SULUNG

SULUNG
DILAMAR


__ADS_3

Alan melongo mendapati Nadya sangat cantik malam itu. Menggunakan gamis peach dengan pashmina bermotif abstrak, wajahnya dipoles make up tipis, cukup natural, tapi sangat menawan. Ah...Alan tak rela kalau menyaksikan laki-laki lain menikmati kecantikan gadisnya.


Yah Alan berhasil meyakinkan ibu bahwa ia tidak akan merusak pertemuan malam ini. Ia akan duduk manis di ruang tengah saja. Tak ikut menjamu tamu. Hanya sebagai pendengar dan pengamat serta penilai apakah Faiq layak untuk Nadya. Lah...apa haknya menilai Faiq????


"Kamu seneng ya mau ketemu cowok, ampe dandan kayak gini. Gak pernah tuh kamu dandan secantik ini buat aku. Perasaan ku selalu pakai formal ataupun baju casual kalau ketemu aku. Iya kamu bahagia dengan pertemuan ini?" Duh....Alan nyerocos hingga Nadya tak tahu harus menanggapi apa. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas, posesifnya Alan kambuh. Nadya tak menggubris, ia mengambil ponsel dan mengarahkan kamera depannya.


Cekrek


Tetap ya, meskipun kalem selfi tetap lanjut. Wajah cantiknya siap diunggah ke status WA.


"Apaan captionnya gini." Protes Alan melihat postingan Nadya beberapa detik lalu. Wajahnya yang tersenyum tipis dengan caption Bismillah.


"Hapus gak?" pinta Alan dengan menatap wajah Nadya tajam, "Siniin hp kamu."


"Apaan sih." Terjadilah perdebatan keduanya, Nadya tertawa lepas melihat Alan kalang kabut. "Sekali-kali aku post WA."


"Ya tapi gak usah wajah close up kamu juga." Masih ngomel juga Alan.


***Ting


Ting


Ting***


Bunyi notif pesan WA masuk di ponsel Nadya. Segera saja ia membuka aplikasi hijau itu, Alan juga mendekat. Tak ada jarak keduanya, mereka membaca pesan yang masuk.


Pesan pertama dari Nathan.


**Nathan: Cantik amat, ada acara apa?


Nadya: Katanya sih dilamar**


"Apaan balasnya kayak gitu?" lagi-lagi Alan protes membaca balasan Nadya pada Nathan.


"Ya kan emang gitu kenyataannya." Nadya tak mau kalah.

__ADS_1


"Ck."


Pesan kedua, Ersa.


**Mb Ersa: Lamaran, Nad? Pak Alan calonnya?


Nadya: Bukan**.


"Ck....kok balasnya gitu lagi sih, kamu mau bikin aku kesal ya sayang?" geram Alan pada pesan yang dibalas Nadya.


Nadya terkekeh, "Lagian kamu kenapa sih, sewot banget."


"Denger ya, membaca acara ini lewat chat kamu dan ibu aja bikin aku mendidih, apalagi melihat langsung dan kamu bilang ke semua orang kalau mau dilamar orang lain selain aku. Double kill sayang."


Puk


Puk


Nadya menepuk pundak Alan, "Kalau jodoh gak akan ke mana."


"Ehem."


Alan dan Nadya langsung menjauh, deheman Ibu cukup menyadarkan kedekatan mereka. "Ck..kalian itu ya, bikin dosa tahu."


Alan hanya menggaruk tengkuknya, tersenyum kecut karena kedapatan melanggar batas berdekatan dengan Nadya. "Makanya bu, kasih restu ya."


"Pasti, tuh kayaknya udah datang." Ucap Ibu yang mendengar deru mobil di depan rumah, beliau segera menyambut tamunya.


"Gak usah kesemsem." Alan mencekal lengan Nadya sebelum gadis itu mengekori langkah Ibu.


"Gak janji sayang, mataku ijo kalau lihat yang ganteng." Goda Nadya sambil melepas cekalan tangan Alan.


"Ya udah gak bakal aku lepas."


"Sayang, kamu bohong sama ibu loh, katanya gak mau merusak pertemuan malam ini." Cekalan Alan sontak mengendur, tak bisa berbuat apa-apa karena janjinya memang bukan menjadi penganggu.

__ADS_1


Huh....


Sabar


Semoga laki-laki itu tak lebih baik daripada aku, dari segi wajah, penampilan, dan uangnya. Batin Alan.


Tapi nyatanya, Alan mengintip di balik tembok pemisah ruang tamu dan tengah, ia mendelik. Laki-laki yang dipanggil Faiq itu, good looking sekali. Alan mengakuinya, satu poin yang membuat ia ketar ketir.


Samar ia mendengar pembicaraan Bu Tatik dan Ibu Nadya berbasa basi, memyilahkan mencicipi makanan dan minuman. Namun yang menjadi perhatian Alan adalah interaksi Faiq pada Nadya, memang sih Nadya hanya menunduk saja, tapi di Faiq tak lepas memandang gadis kecintaan Alan itu.


Busyet dah, love at the first sight kayaknya tuh cowok.


Pembicaraan berlanjut, mengutarakan maksud kedatangan ibu dan anak ini. Telinga Alan sudah siap mendengarnya meski ia berkali-kali meyakinkan dirinya kuat mendengar maksud Faiq dan ibunya itu.


"Kami datang ke sinj berniat baik, ingin menanyakan tentang Nadya, apakah Ananda sudah menerima pinangan orang lain atau belum." Begitu Faiq menjelaskan, dengan nada lembut dan pandangannya menuju ke Nadya.


"Alhamdulillah, terimakasih atas kedatangan Bu Tatik dan Nak Faiq, menyambung silaturrahmi dengan keluarga kami. Sampai saat ini Nadya belum ada yang meminang." Ucap Ibu tegas.


Nadya sontak saja mendongak. Begitupun dengan Alan, tubuhnya langsung lunglai ke lantai. Apakah ini akhir dari perjuangan cinta mereka.


"Alhamdulillah." Jawab Faiq dan ibunya kompak. Nadya seketika keluh akan menyangkal sang ibu, mau bagaimanapun ia tidak mau berdebat dengan ibunya di depan umum. Bagaimana dengan lamaran Alan, bahkan detik terakhir sebelum ibu membuka pintu, Alan masih meminta restu untuk menikahi Nadya. Tapi sekarang...tidak ada yang melamarnya? Astaghfirullah....


"Baik, Bu. Alhamdulillah, kalau Mbak Nadya belum ada yang mengkhitbah, maka malam ini izinkan saya untuk mengkhitbah Nadya." Ucap Faiq dengan tegas.


"Bu...." Lirih Nadya menoleh pada sang ibu dengan tatapan sendu. Meskipun dari segi penampilan, kesopanan, dan materi Faiq mumpuni, Nadya tetap memilih Alan.


"Saya sebagai orang tua Nadya menerima Khitbah ananda Faiq." Lagi-lagi ibu memutuskan tanpa tahu perasaan Nadya.


Sedangkan laki-laki di balik tembok ruang tamu menangis. Meremas kepalanya, sungguh hatinya hancur. Dengan mata kepalanya sendiri, gadis kecintaannya dikhitbah orang, dan gadis itu tak membantahnya sekalipun.


Astaghfirullah


Ia pun berdiri, menuju musholla rumah Nadya. Tak menghiraukan lagi perbincangan mereka. Terlalu mengejutkan dan ucapan ibu begitu menusuk hati Alan. Memang, sedari awal restu ibu sangat sulit didapat, tapi Alan tak menyangka beliau langsung menerima pinangan Faiq tanpa menanyakan terlebih pada Nadya, setidaknya ada jeda waktu untuk mempertimbangkannya.


Mengambil wudhu, menunaikan sholat hajat dan segera mengadahkan tangan, meminta kekuatan serta jalan keluar akan hubungan ini.

__ADS_1


Malam ini, seorang Alan terluka.


__ADS_2