
Pagi ini mata bantal Nadya terlihat sekali, ia baru bisa tidur setelah shubuh, dan sampai saat itu pesan dari Alan tak kunjung masuk. Okelah, hari ini ia akan berdiskusi dengan Alan. Secepatnya ia harus bicara empat mata dengan Alan.
Ia pun bersiap dengan cepat, sarapan pun ia sesekali berdebat dengan Naila, Rafly sudah menjemput Naila. Hem...kalau kayak gini, mending dinikahi secepatnya memang, Rafly serius juga sama Naila. Fix keputusan Nadya sepertinya putus adalah jalan keluar terbaik untuk mereka, salah...terbaik untuk Nadya lebih tepatnya.
Memasuki lobi dengan sedikit tergesa, pagi itu ia kembali mengendarai motornya, yah.. dia pikir Alan pasti masih marah, dan tentu tak akan menjemputnya. Ia masuk ke ruang keuangan, sudah banyak yang datang, karena memang Nadya datang pres.
Ia duduk, segera mengambil ponsel kembali, mengecek apakah pesan yang tadi pagi ia kirim pada Alan sudah dibalas. Hufh... lagi-lagi tak terbalas. Nadya pun segera mengirim pesan ke Erfina, ia yakin sekertaris cantik itu sudah datang.
/Pagi, Mbak Erfina, mau tanya ni, Pak Alan sudah datang?/
/Belum, Nad. Tadi bilangnya masuk kantor setelah makan siang/
/Oke Mbak, Makasih/
Cukup sudah memikirkan Alan, saatnya Nadya fokus pada pekerjaan, jangan sampai urusan pribadi mempengaruhi kinerjanya. Terlebih dia masih status kekasih Alan, takut saja ada omongan gak enak seperti mentang-mentang pacarnya si bos, kerjanya boleh gak beres, Nadya sangat menghindari hal itu.
"Nad, istirahat dulu yuk!" ajak Cindy, barulah Nadya ngeh kalau sudah waktunya istirahat.
"Kenapa si Lo, tumben hari ini diam-diam bae!" celetuk Ersa sambil membawa mukenahnya. Seperti biasa mereka akan ke mushola kantor dulu, baru makan siang.
"Lagi penat banget, nih!" ujar Nadya dengan memijat keningnya pelan. "Udah yuk!" ajaknya kemudian.
Cindy, Ersa dan Nadya ke mushola kantor. Bercengkrama layaknya karyawan lainnya yang sedang merencanakan nongkrong di cafe baru akhir pekan ini. Tapi seperti biasa, Nadya akan absen untuk kegiatan itu lantaran sang adik kemungkinan akan lamaran atau bahkan nikah.
"Nad!" panggil Rilo, ketiga perempuan itu menoleh. "Boleh pinjam Nadya?"
"Ck...emang aku barang apa, sholat dulu Pak Rilo." Protesku yang mendapat anggukan dari Rilo.
Setelah sholat, aku dan Rilo berpisah dengan Ersa dan Cindy, karena asisten Alan itu mengajak makan siang di luar kantin kantor. Tepatnya di Cafe seberang kantor.
"Kamu lagi ada masalah sama Alan?" tanya Rilo to the point sambel menyeruput jus mangga pesanannya.
Nadya mengangguk saja, "Pacarnya adik saya adiknya Mas Alan."
"Hah? Ardhan pacaran sama adik kamu? Jadi Ardhan yang mau nikah itu sama adik kamu?"
Sekali lagi Nadya mengangguk.
"Sambil makan, Nad."
__ADS_1
"Ck...gimana ***** makan, Pak. Potek nih hati saya!" ujarnya sambil cemberut. Rilo pun terkekeh.
"Menghadapi masalah tuh juga butuh tenaga, gak usah lebay deh, kasihan tuh perut!"
Benar juga sih, menghadapi masalah tentu menguras hati, tenaga, otak dan dompet. Lah kok dompet, iya sih, biasanya kalau lagi penat bin jenuh Nadya akan shopping sepuasnya untuk melampiaskan kekesalannya, tapi setalah moodnya baik dia bakalan mewek karena uangnya terkuras. Aneh.
"Ya udah sih, kalian nikah semua aja! kamu sama Alan, Adik kamu sama Ardhan."
"Maunya gitu, nikah dengan pasangan masing-masing. Hanya saja, ibu saya Pak yang gak mau, baik saya dan Naila disuruh rembukan siapa yang akan mengalah."
"Kok gitu?"
"Ibu saya itu punya kepercayaan sesuai asal daerah beliau, menikah dengan kekerabatan dekat itu pamali."
"Kan secara agama boleh aja sih, Nad."
"Ya itu pemikiran kita, Pak. Tapi ibu beda!"
"Lalu?"
"Kemungkinan besar aku yang mengalah!"
"Pantas saja, semalam Alan uring-uringan terus."
Lagi-lagi Nadya mengangguk.
"Sebenarnya saya belum memutuskan sih, cuma itu kemungkinan terburuk, dan saya juga belum berdiskusi dengan Alan."
"Rumit, Nad. Masalahnya ibu kamu juga punya prinsip kayak gitu."
"Saya juga bingung, Pak. Hiks..."
Jebol sudah air mata Nadya yang berusaha ia tahan, cueknya Alan yang mengabaikan pesannya sejak malam, membuat ia begitu merasa bersalah.
"Bicarakan sama Alan, karena ini menyangkut perasaannya dia juga, Nad. Kamu tahu kan, trauma yang ia punya dengan perempuan dan kamu bisa menyembuhkannya."
Nadya mengangguk dengan sesekali mengusap air matanya dengan tissu.
"Setelah ini temui Alan, dia lagi longgar gak ada meeting, hanya check berkas aja, makanya dari tadi malam dia ke apartemen gue, nangis."
__ADS_1
"Sampai nangis?" Nadya kaget.
"Alan tuh memang tegas dan keras tapi sebenarnya dia itu rapuh, Nad. Beban jadi pewaris perusahaan besar di usia muda bikin dia hanya fokus pada belajar dan bisnis, teman dekat saja bisa dihitung. Dia cenderung tertutup, ceritanya ya sama aku saja. Bahkan mamanya saja gak terlalu dekat."
"Iya aku tahu, Mas Alan pernah bercerita saat kuliah dulu dipaksa menggantikan sang papa yang terkena serangan jantung. Bahkan ia harus merelakan cita-citanya menjadi arsitek."
"Beuh...terbuka juga dia sama kamu."
"Ya mungkin Mas Alan menganggap aku calon isterinya makanya dia mau terbuka."
Rilo mengangguk, ia melirik jam tangannya sebentar dan mengajak Nadya balik ke kantor.
"Bicarakan dengan tenang, Nad. Jangan sampai terbawa emosi, kalau dia gak mau bicara cuekin aja, pergi aja, beri waktu dia untuk berpikir."
Nadya mengangguk.
"Udah sana, masuk ke ruangan Alan!" ucap Rilo saat Nadya sudah di antar di depan ruangan Alan. Erfina pun mengangguk.
"Mumpung longgar, Nad. Tapi wajahnya serem."
Nadya melipat bibirnya ke bawah, pengen mewek. Tapi ia harus secepatnya berbicara dengan Alan.
Tok...Tok...Tok
"Masuk!" titah Alan dari dalam. Tampak ia langsung konsentrasi pada tumpukan dokumen.
"Mas!" sapa Nadya yang sudah berdiri di depan mejanya. Seketika Alan mendongak, menatap wajah sang kekasih, tapi hanya beberapa detik saja, kemudian fokus lagi pada lembaran dokumen.
" Inii kantor tolong panggil Pak."
Deg
Nadya kaget dengan ucapan Alan yang sedikit ketus. Terlebih meralat panggilan sayang Nadya pada dirinya.
Hufh...sabar Nad, sabar, Nadya menguatkan hatinya agar tegar, tidak cengeng dan berusaha menjelaskan sebijak mungkin.
"Hem.. sepertinya Pak Alan sibuk, karena yang mau saya bicarakan adalah kepentingan pribadi, maaf kalau sudah mengganggu waktu Pak Alan, permisi."
"Iya, saya sibuk." Jawab Alan cuek tanpa menatap wajah Nadya. Entah mengapa Nadya berbalik menuju pintu air matanya menetes, mungkin ia belum siap diperlakukan seperti itu oleh Alan.
__ADS_1
SHITT!!! Umpat Alan sepeninggal Nadya.