
Di sinilah Nadya sekarang, di depan layar komputer kantor ia menahan segala kecewa dengan bekerja. Satu hal yang membuat ia melupakan sejenak tentang Alan adalah angka-angka rupiah dan Excel.
"Nad, kamu lembur gak hari ini?" tanya Cindy yang sudah merapikan meja kerjanya. Nadya menoleh dan langsung melihat jam tangannya, sudah jam 4 lewat.
"Gak lembur tapi pulang agak telat mungkin, masih ada kerjaan yang belum beres, aku sholat dulu!"
"Bareng!" pinta Imel, kedua gadis cantik itu pun segera menuju musholla kantor. Memang Nadya tak berniat lembur, ia akan menyelesaikan kerjaannya sampai jam 5 sore saja, setelah itu baru pulang.
Setelah sholat ashar, Nadya kembali ke meja kerja, bermain dengan keyboard, sesekali dengan pensil atau bolpoin dan sticky notes Nadya larut dalam pekerjaan hingga tak sadar jarum jam sudah menunjuk pukul 5 lewat, anak keuangan lain masih betah di ruangan, begitupun Cindy yang dari tadi sudah siap untuk pulang, eh dikasih kerjaan sama Pak Erick. Alhasil, devisi keuangan masih lengkap personilnya.
"Oke, done! Pak Erick saya kirim email laporan, Hardnya masih perlu dijilid apa mentahan aja?" tanya Nadya yang sudah selesai pekerjaannya, mulai berberes dan sesuai rencana ia akan pulang.
"Jilid aja, sekalian bukti kwitansi pengeluarannya kamu jilid juga. Pastikan urut sesuai tanggal."
"Baik!" jawab Nadya, ia pun membawa draft ke bagian umum yang bertugas penjilidan berkas. Setelah itu Nadya undur diri, diikuti anak keuangan lain. Mereka berpisah di parkiran, seperti biasa Nadya akan bermain ponsel sebentar, mengecek pesan yang masuk.
/Oke, jemput aja jam 5 teng ya, awas kalau telatππππ/
Begitu balasan Nadya pada pesan Nathan. Wajahnya sumringah karena akan bertemu sahabatnya lagi, nanti ia akan mengajak Tya cs buat ketemuan juga, seperti janji Nathan di pernikahan Nafa dulu, ia akan mentraktir steak kalau pulang ke Indonesia lagi.
"Nad!"
Nadya sontak merotasikan kepalanya ke sumber suara, Alan. Nadya celingukan, padahal tadi gak ada mobil masuk juga, kok tiba-tiba bos ganteng ini sudah muncul di sampingnya.
"Eh Pak Alan!" jawabnya dengan nada kaget.
Alan mendekati Nadya, gadis yang masih betah berdiri di samping motornya itu ikut bingung, mau apa Alan sebenarnya. Tadi siang juteknya minta ampun, lah sekarang malah berdiri di depannya. Bos ganteng aneh.
"Aku antar!"
"Hm?"
"Untuk kali ini nurut ya, ikut aku!" pinta Alan lebih lembut, Nadya menghela nafas berat, kalau Alan sudah begini panjang ini urusannya. Ia pun mengekori langkah Alan menuju mobilnya, tidak ada Rilo maupun Mutia, apa jangan-jangan Alan sengaja menunggu Nadya turun ya, entahlah.
Mobil Alan mulai keluar dari parkiran, meski sudah sore, wajahnya masih tampan, Nadya masih mengamati dengan seksama, biarlah, anggap saja ini kesempatan berdua untuk terakhir kalinya.
"Kenapa ngelihatin kayak gitu?" Alan heran akan pandangan Nadya.
"Menikmati wajah tampan sang mantan."
"Ck...bisa gak sih gak usah bahas montan mantan mantan mulu, bikin badmood aja!" kesalnya tapi membuat wajah Alan semakin menggemaskan. Nadya pun tertawa mendengar celotehan kesal Alan.
"Ya emang kita mantan kan?"
__ADS_1
"Otw Nad." Tegur Alan dengan sinis, namun Nadya malah tertawa, sekilas Alan menoleh, ia pun ikut tersenyum juga. Ada rasa bahagia karena tak bersitegang dengan gadis pujaan hatinya.
"Lagian kenapa sih gak mau jadi mantan aku."
"Cowok yang menyia-nyiakan kamu, rugi banget!"
"Hm....aku dekat sama cowok ya cuma kamu, gak ada yang lain."
"Nathan AY apa kabar!" sindirnya dengan nada sinis, Alan yakin bahwa Nathan mungkin laki-laki spesial selain dirinya dalam hidup Nadya.
"Sahabat SMA!"
"Apaan ada inisial AY gitu, ayang maksudnya?" Alan masih mode ketus.
Nadya tertawa, Alan benar-benar gak suka dengan Nathan. Sedari tadi bahas pemuda itu, dirinya langsung mode senggol bacok.
"AY tuh nama panjangnya, Alexander Yudistira." Terang Nadya dengan menahan tawa. "Kalau mau senyum, senyum aja, biar tambah tampan." Goda Nadya, sengaja agar bos gantengnya itu tersenyum sekaligus mencairkan kesalah pahaman mereka. Ah ....Nadya tadi aja bilang mantan, tapi melihat wajah tampan Alan luluh juga, pret.
"Makan dulu yuk!" Nah kan mereka baikan lagi, kalau kayak gini kapan juga bisa move on, tarik ulur tak bisa putus.
"Mas kamu gak marah sama aku?" tanya Nadya saat mobil sudah menuju ke parkiran mall.
"Marahlah!"
"Kok ngajak makan?"
Nadya terkekeh lagi, selagi Alan masih kesal sama dia, maka Nadya akan terus usil, biar semakin emosi dan tak nyaman dengan Nadya.
Keduany menuju ke outlet makanan cepat saji berlogo M, bahkan Alan rela mengantri, ck..demi apa coba sampai berbuat seperti itu. Ingin terharu karena diperlakukan istimewa oleh bos ganteng itu, tapi dalam hati malah tak tega, karena ia tahu kebutuhan Alan pasti ada yang menyediakan, dan tak perlu sampai turun tangan sendiri.
"Jadi?" tanya Alan memastikan siapa Nathan AY sebenarnya, padahal ia baru duduk dan meletakkan nampan berisi rice box, burger, soda, es krim dan French fries.
"Jadi apa, makan dulu aja ya!"
"Sambil makan, cerita juga bisa!" Jawab Alan sambil melipat lengan kemeja hingga ke siku, wajah lelah dan sedikit berantakan malah membuat Nadya tertegun, mengakui kalau si mantan sangat tampan di semua kondisi. Ah....jadi beratkan mau putus. "Kenapa?" tanya Alan yang baru menyadari Nadya sedang menamatkan penampilannya.
"Gak pa-pa!" jawab Nadya dengan rona merah di wajahnya, Alan tersenyum saja melihat tingkah Nadya tersebut, ia yakin rasa cinta Nadya pada dirinya masih sangat besar.
"Kalau kamu jadi istriku, puas-puasin deh melihat wajah atau bahkan merasakan----"
"Gak usah ngomong aneh-aneh!" sanggah Nadya ketus, semakin ke sini omongan Alan terlalu vulgar dan bau-bau mecum. Dasar.
"Apaan aneh, kamu kali yang piktor!"
__ADS_1
"Udah ayo makan!"
"Ayo cerita!"
"Nanti habis makan aku cerita, takutnya kalau dengar cerita aku kamu gak selera makan." Nadya mulai menikmati kriuknya paha ayam, soda dan burger. Entahlah sore itu dia rakus sekali di depan Alan, tak ada jaimnya juga. Yah memang meski Alan adalah cinta pertama, pacar pertama Nadya, tapi ia tak pernah jaga image ketika berdua. Niat dari awal kan menikah, ya sudah Nadya harus bersikap apa adanya, dan kebetulan Alan malah sangat nyaman dengan sikap Nadya.
Hampir 15 menit mereka makan dengan tenang, sesekali saling melirik namun ketahuan juga, Alan seperti tak bosan menatap wajah Nadya yang teduh, ingin sekali ia langsung bayar tunai atas gadis itu.
"Alhamdulillah!" ucap Nadya dengan tersenyum pada Alan.
"Gak gratis loh ya!"
"Iya tahu, berapa yang aku bayar?" tanya Nadya sambil membuka dompetnya, Alan mendekat ke wajah Nadya dan menyentil pelan kening gadis itu.
"Gak usah bayar pakai uang, uangku masih banyak."
"Dih... sombongnya. Di atas langit tuh masih ada Hotman Paris tahu."
"Udah ayo cerita!"
"Oke aku akan cerita, tapi jangan dipotong atau tanya sebelum aku selesai. Deal!"
"Oke!"
Nadya pun mulai menceritakan siapa Nathan AY. Yah Nathan AY itu adalah cowok yang dipanggil ibu Nadya dengan sebutan Yudis. Sahabat SMA Nadya yang juga naksir Nadya. Kenapa ibu manggil Yudis, karena lidah beliau keseleo kalau memanggil Nathan Alexander itu, beliau lebih suka Yudistira, karena kesan Indonesianya lebih kental.
Nadya dan Nathan sudah dekat sejak masuk SMA, lebih tepatnya saat MOS. Nadya selalu mengajak Nathan berkelompok karena Nathan cowok yang pendiam, tanpa ekspresi dan cuek banget. Alhasil ia sering diberi hukuman oleh kakak panita, Nadya yang merasa kasihan mengajak Nathan untuk berteman dan mengajaknya mengerjakan tugas.
Hanya dengan Nadya, Nathan mau ngomong, terlebih ia baru saja kembali ke Indonesia, bahasa Indonesianya tak lancar sehingga ia minder untuk bercakap-cakap dengan temannya, maklumlah sejak kelas 6 SD ikut ayahnya ke London, melanjutkan kuliah dan sengaja menetap di sana, dan percakapan sehari-hari didominasi bahasa Inggris.
Nadya yang lemah dalam percakapan bahasa Inggris, belajarlah pada Nathan. Interaksi keduanya pun terjalin sejak hari itu. Bahkan tiga tahun di SMA keduanya masuk kelas yang sama. Teman Nadya seperti Tya dan Nafa menyebut keduanya sahabat rasa pacar, meskipun pada kenyataannya Nathan merasakan cinta sepihak saja.
Sampai akhirnya kelulusan tiba, Nathan mengungkapkan perasaannya sekali lagi pada Nadya, namun jawaban Nadya tetap sama, tidak mau pacaran. Nathan kecewa, sedih dan ada rasa kesal juga pada Nadya, dan saat itu sang ayah menawarkan kuliah di Singapura, tanpa pikir panjang dan keputusan labil dari anak remaja itu, Nathan pun menerima tawaran itu.
Nathan sempat berpamitan pada ayah, ibu, Nadya maupun Naila, ibu menangis saat Nathan pamit, karena beliau sangat sayang pada Nathan, bahkan beliau menyebut mantuku pada Nathan. Ah...sedekat itu hubungan mereka.
Sebulan dua bulan, Nadya dan Nathan masih bertukar pesan, tapi setelah semester tiga, Nathan mempunyai kesibukan sendiri sekaligus sedang belajar membuat start up, keduanya pun lose kontak, tak ada niatan mencari satu sama lain, hingga di pernikahan Nafa kemarin merkea bertemu.
"Baik dong ya si kudis itu." Ucap Alan dengan nada menyindir, entahlah apa maksudnya ia mengucap seperti itu, menyindir atau mengakui kebaikan Nathan pada Nadya.
"Nathan aja deh manggilnya, toh lidah kamu juga gak keseleo kayak lidah ibu."
"Enggak, enakan kudis!"
__ADS_1
"Ck...cowok cakep gitu dipanggil kudis, gak terimalah aku."
"Sayang aku cemburuuuuuu!" rengek Alan manja dan berhasil membuat Nadya tertawa terpingkal-pingkal, hingga air mata pun muncul di sela tawanya.