
Sudah ....saatnya kembali kerja, fokus. Imel sudah menyerahkan hasil pekerjaan calon karyawan tetap pada Nadya. Ia juga memberikan komentar terhadap masing-masing calon. Nadya pula kroscek hasil pengamatannya dengan apa yang diceritakan Imel. Oke....sudah ada yang match.
"Makasih ya Mel, ntar gue traktir."
"Beres. Mbak Lembur?"
"Iyalah, eh bentar gue ke mereka dulu."
Nadya pun kembali ke gedung training karena sudah jam 4, penutupan untuk hari ini. Lagi-lagi ia bertemu Alan, tapi kali ini di samping Alan ada Bu Mira, HRD, gebetan si manajer keuangan, Erick. Nadya duduk di samping Endru, manajer marketing. Semenjak Nadya menjadi kekasih Alan, Endru menjaga jarak dengan Nadya, takut kena omel atau SP dari bos Alan pastinya. Ia pun masih belum tahu kandasnya hubungan mereka.
Dari devisi keuangan, Nadya menyampaikan sambutan akan kinerja calon karyawan tetap itu yang dianggap cukup cekatan dan teliti dalam mengerjakan tugas, "Semoga hari Senin nanti kalian mendapatkan hasil yang terbaik, dan sesuai harapan kalian. Terimakasih." Begitu Nadya menutup sambutan tersebut.
Setelah acara penutupan, para manajer segera memberikan keputusan, karena hari Jumat HRD akan menyusun kontrak yang akan ditanda tangani hari Senin, dan Jumat malam HRD akan menghubungi calon karyawan tersebut.
"Untuk Devisi marketing, saya rasa Albert dan Tya mumpuni, jadi sesuai kuota keduanya bisa diterima." Ujar Endru memberikan keputusan.
"Untuk analisis sesuai kriteria penilaian kinerja hanya ada satu yang mumpuni, Tegar." Sambung manajer Analis.
"Dari Devisi keuangan, kebutuhannya memang dua, hanya saja, ada satu lagi yang menurut saya kompeten, sayang kalau tidak diterima di perusahaan ini." Jelas Nadya mewakili Erick. "Saya tidak berani mengambil keputusan karena sebenarnya ini kapasitas Pak Erick, oleh sebab itu saya serahkan ke forum."
"Dua itu siapa, Bu Nadya?" tanya Mira dengan ketus, karena ia masih menganggap Nadya sebagai saingannya, mengingat Erick cukup dekat juga dengan Nadya.
"Kalau sesuai kriteria penilaian kinerja, Bagus dan Alya, hanya saja ada satu calon yang bernama Mutia, sayang kalau tereliminasi."
"Apa kelebihan Mutia?" kali ini Alan yang mengambil alih.
"Fresh graduate, pernah kerja part time di kantor Audit swasta selama 3 bulan, komunikasi berbahasa Inggrisnya juga bagus, dari soal attitude dan penampilan sangat bagus."
"Coba tampilkan fotonya!" kembali Alan memberi titah.
Nadya pun menampilkan slide foto Mutia, gadis manis, berhijab dan tampak masih muda sesuai yang diucapkan Nadya tadi.
"Tereliminasi dari keuangan, tapi jadikan asisten pribadi saya."
Nadya terdiam. Mira melongo diikuti manajer devisi lain yang langsung mengerutkan dahi. Hah? Asisten Pribadi? Gak salah nih, Alan sudah punya Rilo dan Erfina loh, kok mau nambah aspri lagi?
"Kadang keputusan saya tidak membutuhkan alasan untuk ditampilkan dalam meeting seperti ini." Ujar Alan lagi, kalau sudah bilang seperti ini para manajer merutuki Alan dalam hati, serah bos daaah, asal bos senang maaaa!!!
__ADS_1
Oke, soal pengangkatan karyawan tetap di Jawa Timur beres, satu per satu manajer devisi yang diundang mulai mengundurkan dari. Di ruangan training masih ada Erfina, Alan dan Nadya. Kebetulan Erfina masih membahas jadwal yang akan digeser besok, karena Alan tidak ke kantor. Sedangkan, Nadya masih menerima panggilan telpon dari ibu.
"Iya, Bu. Nadya usahakan cepat pulang, insyaallah sebelum pengajian dimulai, Nadya pulang. Iya... Assalamualaikum!" obrolan ibu dan anak terputus. Nadya menghela nafas berat, niat untuk lembur sepertinya ia urungkan, biarlah hari senin ia akan lembur saja.
"Pulang bareng saya, Nad!" ujar Alan yang mendekati tempat duduk Nadya sebelum keluar. Nadya sontak mendongak, mengalihkan pandangannya pada Alan, namun bos ganteng itu sudah melangkah keluar.
"Cie...yang ditawari tumpangan!" goda Erfina yang segera berjalan mengekori Alan.
"Ssst....mau apalagi si tuh bos!" kesal Nadya dengan membereskan laptop dan beberapa dokumennya. Ia pun melangkah menuju devisi keuangan, ruangan sudah kosong karena sudah jam lima lewat, ia pun merapikan meja kerja, mematikan komputer, niatan lembur batal terlebih Alan sudah bersender di pintu.
"Udah selesai?"
"Sudah Pak!"
"Ayo!"
Meski heran dengan sikap Alan, okelah Nadya mengekor saja, pasti Alan juga punya maksud tertentu mengajaknya pulang sore ini.
Memasuk mobil Alan, suasana canggung dan hening sangat terasa, bahkan saat mobil sudah melaju ke jalan menuju rumah Nadya masih tak ada pembicaraan. Biarlah, Nadya juga tak mau ambil pusing, pikirannya terlalu lelah dengan pekerjaan.
"Mama tadi bilang apa, Nad?" tanya Alan kemudian, mungkin otak cerdasnya baru menemukan topik pembicaraan yang pas.
"Terus?" Alan sepertinya mengharap Nadya mau menyetujui ide sang mama.
"Ya aku menjelaskan kalau kita sudah putus, ibu saya gak mau kalau menikahkan anak dengan hubungan kekerabatan terlalu dekat, ada masalah kepercayaan ataupun tradisi yang dipegang ibu."
Diam, hening lagi, Alan masih fokus ke jalan.
"Mama bilang kalau...," tiba-tiba saja Nadya keluh akan mengatakan nasehat dari mama Alan.
"Kalau apa?" Alan menoleh, dan mata mereka saling bertemu.
"Mama akan menunggu saya bersedia menjadi mantunya." Hanya itu saja yang bisa diungkapkan Nadya, padahal Mama Alan juga bilang kalau beliau sudah merestui Nadya menjadi calon istri Alan, sangat cocok dan bisa mengimbangi sifat dan kepribadian Alan, bahkan beliau juga mengungkapkan kalau Alan cukup terpukul dan lebih pendiam sejak putus. Namun Nadya tak menceritakan detail, khawatir saja Alan berpikir kalau dirinya terlalu percaya diri karena mamanya sangat mengagumi.
"O!"
Hening lagi, mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang perumahan Nadya. Sudah ada janur melengkung yang menandakan ada hajatan di perumahan itu.
__ADS_1
"Apa kita sudah tidak punya kesempatan lagi, Nad?" tanya Alan sebelum Nadya berpamitan.
"Entahlah, Mas. Kalau kita memang berjodoh suatu saat nanti pasti akan menikah juga, tapi satu hal saya pasti tidak bisa menikah tanpa restu dari ibu."
"Apa aku sudah tidak ada di hati kamu, Nad?" Alan sangat berharap masih ada cinta untuknya di hati Nadya, ia sungguh tidak sanggup bila rasa itu pupus hanya dalam hitungan hari.
"Masih, aku masih sayang sama kamu mas!" Nadya menjawab dengan menatap Alan lekat, menahan sekuat tenaga agar tidak terlihat hancur di depan Alan.
"Kita gak usah putus ya, aku mohon?" pinta Alan, mungkin pikiran Alan sudah tenang, sangat bisa menekan emosi karena kecewa dengan keputusan Nadya. Ia berbicara cukup lembut dan jauh dari ketus seperti sebelumnya.
"Aku gak mau mas, menjalani hubungan tanpa kejelasan di akhir, buang waktu dan sakit di akhir."
"Kenapa kamu gak memikirkan kebahagiaan kamu, kenapa harus langsung patuh pada tradisi yang kebenarannya saja belum tentu."
"Ketika aku diberikan amanah oleh ayahku untuk melindungi ibu dan adikku, di saat itulah aku menomorsatukan kebahagiaan mereka, termasuk melepas segala rasa yang di sebut cinta. Aku gak bisa Mas membantah titah Ibu seperti halnya Nadya, aku gak berani memberontak Mas." Tumpah sudah air mata Nadya, ia tidak mau melukai hati ibunya dengan membantah beliau. "Kamu pikir aku juga gak sakit, aku bahkan tiap malam menangis Mas. aku ingin egois, aku ingin menikah sama kamu, aku gak mau melepaskan laki-laki baik seperti kamu, hiks...hiks.. tapi setiap kali ingin bantah pamali ibu, aku tak berani, aku gak mau melukai ibuku."
Alan hanya memandang Nadya yang menangis sesenggukan. Detik berikutnya ia menarik tubuh Nadya ke dalam pelukannya, memberikan usapan lembut pada punggung gadis itu, memberikan kekuatan pada gadis yang terlihat rapuh di depannya ini.
"Kita berdua adalah anak sulung yang rela berkorban untuk keluarga, tapi biarlah kali ini aku egois untuk memilikimu. Mau ya? Kita jalani hubungan lagi."
Nadya mendongak, menatap wajah Alan yang tampak di sudut matanya ada air bening yang keluar, Nadya tahu Alan juga merasakan sakit. "Aku gak mau, Mas."
"Plis, Nad!"
"Aku gak mau, takut, sudah terjebak dengan kamu lebih dalam tapi ibu tak juga memberi restu. Pasti lebih sakit dari ini."
Alan menguraikan pelukannya, ia mengusap kepala Nadya sayang, "Kamu gadis yang baik, berbahagialah dengan patuh pada ibu, semoga kamu mendapatkan calon laki-laki yang lebih baik dari aku."
"Mas Alan!" Nadya kembali menubrukkan tubuhnya pada Alan, mengabaikan batasan hubungan lawan jenis. Nadya memeluk Alan dengan erat, menumpahkan segala hal tentang hati untuk terakhir kalinya pada Alan.
"Tetap jadi anak yang berbakti dengan orang tua ya Nad. Aku sayang sama kamu."
"Mas Alan...." masih sesenggukan juga Nadya.
"Udah, jangan menangis lagi, insyaallah keputusan kamu memang lebih baik buat kita."
"Semoga Mas Alan juga mendapatkan istri yang lebih baik dari aku, mas Alan harus bahagia juga ya, terimakasih atas semua perhatian Mas Alan selama ini." Masih terdengar isakan, namun Nadya memaksakan untuk tersenyum pada Alan.
__ADS_1
"Sama-sama." Jawab Alan dengan memaksakan tersenyum. Resmi sudah mereka putus, tinggal menunggu waktu saja apakah mereka berjodoh atau tidak. Yang jelas, baik Alan dan Nadya sama-sama sudah mendoakan kebahagiaan masing-masing, semoga takdir baik selalui menyertai hubungan mereka.