
Mbak, tadi malam lo dilamar?
Begitu pesan Naila yang terkirim sejak shubuh, dan baru sempat Nadya buka ketika baru duduk di meja kerjanya.
Iya, Nai. Ibu yang mencarikan jodoh buat aku, Nai.
Balas Nadya sambil menahan tangis ketika mengetik pesan itu. Masih jelas bayangan wajah patah hati Alan mendapatkan kenyataan itu. Tak bisa dipungkiri, Nadya juga masih berasa mimpi. Tapi mau bagaimana lagi, sejak tadi pagi ibu selalu mengingatkan posisiku yang sudah dikhitbah orang, dan yang lebih membuatku ingin menangis lagi saat ibu bilang, "Jumat besok, keluarga besar Faiq datang melamar kamu secara resmi."
Sungguh menyesakkan dada, kenapa ibu begitu getol menjodohkanku dengan Faiq, padahal beliau sangat demokrasi pada anaknya perihal jodoh. Nadya semakin tak bisa berkutik mana kala ibu memutuskan secara sepihak lamaran ini.
**Me: Jumat besok kata ibu lamarannya.
Nai_kepet: Mbak lo gak bercanda kan?
Me: Semalam gue mewek kejer lo bilang gue bercanda? kejam maemunah**!!!
"Jakarta gerimis, muncul banjir di mana-mana. Hai gadis manis, bagaimana kabar anda?" Pantun Ala Ersa yang gak nyambung, biarlah. Senior cantik itu meletakkan tas jinjingnya lalu menyalakan komputer, tak berselang lama menoleh pada Nadya yang menyandarkan tubuhnya di kursi, memegang ponsel dengan eajah sendu.
"Tadi malam beneran lo dilamar?" Ersa menangkao gelagat aneh pada sahabatnya itu, tak biasanya gadia cantil itu diam dengan wajah sesedih itu. Terlebih, pertanyaan Ersa hanya dijawab sebuah anggukan. "Pak Alan?" terka Ersa, namun mendapat gelengan dari Nadya.
"Pagi...." Sapa Erick yang langsung nimbrung di meja Nadya, dan menatap anak buahnya curiga. "Tadi malam ada apa?" selidik Erick tanpa menunggu balasan sapa dari Ersa maupun Nadya.
"Kenapa?"Nadya balik tanya sambil menatap Erick.
"Alan kacau."
Nadya menunduk, memejamkan mata. Air matanya luruh seketika, bahunya naik turun, ia sudah tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi tadi malam pada Ersa dan Erick. Kebetulan Imel dan Cindy sedang dinas luar.
"Eh..kok nangis?" Ersa gelegapan, langsung beranjak memeluk Nadya. Ditatapnya Erick sambil berkomat kamit layaknya bertanya Ada apa sih???
Hufh
Erick menarik kursi di tempat Cindy. Sekarang ia menghadap Nadya, siap mendengarkan apa yang menjadi penyebab Alan menangis semalaman di apartemennya. Bahkan Rilo yang biasanya mengejeknya bucin pun terasa berat untuk bersuara.
__ADS_1
"Alan tadi malam ke apart gue, datang-datang langsung nangis coba. Kaget gue, Nad. Tapi dia gak mau cerita. Gue dan Rilo hanya diam, menemaninya doang. Lo tau, dia rebahan di sofa, sambil menutup matanga dengan lengan. Trus air mata gak berhenti sama sekali. Gue dan Rilo ampe ngantuk parah. Eh....pas kita bangun, dia udab gak ada."
Nadya berangsur menghentikan tangisnya, diambil tisu, mengelap air mata dan meraih segelas air yang disodorkan Ersa. Kemudian, ia menghela nafas sebentar dan mulai bercerita.
"APAAAAA?! Ersa dan Erick berteriak kompak, mereka tak menyangka Nadya sudah dikhitbah orang dan di depan Alan langsung.
"Pantas saja, dia hancur banget. Gue baru tahu Alan nangis tadi malam, Nad. Tega lo." Geram juga Erick pada Nadya.
"Trus aku gimana, Pak. Aku udah bilang gak mau, tapi ibu tetap ambil keputusan ini." Masih dengan air mata, bahkan ketiga orang ini tak menggubris pekerjaan yang selalu menggunung. Bahkan Ersa sampai mengunci ruangan, jadi kalau dari luar mereka tampak berdiskusi.
"Bahkan aku gak diberi kesempatan ngomong sama Ibu, sumpah aku pun jengkel sama ibu."
"Nad." Tegur Ersa sambil mengusap punggung gadia itu dengan lembut, mengingatkan sesalah-salahnya ibu tetap saja untuk kebaikan Nadya.
"Ini menyangkut masa depanku, Mbak. Ibu langsung jawab iya, bahkan aku gak kenal sama tuh cowok. Aku gak tau dia kerja apa, dan aku gak tau dia suka atau enggak sama aku. Yang jelas ibu dan ibunya Faiq itu berteman di majelis taklim yang sama."
"Wah..pasti anak sholeh juga tuh." Celetuk Ersa namun langsung menepuk mulutnya sendiri. Merasa keceplosan dan Erick menatapnya tajam.
"Bahkan dia akan melamar jumat besok, Mbak, Pak. Ya Allah..." Nadya kembali menangis, sangat frustasi dengan keadaan ini. Bahkan Erick pun sempat mengusap wajahnya kasar, tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Alan mendengar kabar ini.
"Aku gak bisa mikir, Pak. Aku gak mau nikah sama dia, tapi ibu akan kecewa. Aku maunya sama Mas Alan."
"Gue-"
Baru saja, Erick akan memberi saran, ponselnya berdering dan tertera nama Alan pada layar. Ia melirik Nadya lalu menggeser tombol hijau.
"Ke mana lo?" tanya Erick tanpa salam. Ia sengaja meloudspeaker percakapan dengan Alan.
"Di rumah mama. Setengah jam bawa analisi keuangan buat proyek di malaysia. Nanti malam gue berangkat ke sana."
Erick melongo begitupun dengan Nadya. "Kok mendadak?"
"Gak pa-pa, butuh pelampiasan gue."
__ADS_1
"Halah kayak orang patah hati aja." Pancing Erick yang memang belum mendapat cerita dari Alan langsung. Sampai dia tertidur, Alan tak menceritakan apapun.
"Gak usah bahas hati, udah kelarin analisisnya. Langsung ke ruangan."
"Butuh Nadya enggak, biar-"
"Gak usah, ouh ya satu lagi, mulai saat ini jangan menyuruh Nadya masuk ruangan gue lagi."
"Kenapa?"
"Calon bini orang."
Tut
Alan menutup sambungan sepihak. Erick langsung menatap wajah Nadya, begitupun Ersa. Ia terdiam, ah tidak hanya Ersa tapi ketiganya terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak lama, Nadya kembali menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Sabar, Nad." Ujar Ersa dengan menepuk bahu Nadya.
"Aku gak mau sabar, Mbak. Udah cukup aku mengalah dengan keadaan. Berat banget jadi anak sulung, apapun harus mengalah, berkorban tanpa ada yang tahu aku bahagia atau enggak." Ketusnya dengan diiringi sesenggukan.
Sedikit banyak, Ersa tahu pengorbanan Nadya selama ini. Bahkan Ersa mengakui Nadya adalah gadis yang kuat dan ikhlas, tak pernah memikirkan kepentingannya, selalu menomorsatukan ibu dan adiknya. Tapi, keadaan sekarang berbeda, ia ingin mengumpat pada ibu, ingin menolak, ingin membatalkan saja tapi tak ada kekuatan sama sekali. Sangat takut menyakiti hati ibunya.
Selain itu, ada sisi khawatir, bila ia memaksa menikah dengan Alan dan tak mendapat restu tentu ada yang mengganjal dalam berumah tangga. Namun, bila menerima pinangan Faiq, apa kabar hatinya. Menikah bukan sehari dua hari tapi seumur hidup. Sedangkan Nadya tak tahu siapa Faiq. Bolehkah Nadya tertawa, rasany ia akan menikah layaknya membeli kucing dalam karung, tak bisa menebaknya.
Hufh....
Capek, mata perih kebanyakan menangis, dan dipaksa menatap komputer dengan segala deadline tugas dapat mengalihkan pikiran Nadya sementara. Hingga...tangisanny kembali luruh saat membaca dua pesan yang masuk.
Aku tunggu di cafe seberang kantor, Mbak. 20 menit lagi aku sampai. Tulis Naila pada chat.
Assalamualaikum, maaf mengganggu. Aku Faiq. Dek Nadya nanti pulang kerja aku jemput ya, ada yang mau aku sampaikan sebelum ke jenjang berikutnya. Maaf dan terimakasih.
Pesan dari Faiq, dan melalui chat inilah satu poin yang membuatku lega, dia laki-laki yang sopan. Sekali lagi Nadya menghembuskan nafas berat, memantapkan hati, bahwa memulai hubungan menju ridho ibu.
__ADS_1
Oke...Fix kita lakukan.