_1
"Ecie lopdet!" ledek Nadya dan Naila kompak lalu mereka tertawa terbahak-bahak di meja makan, menutup sarapan dengan tawa.
Alhamdulillah