SULUNG

SULUNG
BAYAR TUNAI


__ADS_3

Matahari bersinar sangat cerah, cuaca pagi ini sangat bersahabat seolah menyetujui pernikahan mendadak Alan-Nadya. Para hafidz qur'an sudah membaca ayat suci sejak jam 6 pagi. Suguhan bubur ayam dan nasi uduk Bu Mahmudah sudah bertengger di depan rumah Nadya, sebagai konsumsi pagi bagi para tamu yang datang.


Pulang makan siang kemarin, ibu langsung membooking bu Mahmuda dan Bubur Ayam mang ujang. Sungguh persiapan super kilat. Sedangkan Nadya, si calon pengantin masih belum mandi dan wajahnya masih polos justru bertelpon ria dengan Alan. Calon suaminya itu mengaku tidak bisa tidur sama sekali.


"Pak De Shol sudah datang?" tanya Alan sambil rebahan.


"Belum, baru berangkat jam 5 tadi juga. Kasihan tahu."


"Nyampe sini jam berapa?" khawatir saja wali nikah Nadya tak datang.


"Jam 11an."


"Mepet banget sih."

__ADS_1


"Eh...bos ganteng kok protes, salah sendiri mau nikah persiapannya kurang dari 24 jam. Aku malah gak enak sama keluarga Pak De Shol, mendadak banget."


"Ya kan beliau sanggup. Gak masalah juga."


"Kamu ngantuk, Mas?" tanya Nadya yang melihat mata sayup Alan.


"Banget, aku gak bisa tidur tadi malam."


"Ya udah tidur dulu gih, mayan masih ada waktu buat istirahat."


"Ke bawah lah, banyak tetangga juga."


"Gak ada cowok kan?"

__ADS_1


"Ada. Pak RT." Alan terkekeh menatap wajah kesal Nadya, gadis yang beberapa jam lagi ia bayar tunai. Masih merasa seperti mimpi, tak menyangka pertemuan pertama karena spion mobil bisa berlanjut ke akad nikah. Bahkan, Alan harus diberi kesempatan merasakan arti sabar berkali-kali, moment yang menjadi pengingatnya nanti untuk selalu setiap pada Nadya. Pengingat akan perjuangan tak mudah mendapatkan gadis cantik itu, dan semoga cintanya selalu tumbuh mendalam untuk satu wanita.


Tepat pukul 2 siang, rombongan keluarga Alan datang. Bahkan Ardhan baru sampai jam 12 teng di rumah utama, sempat mengumpat pada kakaknya yang baru menghubunginga tadi malam setelah mengantar Nadya pulang. Begitu juga Rilo, asisten playboynya itu sampai misuh-misuh mendengar kabar mendadak, terpaksa selepas shubuh dia ke indonesia dan besok pagi terbang lagi ke Malaysia. Bos gak ada akhlak memang.


"Sudah siap?" tanya Pak Penghulu, setengah jam sudah prosesi penerimaan rombongan keluarga Alan. Bos ganteng itu terlihat gugup, wajah putihnya semakin pucat saja ketika berhadapan dengan penghulu dan wali nikah. Beruntung juga, Nadya tak keluar. Bisa buyar konsentrasinya.


"Siap." Jawab Alan sambil menegakkan tubuhnya, menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. Penghulu memulai membaca bismillah, syahadat dan sholawat sebagai muqaddimah sebelum ijab. Dan bebrapa menit kemudian, Alan menggenggam tangan kakak kandung ayah Nadya sebagai wali nikah. Pandangan lurus ke depan, dan menjabat beliau erat, dan tak lama kemudian Alan mengucapkan ijaq qabul atas nama Nadya Ayu Attalita binti Suherman tak kurang dari satu menit dengan satu kali nafas.


Teriakan sah menggema di ruang tamu rumah Nadya dan beberapa detik berikutnya Nadya sudah duduk manis di samping Alan. Mengadahkan tangan, mengaminkan doa pernikahan yang dibaca oleh pak penghulu. Sangat sakral dan membuat Nadya terharu. Akhirnya ia sah menjadi milik seorang Alan, pacar dan cinta pertamanya. Semoga menjadi sakinah mawaddah wa rahmah.


Detik berikutnya, prosesi salaman dan cium kening serta penandatanganan buku nikah dilakukan. Sesi foto pun dilakukan, saat moment Alan dan Nadya berdiri dengan menunjukkan buku nikahnya, Rilo dengan iseng mengambil moment itu dan memasangnya di status WA dengan caption SAH. Sengaja mencari masalah, karena ia tahu Alan dan Nadya masih menyembunyikan alasan keduanya tak masuk kerja hari ini.


Dengan seringai iseng lagi, ia mengunggah moment tukar cincin dengan senyuman keduanya yang bahagia, meski tampak dari samping. Kali ini status Rilo lebih menantang

__ADS_1


Hari patah hati nasional


Tak berlangsung lama, lagi-lagi Rilo mengunggah foto Alan mencium kening Nadya dengan caption BOS GANTENG SOLD.


__ADS_2