SULUNG

SULUNG
NASEHAT RUMAH TANGGA


__ADS_3

Mama Shofi memaksa. Alan malas berdebat, begitupun dengan Nadya. Ia sangat memaklumi permintaan sang mertua. Dulu, Ardhan dan Naila juga diadakan resepsi, otomatis beliau juga menginginkan resepsi pernikahan Alan. Tak tanggung, semua diatur mama. Bahkan rapat dengan EO dan pihak catering pun mama. Ibu juga dilibatkan, namun tak secerewet dan sedetail mama.


Untuk baju, mama sampai melarang butiknya menerima orderan selama 2 minggu. Pekerja butik semua diminta menjahit baju keluarga untuk pernikahan Alan dan Nadya.


"Meysa datang?" bisik Nadya ketika paperbag kebaya mulai tertulis nama masing-masing keluarga dari pihak Alan. "Kok ada paperbag untuk dia?"


Alan yang duduk di sofa sambil mengutak atik tablet melirik beberapa paperbag yang sudah diletakkan di bawah dekat TV di ruang keluarga. "Mungkin." Jawab Alan cuek.


Nadya pun mendekati sang suami, memeluk tubuh Alan dari samping, menyandarkan dagunya di lengan Alan. Nemplok manja, hingga Alan menoleh dengan mengerutkan dahi. "Kenapa sayang?" semakin heran saja karena mata Nadya berembun.


"Nanti dia deketin kamu, cari perhatian. Sok sok an dekat ma kamu, terus mengatasnamakan Cece yang kangen kamu. Udah berapa kali dia wa pengen ketemu sama kamu, bahkan pernah nekad juga datang ke kantor kayak dua hari yang lalu. Gak sadar banget sih kalau kamu sudah laku. Mana pas masuk ke ruangan kamu gak nyapa aku sama sekali. Menye--"


Cup


Alan mengecup bibir Nadya tiba-tiba, hanya karena pertanyaan kenapa, Nadya begitu lancar mengomel hingga beberapa kata. Satu cara yang ampuh untuk menghentikan ocehannya dengan mengecup bibir mungil tersebut, dan benar saja ia langsung mencebikkan bibirnya kesal.


"Gak usah khawatir, aku gak tertarik sama dia."


"Gak tahu, rasanya kok dia tambah ngebet banget sama kamu." Lirih Nadya yang akhirnya menangis juga. Pasalnya ia beberapa kali membaca pesan Meysa, tampak sekali perempuan itu menginginkan komunikasi berlebih pada Alan. Saat mengirim pesan pun kadang tengah malam.


"Aku kan gak pernah nanggepin."

__ADS_1


"Jangan terjebak sama dia ya, aku gak rela." Nadya semakin melow, membayangkan saja bikin sakit hati, apalagi kalau sampai Alan jatuh dalam genggaman Meysa. Nyesek.


Alan menarik tubuh Nadya dalam pelukannya, mengecup puncak kepala sang istri, "Gak bakal sayang, percayalah." Nadya mengagguk, mengeratkan lagi pelukannya pada laki-laki kecintaannya.


"Ehem." Mama membuyarkan acara pelukan sang anak. Sontak saja, Nadya menarik diri sedangkan Alan tampak lebih santai dan kembali memegang tabletnya. "Loh, Nadya kenapa menangis?" tanya Mama yang melihat Nadya mengusap sudut matanya, terlebih hidung mancungnya memerah.


"Eng---"


"Takut suaminya digoda, Meysa."


Mama melongo, Nadya spontan memukul lengan sang suami. Malu juga karena mama mertuanya jadi tahu ia cemburu pada Meysa.


"Maaf ya, Nad. Harusnya mama izin kamu dulu ya, mau kasih kebaya keluarga buat Meysa."


Nadya dan Alan langsung menatap mama, Kok???


"Selama ini memang mama tahu, Meysa menaruh hati pada Alan, karena Alan memang mirip dengan mendiang suaminya. Makanya mama juga sayang sama Meysa. Tapi percayalah, hanya kamu yang terbaik untuk anak mama."


Nadya mendekati ibu mertua, memeluk wanita paruh baya itu lagi-lagi menangis juga. Mama pun melirik Alan yang kebetulan menatap mama juga. Pandangan mama seolah bertanya istri kamu kenapa?


Alan pun hanya mengedikkan bahu, kembali fokus pada tabletnya. "Makasih, Ma. Cuma gak tahu kenapa Meysa nekad banget buat cari perhatian buat Mas Alan. Hampir tiap hari WA dan tanya kabar, terus ngajak makan siang lah, minta jemput, Cece kangen. Nadya gak suka."

__ADS_1


"Beneran, Mas?" Mama kaget juga dengan sikap Meysa yang diucapkan Nadya. Tak menyangka saja, Meysa berusaha menarik perhatian Alan, karena selama ini Mama tahu Meysa cukup menjaga jarak dengan laki-laki.


"Iya. Alan juga gak pernah balas dia loh, Ma. Tapi gak tau, tiap hari WA terus."


"Pantas kamu khawatir gini." Mama menepuk punggung tangan Nadya, menenangkan dan diangguki Nadya.


"Nadya percaya sama Mas Alan, cuma setiap ponsel Mas Alan bunyi dan kebetulan di dekat Nadya, Meysa selalu WA."


"Sekali-kali balas, Lan. Bilang jangan ganggu, kamu juga yang tegas. Pihak ketiga tidak bakal bertindak kalau ada benteng kokoh dalam rumah tangga. Gangguan orang ketiga itu pasti ada, terlebih kalian masih baru menjalani hubungan ini. Dengerin mama, Mas. Meskipun Meysa masih kita anggap keluarga, jangan sampai dia juga menjadi pemicu pertengkaran kalian. Harus tegas."


"Iya, Nanti Alan kasih tahu."


"WAnya sama aku." Sahut Nadya menunjukkan sikap posesifnya.


Alan tergelak, meletakkan tabletnya di meja, dan berdiri mendekati Nadya di sofa seberang. "Ngamar yuk."


Puk


Bantal sofa melayang tepat di wajah tengil Alan, mama pelakunya. "Terus aja pamer kemesraan depan Janda." Ucap beliau yang langsung beranjak menuju kamar.


"Malu, tahu." Protes Nadya disambut gelak tawa Alan. Pun demikian, misi ngamar ala Alan berlanjut. Menggendong sang istri ala bridal style, menapaki tangga rumah utama satu *** satu, dengan mata yang menatap wajah Nadya intens, begitupun dengan Nadya yang langsung melingkarkan tangan pada leher Alan. Ia tahu, babak selanjutnya yang akan dilakukan Alan.

__ADS_1


__ADS_2