SULUNG

SULUNG
HEMPASKAN BIBIT PELAKOR


__ADS_3

Alan menopang kepalanya dengan tangan kanannya di atas ranjang, melihat Nadya yang sedang berias. Sedangkan dirinya masih memakai baju koko dan sarung. Bayangan liarnya sang istri tadi malam membuatnya senyum-senyum sendiri.


"Mas, udah ditunggu di bawah loh, ayo dong!" Pinta Nadya yang melirik Alan dari kaca rias hotel, ia sendiri sedang merapikan pashminanya.


"Sarapan kamu dulu gimana?" godanya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. Nadya hanya memutar bola matanya malas.


"Udah ah, ayo." Nadya menarik tangan sang suami agar segera bangun, namun apa daya justru dirinya yang masuk dekapan Alan. "Mas!" pekiknya kesal, memukul dada Alan yang terkekeh.


"Wangi."


"Udah ah, ayo, aku lapar."


"Habis sarapan lagi ya."


"Ogah."


"Dih....katanya istri shoooolleeeehaaa."


Nadya tertawa, mencium bibir sang suami sekilas dan beranjak mengambil baju sang suami, pasalnya Ardhan sudah menelponnya.


"Apaan!" jawab Alan, terpaksa menjawab panggilan Ardhan di ponsel Nadya.


"Turun woooyyy, kita nunggu udah 10 menit. Lapar elah."


"Iya."

__ADS_1


Tut


Wajah bahagia tampak jelas di raut Alan dan Nadya, berjalan beriringan dengan Alan yang merangkul bahu Nadya posesif. Keduanya menyapa dan meminta maaf atas keterlambatan.


"Selamat makan semua." Ucap Mama Shofi sebelum sarapan dimulai. Keluarga Nadya pun ikut serta menginap di hotel ini, entah berapa uang yanh harus dikeluarkan mama Shofi, memikirkannya pun membuat Nadya pusing.


"Kamu kelihatan cinta banget sama Nadya, emang dia seistimewa itu ya?" tanya Meysa dengan suara pelan. Hanya terdengar Alan, Nadya dan Ardhan yang kebetulan memang satu meja.


Sontak saja ketiganya menatap Meysa kaget. "Maksud lo?" sewot Ardhan. Dari dulu memang dia gak suka dengan Meysa. Geram rasanya kalau masih mengejar Alan sampai detik ini.


"Well, Alan kan kaya banget, sedangkan Nadya dari keluarga...ya you know what i mean..., pasti ada kepentingan merebut harta dong ya?" lah makin njeplak aja tuh omongan si jendes.


"Gak usah merusak mood orang sarapan. Kamu keluarga jauh yang ngaku-ngaku dekat dengan keluargaku, gak berhak menilai istriku seperti itu."


Ting


Nadya menghempaskan sendok ke piring dengan kasar, bahkan Alan dan Ardhan sampai menoleh. Untung saja, keluarga besar masih menikmati jamuan sarapan.


"Maaf ya, Mbak Meysa terhormat. Kalau mau memfitnah yang berkelas dong. Kalaupun saya menguasai harta suami saya kenapa, bukan urusan situ. Lagian satu hal yang harus kamu tahu, hormati dirimu, jangan merendahkan harga diri seorang wanita untuk mengemis cinta pada lelaki, terlebih suami orang. Kayak gak laku aja."


"Kamu--"


"Lo pikir gue takut dengan lo, jangan mentang-mentang lo ngaku keluarga terus seenaknya mendekati suami gue, tiap hari WA apaan itu maksudnya. Mau jadi pelakor?"


"Jaga ucapan kamu ya." Mulai naik pitam. Ardhan hanya melipatkan dada, ingin melihat sejauh apa Nadya mempertahankan kepemilikannya. Sedangkan Alan, beberapa kali mengusap punggung, dan berbisik gak usah diladeni.

__ADS_1


"Wah...marah, emang salah ya? jadi perempuan kok ngejar cinta sih, harusnya jadi perempuan itu kalem gak tebar pesona sama suami orang. Dih ...cantik wajahnya burik akhlaknya."


"Kayak lo berakhlak baik aja."


"Setidaknya gue gak ganggu suami atau rumah tangga orang lain."


"Lihat aja, gue bakal rebut Alan dari sisi lo, biar lo tahu siapa gue."


"Dan sebelum elo rebut gue, lo sendiri yang bakal gue tendang menjauhi hidup gue. Ingat Mey, gue menghormati lo karena mendiang suami lo, kalau kayak gini jangan harap gue baik sama lo. Cukup hari ini saja lo menghina istri gue, karena kalau gue dengar lagi gue gak segan-segan kasih peritungan sama lo. Camkan itu. Rese'." Ucap Alan yang langsung menarik tangan Nadya menjauhi Meysa.


"Eh...mmau ke mana?" tanya mama tiba-tiba, mengetahui gelagat Alan yang akan pergi.


"Pindah meja aja, pengen berduaan." Sahut Alan menampilkan cengir khasnya.


"Pengantin barunya gas polllll." Ucap Malik, sepupu Alan, dan dijawab hanya acungan jempol oleh Alan. Ia memilih meja yang jauh dari keluarganya, menikmati sarapan berdua dengan Nadya saja.


"Maaf ya." Ucap Nadya di sela-sela menyuapkan omelet.


"Gak pa-pa, malah aku seneng. Kelihatan banget kamu melindungi rumah tangga kita dari pelakor."


"Aku gak mau dalam rumah tangga ini ada pelakor dan pebinor. Makanya kita harus jujur apapun itu, terbuka di setiap permasalahan yang ada."


"Beres, apalagi terbuka di kamar. Abang siap, Neng."


"Plis deh, Mas. Gak usah mikir ke situ terus." Protes Nadya kesal, sedangkan Alan hanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2