SULUNG

SULUNG
AKU CEMBURU


__ADS_3

Meski menolak ikut mobil Alan, dan menunjukkan wajah biasa aja, tetap saja Nadya badmood. Sepanjang perjalanan pulang bersama ibu dan diantar sopir mama Shofi, Nadya memejamkan mata. Menahan gemuruh dalam dada, tak rela karena Alan harus bersama wanita itu, meski berkedok mengantar Cece. Nadya yakin, wanita itu memang menaruh perhatian lebih pada Alan dan sialnya selalu menggunakan Cece sebagai alasan.


Astaghfirullah, Suudzon deh.l


Sesampai di rumah, Nadya segera mandi dan bersiap ke kantor. Ia mengendarai motor matic, dengan pelan-pelan, karena fokus pada Alan-Meysa. Di rumah tadi, ia sempat membuka pesan dari bos ganteng.


Aku jemput, barengan ke kantor.


Tapi Nadya tak membalas, ia lagi dongkol setengah mati pada Alan karena tak mau tegas dengan Meysa. Kalau dipikir-pikir ia juga gak salah sih, Alan beberapa kali mengajak dirinya untuk bergabung dengan Meysa dan Cece, tapi Nadya selalu menolak.


Bodoh


Gak peka


Bisa jadi ia mengajak Nadya untuk menjelaskan pada Meysa secara langsung, kalau Alan sudah ada yang punya. Oke..saatnya berjuang, Nadya juga harus bertekad mempertahankan Alan. Bukannya mereka sepakat untuk tidak putus sambung lagi, dan selalu mengetuk pintu langit agar dijodohkan.


Namun sayang, niat jati ingin berjuang. Tapi apa daya, langkah kaki menuju lobi terhenti tatkala mobil Alan berhenti dan keluarlah Alan-Meysa secara bebarengan. Beberapa karyawan yang melihat sampai terbengong, pasalnya di sisi lain mereka melihat Nadya yang termangu.


Gadis itu yakin, pasti detik berikutnya muncul pemberitaan tentang dirinya dan Alan. Duh...semakin badmood saja. Tahu gini, mending menuruti usalan Naila untuk izin.


Dengan malas, Nadya masuk ke loby setelah bos ganteng itu menuju lift khusus petinggi perusahan, baru saja Nadya menuju lift karyawan, lengannya ditarik. Sontak saja ia menoleh, Alan.


"Sama aku." Ucap Alan tegas, kali ini ia tak mau ditolak lagi.


"Tapi lepas dulu, Pak." Lirih Nadya berusaha melepas cekalan Alan. Namun sayang Alan tak peduli, ia mensejajarkan Nadya berjalan di sampingnya.


"Eh... Nadya ya?" sapa Meysa basa-basi, Nadya hanya mengangguk saja. Menghargai sapaan saingannya itu. Entahlah pagi itu negative thinking terus berkeliaran dalam benak Nadya.


"Tadi naik apa?" tanya Alan memecahkan keheningan di dalam lift.

__ADS_1


"Motor, kayak biasanya." Jawab Nadya lembut, oke dia harus menghargai usaha Alan untuk selalu dekat dengannya. Sebenarnya Alan tidak salah, ia peka bahkan sangat peka alan kehadiran Nadya. Hanya saja, Meysa yang terlalu cerdik memanfaatkan anaknya untuk selalu dekat.


"Kok naik motor? Gak pakai mobil aja, Nad?" Meysa nimbrung obrolan keduanya, agak gak keterima sih dengan kondisi Nadya yang hanya karyawan biasa, dan cuma bawa motor. Apalagi gadis ini berhasil menarik perhatian Alan.


"Punya motor doang, Mbak Mey." Jawab Nadya santai. Sepertinya Meysa sudah mengajak perang nih.


"Biasanya juga aku antar jemput kok, pagi ini aja aku gak bisa jemput dia karena Cece." Balas Alan ketus, tak terima Nadya dikomentari dengan nada mengejek.


"Hem....karyawan, Mas. Manja." Ketus Meysa.


Lah....ini gimana maksudnya?


Nadya hanya tertawa sinis, "Kayaknya ada yang gak rela tuh, Mas Alan perhatian sama calon istri." Sindir Nadya sembari menggamit lengan Alan. Sungguh tindakan yang tidak biasa Nadya lakukan, begitu dekat dengan Alan seolah mengatakan pada Meysa bahwa hanya dia yang boleh memiliki Alan. Hal itu membuat Alan terkejut, ia tidak menyangka Nadya nekat menggamit lenganya, meskipun hanya untuk memanasi Meysa.


"Maks-"


Ting


"Hari ini kamu kerja di ruanganku aja." Titah Alan tanpa mau dibantah, Nadya hanya mengangguk, ia setuju aja dengan permintaan Alan, toh dia harus melindungi Alan dari Meysa. Bisa dilihat, Meysa mendengus kesal sesaat Alan meminta Nadya untuk di ruangannya.


"Aku hubungi Pak Erick dulu." Pinta Nadya, mau bagaimana pun ia tetap harus melaporkan keberadaannya pada Erick, sebagai atasan, terlebih ia sudaj izin telat.


"Gak usah, ntar aku aja yang bilang." Alan menyampirkan jas, lalu menarik lengan Nadya agar duduk di kursi kebesarannya.


"Istimewa banget ya, Nadya sebagai karyawan kamu." Sindir Meysa yang sedang sibuk membuka Macbooknya. Nadya pun heran apa tujuan Meysa sampai sibuk membuka laptop segala.


"Maklum, sama calon istri itu harus istimewa, disayang-sayang gitu." Jawab Alan, nadanya si santai, hanya saja ada maksud lain dari celetukannya itu, terlebih penekanan pada CALON ISTRI membuat Meysa menghembuskan nafas kesal. Kemudian dengan kasar langsung menetup Macbook yang tak bersalah itu, dan keluar ruangan tanpa pamit. Nadya melongo dibuatnya.


"Dia kenapa sih?" gumamnya dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Duduk sini sayang." Pinta Alan yang sudah duduk di sofa dengan berbagai dokumen yang ia pindah dari meja kerjanya tadi.


"Ini kantor, jangan panggil-panggil sayang." Ketus Nadya.


Alan terkekeh, mood Nadya berubah drastis, kembali jutek padanya. "Tadi aja maniiiiiissss banget, ampe ngerangkul lengan aku. Erat banget lagi, eh....sekarang dijutekin lagi."


"Habis kesel banget sama kamu sejak kemarin. Kelihatan kamu bahagia di dekat wanita itu." Ucap Nadya sendu.


Alan mencubit hidung mancung Nadya. "Aku tuh bahagianya karena dekat Cece, bukan ama Emaknya." Alan tersenyum kemudian berbisik, "Kamu cemburu ya?"


Nadya menatap Alan dengan sinis, lalu menghembuskan nafas pendek, ia pun mengangguk. "Iya aku cemburu banget sama Meysa."


"Boleh peluk gak?" izin Alan dengan menaik turunkan Alisnya.


"Gak usah aneh-aneh."


"Kamu menggemaskan sayang, terlalu ekspresif kalau lagi cemburu."


"Hem....gak cemburu dibilang gak cinta, cemburu dibilang terlalu ekspresif. Terus?"


"Nikah sama aku."


"Kalau kamu masih dekat sama Meysa aku gak mau nikah, kalau sama Cece boleh dekat tapi kalau bisa jangan pergi sama Emaknya. Toh kamu juga bisa bikin anak sendiri." Nadya mulai menunjukkan sifat posesifnya.


Alan tergelak hingga memegang perutnya. Sambil menghentikan tawanya, ia menatap wajah Nadya lekay. "Yuk."


"Kemana?"


"Bikin Anak."

__ADS_1


"Mas Alan." Protes Nadya dengan melototkan mata bulatnya.


__ADS_2