SULUNG

SULUNG
AKHIRNYA


__ADS_3

Pagi-pagi mood ibu sedang tidak baik. Pasalnya setelah pulang dari Masjid komplek perumahan usai menunaikan Sholat Shubuh beliau berjalan bersama Bu Rom, tetangga yang selalu nyinyir dengan keadaan sekitar. Sebenarnya beliau baik memberi himbauan agar ibu waspada akan kedekatan Alan-Nadya.


Memang tadi malam, Nadya diantar pulang jam 10 lewat. Ibu juga tampak datar, melihat anak gadisnya pulang terlarut malam. Apalagi status mereka sepasang kekasih. Meski ibu percaya Alan menghormati Nadya, tetap saja intaian mata tetangga terlalu jeli.


"Udah, Bu. Nikahin aja dah Mbak Nadya sama pengusaha itu. Gak rugi deh soal harta, cuma kudu nyiapin hati, biasanya pengusaha itu istrinya banyak. Ya...kan pacar Mbak Nadya ganteng juga, pasti mantannya banyak. Lagian nih, Bu, dunia begituan bagi pengusaha itu biasa, main perempuan, celap celup, kan uang mereka bicara." Entah apa maksud Bu Romlah bilang seperti itu, tahu dari mana coba. Warga di perumahan ini pun gak ada yang jadi pengusaha, kenapa bisa menjudge seperti itu.


Ucapan Bu Romlah sangat mempengaruhi ibu. Pulang dari masjid, langsung menuju kamar Nadya. Putrinya itu baru saja mengucap salam di akhir ibadahnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Nadya, heran dengan sikap ibu yang pagi-pagi sudah di kamarnya.


"Mbak, ibu mau tanya, Alan kan pengusaha ya. Apa dia suka celap celup ke perempuan lain?" tanya Ibu dengan tatapan tajam pada sang putri. Sedangkan, Nadya yang sedang melipat mukenahnya harus berhenti dulu, menoleh ke arah ibu, mengerutkan dahi, bingung, dengan pertanyaan ibu.


"Celap celup bagaimana?"


"Ya main perempuan masuk hotel gitu loh mbak."


Nadya tertawa, gak habis pikir Alan dianggap seperti itu. "InsyaAllah gak, Bu. Selama ini yang Nadya tahu, Mas Alan gak pernah dekat dengan perempuan. Baru aku pacarnya."


"Masa?"


"Ya setahu Nadya gitu, emang kenapa sih?"


"Masa kamu pacar pertama Alan, Mbak? Gak mungkin ah. Uang dia kan banyak, masa iya gak pernah memanfaatin wajah ganteng dan uang untuk menarik perhatian perempuan."


"Kenapa sih, Bu kok mikir mas Alan gitu."


"Tadi Bu Romlah----"


"Ya elah, tahu apa Bu Romlah sama Mas Alan. InsyaAllah, Mas Alan baik Bu. Tanggung jawab, meski bukan ahli ibadah tapi dia selalu menunaikan kewajibannya sebagai muslim."


Ibu terdengar menghela nafas, "Kalau emang dia baik, kenapa harus mengantarkan kamu pulang larut malam. Gak enak dilihat tetangga, Nad."


Nadya paham sekarang, kepulangannya tadi malam menjadi bahan omongan orang perumahan mungkin, hingga ibu berpikir yang tidak-tidak pada Alan.

__ADS_1


"Iya, Nadya minta maaf ya, gak akan Nadya ulangi lagi. Toh Nadya dan Mas Alan juga gak ngapa-ngapin, Bu. Masih ingat dosa."


"Kamu berduan dengan lawan jenis yang bukan muhrim kamu juga sudah dosa, Mbak."


"Ya makanya, Bu. Daripada Nadya menambah dosa, ibu juga terlibat menciptakan dosa itu. Lebih baik terima pinangan Mas Alan, Bu. Ibu menuduh mas Alan yang enggak-enggak, tapi gak pernah lihat usahanya menghalalkan Nadya, kan menjauhi dosa juga kalau ibu segera kasih restu."


Ibu terdiam, kemudian memegang tangan Nadya. Keduanya duduk di ujung ranjang. "Nanti Alan jemput kamu?"


"Tadi malam sih bilangnya iya, kenapa?"


"Hubungi dia, suruh ikut sarapan di sini." Ucap Beliau yang langsung ngeloyor ke luar kamar Nadya.


Nadya melongo, tadi terkesan menyuruh jaga jarak pada Alan, eh sekarang malah menyuruh Alan ikut sarapan. Ini gimana sih?


Meski bingung, Nadya tetap saja mengirim pesan ke Alan terkait permintaan sang ibu, dan tak butuh waktu lama Alan membalas iya sayang.


"Manis banget sih." Gumam Nadya membaca balasan Alan beberapa detik lalu. Setelah itu, Nadya menyiapkan keperluannya dan membantu ibu menyiapkan sarapan.


"Ck...masuk gih, benerin jilbab kamu dulu." Seperti itulah Alan, selalu menegur Nadya bila tak sengaja auratnya terlihat.


Nadya pun langsung masuk, membiarkan Alan membuka pagar sendiri. Ck....seorang petinggi perusahan padahal di rumahnya ia selalu dibukakan.


"Assalamualaikum." Sapanya ketika masuk rumah, duduk dulu di ruang tamu.


"Waalaikumsalam." Jawab Nadya yang sudah tampak rapi.


Alan mengulum senyum, melihat vitamin mata di depannya sangat mempengaruhi kerja jantungnya yang mendadak berdetak cepat.


"Ayo sarapan, ntar kita telat." Ajak Nadya kemudian.


Di ruang makan sudah ada ibu yang baru beres menata sarapan sederhana mereka, nasi goreng sosis dan telor ceplok. Tak lupa teh hangat dan air putih, disertai setoples kerupuk.


"Mau kopi Nak Alan?" tawar ibu.

__ADS_1


"Eh...gak usah, Bu. Sudah cukup ini saja, terimakasih."


Nadya pun duduk di samping Alan, mengambilkan nasi goreng dan telor ceplok ke dalam piring. Ia tahu, Alan tak terbiasa makan berat seperti ini makanya Nadya hanya menyendokkan sedikit nasi, tapi double telor.


"Hem...udah tahu kebiasaan sarapan kamu ya, Nak Alan." Ucap Ibu dengan nada menyindir. Ada rasa senang juga karena beliau tak harus mengajari Nadya dalam hal melayani suaminya kelak.


"Alhamdulillah, Bu. Makin cinta sama anak ibu pokoknya." Mulai, Alan begitu santai mengungkapkan perasaannya pada ibu Nadya.


"Meski cinta tetap ada batasan ya, kan belum sah."


"Ibu.....Nadya tahu lah." Omel Nadya. Waspada saja jangan sampai ibu tanya tentang celap celup seperti tadi pagi. Bahaya.


Ketiganya kemudian sarapan dengan tenang, meski ada beberapa kali obrolan antara ibu dan Alan terkait mama Shofi, Ardhan atau bahkan bisnisnya di Malaysia.


"Nak Alan, ibu ajak kamu sarapan di sini karena mau ada yang ibu omongin."


Suara ibu tiba-tiba menyeramkan. Senyum pada wajah Alan dan Nadya mengendur seketika. "Oh iya, Bu. Silahkan." Ucap Alan canggung. Deg deg juga, ditambah ia sempat melirik Nadya yang melotot ke arah ibu.


"Kamu udah yakin sama Nadya?"


Butuh beberapa detik kemudian Alan mengangguk, bahkan lidahnya terasa keluh ketika akan menjawab yakin.


"Silahkan bawa keluarga Nak Alan kalau memang sudah yakin sama Nadya."


Tik...Tik...Tik....


Hanya suara gerak jarum jam yang terdengar. Alan mendadak diam, matanya hanya mengerjap. Lalu tak lama ia menepuk pipinya. Menyadarkan bahwa yang ia dengar adalah nyata.


"I-i-ibu beneran?" ibu kasih restu untuk Alan?" sekali lagi Alan memastikan dan segera dijawab anggukan oleh ibu.


"Ibu gak mau kalian berbuat dosa, ibu juga udah tanya sama ibu RT, pak de juga. Sekarang ibu ikhlas merestui kalian. Gak usah nunggu haul Naila. InsyaAllah gak pa-pa." Pagar pamali sudah runtuh sodara.


Nadya langsung memeluk ibunya, mencium pipi wanita kesayangannya itu. Mimpi apa ia semalam diberi kejutan di pagi ini. "Terimakasih ibu." Ucap Nadya mewakili Alan juga.

__ADS_1


__ADS_2