
Alan dan Nadya melewati pernikahan dengan sangat baik. Nadya yang sabar dan penurut lebih banyak mengalah dan memanjakan keinginan seorang suami, tak pernah sekalipun ia membantah perintah suami, yah...meski omelan ala emak-emak sudah sering ia lakukan.
Begitupun dengan Alan, ia selalu menghormati Nadya, meski sibuk ia tetap saja meluangkan waktunya untuk Nadya, walau hanya sekedar jalan ke mall. Seperti halnya, jumat sore ini. Sepulang kerja, dan kebetulan Alan tidak ada meeting atau menghadiri undangan, ia ikut Nadya jalan bareng anak keuangan.
"Gak papa nih, suami aku ikut?" tanya Nadya sekali lagi pada Ersa saat mereka menuju loby kantor.
"Di luar jam kantor, Pak Alan bukan bos kita kan?" Cindy memastikan. Pasalnya mereka akan kupas tuntas seseorang.
Nadya hanya mengangguk saja. Sebenarnya ia ingin melarang Alan ikut, tapi itu tidak mungkin terjadi. Bos ganteng yang merangkap suami posesif itu tak akan membiarkan Nadya keluar sendiri. Meskipun, Alan di luar kota atau negeri tetap saja sang mama yang dilibatkan untuk menemani Nadya, terutama sepulang kerja.
"Janji ya gak bakal riweh, gak usah ikutan ngobrol, main tablet aja." Untuk kesekian kalinya Nadya memberikan ultimatum pada Alan sebagai syarat ikut nongkrong anak keuangan.
"Ck....iyaaaa." Ucapnya sebal, telinganya panas mendengar ultimatum itu sejak tadi siang.
"Kita mau bahas temanku yang lagi naksir Cindy soalnya."
"Sejak kapan kamu jadi mak comblang?" tanya Alan sambil menoleh ke Nadya.
"Bukan jadi mak comblang, Nasrul itu teman SMPku, polisi apa tentara ya. Cindy juga dikenalkan sama teman SMAnya, eh pas lihat foto kita. Si Nasrul bilang kalau kenal aku. Lah aku aja lupa sama dia."
"O...."
"Apaan itu balasnya cuma O doang."
__ADS_1
"Ya terus mau jawab apa. Jangan-jangan dia naksir kamu."
Nadya hanya berdecak sebal, mulai deh sesi cemburunya. "Aku gak pernah dekat dengan cowok."
"Ada tuh, si Kudis."
Nadya tergelak, "Soalnya dulu dia pinter banget bahasa Inggris, daripada aku les, mending dapat gratisan dari dia."
"Asal jangan naksir aja sama dia." Ucap Alan sambil menarik baju Nadya agar berdekatan. Seperti biasa, Nadya langsung menyenderkan kepala ke Alan. Kebiasaan mereka saat di mobil.
"Gak bakal, orang aku udah cinta banget sama kamu." Ucap Nadya sambil menatap wajah Alan, dan memegang pipi Alan, gemas.
"Pintat banget sekarang gombal, Nyonya." Sindir Alan yang menyempatkan mencium puncak kepala sang istri.
"Habis nongkrong, check in ya."
Nadya menautkan kedua alisnya. "Kok?"
"Cari suasana baru." Jawab Alan dengan seringai mesumnya. Untuk hal itu, Alan tak pernah bosan, setiap moment kalau ada kesempatan pasti dia akan mengeluarkan segala modus agar keinginannya berkeringat bersama Nadya tercapai.
Di sinilah mereka, saling berhadapan di sebuah meja cafe dengan berbagai minuman dan camilan. Tim keuangan mulai mengobrol dengan pembahasan Nasrul. Kenalan Cindy yang ternyata teman SMP Nadya.
"Ya gue gak ingat dia, Cin." Elak Nadya ketika melihat foto Nasrul dari ponsel Cindy, ya memang dirinya lupa siapa Nasrul dan bagaimana wajahnya. Terlebih, Nadya jarang atau hampir tidak pernah ikut reuni SMP.
__ADS_1
"Emang dia ngajak janjian atau gimana?" tanya Ersa pada Cindy, pasalnya dilihat dari chat, Nasrul tak menjurus ke arah pengenalan lebih dekat sih.
"Gak tahu juga kita sih cuma chat-chat doang."
Alan hanya melirik saja, meski menatap tablet, tapi juga mendengar ocehan istri dan dayang-dayangnya. Bagi Alan pertemuan sore ini gak penting banget. Membahas cowok yang gak ada gelagat naksir si Cindy, kurang kerjaan.
"Kalau lo jadian sama Nasrul enak tahu."Cicit Nadya dengan wajah berbinar. Ketiga gadis di depanya hanya melongo, "Maksudnya?"
"Gue tuh dari dulu kepengen banget nikah atau dampingin wisuda yang pakai seragam kaya polisi, akpol akmil, ya pokoknya pakai seragam gitu. Bangga banget kayaknya."
Glek
Imel, Ersa dan Cindy menelan salivanya kasar. Tak pernah teepikirkan kalau Nadya begitu lancar mengungkapkan foto impiannya. Sedangkan, Nyonya Alan tak sadar kalau ada mata yang menatapnya tajam.
"Kalau lo dilamar Nasrul, terima Cin. Pasti lo terharu, bangga punya suami yang berseragam." Masih membanggakan laki-laki yang berseragam rupanya.
"Ehem." Alan hanya berdehem, sontak Nadya memberikan senyuman manisnya. "Dulu sayang, kan sekarang aku pilih kamu." Ucapnya dengan gelagat manja. Ketiga anak keuangan berlagak muntah mendengar rengekan manja Nadya.
"Siap-siap hukuman habis ini." Bisik Alan lalu fokus lagi ke tabletnya.
Nadya mematung seketika, ia sudah bisa membayangkan hukuman yang dimaksud Alan seperti apa. Sudah pasti, tubuhnya yang akan menjadi korban dibolak balik seperti ayam panggang.
Mati gue!!!!!
__ADS_1