SULUNG

SULUNG
KANGEN


__ADS_3

Nadya segera menyembunyikan ekspresi ketakutan akan ketahuan Alan sebagai pengirim bunga itu, terlebih otak cerdas Imel mengendus inisial si pengirim.


"Mana ada MA, Pak Alan, Mel..Mel." Ersa mengamati dokumen dengan cemat cemit protes pada prediksi Imel. Nadya cekikikan membiarkan keduanya adu mulut. Yang satu kelewat bener, yang satu kelewat tak mau mikir lebih dalam.


"Mbak, emang Pak Alan udah gak tertarik sama Mbak?"


"Tahulah, Mel. Emang aku siapa tanya-tanya ke bos. Pak Alan, Pak Alan masih naksir gak sama saya?" Nadya mencoba menirukan apa yang dipikirkan Imel.


"Ih ya gak gitu kali." Imel frustasi.


"Lagian, Pak Alan kurang alim kali, makanya Nadya gak suka." Cindy berkomentar seolah Alan dan Nadya tak patut bersatu.


"Ah tetap aja aku feeling, Mbak Nadya sama Pak Alan main di bawah meja."


"Ati-ati kepentok." Seloroh Erick yang mengikuti obrolan anak buahnya di tengah-tengah keseriusan membaca angka dengan candaan jayus.


Ting


Suasana hening di ruang keuangan terpecahkan karena ponsel Nadya, ada pesan masuk, ia hanya melirik sekilas, nama Alan tertera, namun ia tak mau menimbulkan kecurigaan lebih dalam dengan Imel atau yang lain sehingga lebih baik mengabaikannya. Nadya masih terus fokus pada laporan dan Excel.


Tiba saat anak ruangannya pamit sholat dan istirahat barulah Nadya membuka ponselnya.


/Bunganya sudah diterima?/


/Kangen kamu 😘😘😘/


Nadya mesam mesem membaca dua pesan Alan. Bahagia karena diperhatikan. Ia semakin yakin saja, kalau Alan menagih jawaban masalah hati, ia akan menerimanya.


/Udah, makasih/


/Harus jawab apa ini?😂😂😂😂😜😜😜/


Nadya terkekeh tatkala membalas pesan Alan, ia pun segera beranjak untuk istirahat, Alan pasti tak membalasnya, dia menyempatkan mengirim pesan hanya memiliki waktu singkat, selebihnya pasti fokus pada proyeknya. Kadang Nadya juga belum siap kalau mendampingi hidup Alan dengan ritme kerja seperti ini. Ia ingin seperti keluarganya yang selepas Maghrib sudah bisa berkumpul dengan anggota keluarga lain.


Ting


/Balas kangen juga dong/


Baru saja Nadya akan menyantap makan siangnya, pesan masuk Alan mengalihkan fokusnya.


"Makan, Nad!" tegur Mini yang siang itu mengajaknya mencoba menu baru di cafe seberang kantor.


"Iya!" meskipun bibir mengucap iya, apalah daya tangan tetap membuka pesan itu, senyum tersungging. Nadya merasa dirinya seperti orang gila saja, hanya membaca pesan bisa senyam-senyum. Maklumlah pengalaman pertama dia dekat dengan laki-laki.


/Lagi apa?/


Eh ...Alan kok bisa leluasa berbalas pesan, tak seperti biasanya. Pesan terkirim jam berapa dibalas jam berapa.


/Makan siang, tumben bisa chat?/


/Kenapa? menunggu chat dari aku ya?/

__ADS_1


/Enggak, heran aja, biasanya baru bisa balas chat malam/


/Otw pulang, mau ke bandara/


/O.... hati-hati/


/Nanti malam aku jemput ya/


/Untuk/


/Kencan lah/


/Emang nyampe jam berapa/


/Paling sejam udah nyampe Jakarta/


/Bukannya kalau ke bandara harus lewat hutan, sungai naik Speedboat dulu ya/


Berdasarkan cerita teman Nadya yang suaminya kerja di tambang batubara, untuk pulang setidaknya memakan waktu dua hari menuju bandara.


Tak tahu saja Nadya, Alan yang membaca pesan itu terkekeh, ya kali Alan berada di lokasi tambang, Alan berada di kota yang hanya memakan waktu sejam untuk sampai ke bandara.


"Kenapa sih lihat hp cekikikan sendiri?" tanya Rilo curiga, sahabat sekaligus atasannya ini jarang sekali tertawa, terlebih berkaitan dengan ponselnya.


"Kepo."


"Dih ..Pak Bos, sewot. Oh ya, gue penasaran, Lo tumben beli oleh-oleh sebanyak itu, buat siapa?"


"Buat calon gue lah!"


Alan menggeleng.


"Trus?"


"Udah gak usah kepo, anak kecil belum waktunya tahu."


"Halah palingan Nadya!" Rilo mencibir ke arah Alan yang masih khusyuk berbalas pesan dengan Nadya.


"Gak usah aneh-aneh, dia nolak gue, bukan dia."


"Ck....Lo kalau mau kibulin buaya perlu strategi tingkat tinggi, Lan!"


Alan hanya diam, berkelit dengan Rilo dia tidak akan bisa, Rilo terlalu mengenalnya, terlebih masalah percintaan. Sejak bertemu dengan Nadya, Alan hanya fokus ke gadis itu. Diakui Rilo memang Nadya berbeda dengan karyawan lain yang cuek bebek akan Alan, terkesan tidak tertarik. Begitupun saat menjadi sekertaris sementara, Rilo mengakui Nadya sangat profesional, dan tidak menanggapi ketertarikan Alan.


"Gak usah ember!" cegah Alan masih dengan wajah datarnya.


"Jadi bener?"


Alan hanya mengangguk, tapi Rilo langsung menepuk pundak Alan, seolah bangga sekali sahabatnya mau membuka hati untuk perempuan selain Amanda.


"Oke...gue bakal bantu."

__ADS_1


"Bantu apaan!" Alan khawatir, Rilo akan meledek keduanya, pasalnya asisten pribadinya itu selalu selengekan.


"Tenang aja, bos. Terima jadi dah."


"Gak usah aneh-aneh Lo yah, gue bisa dekat dengan Nadya, dia udah mau balas wa dan telpon gue aja gue udah lega, gak usah merusak acara gue!"


"Dih ...dih .. justru dengan gue sebagai pelicin, hubungan Lo bakal mulus kayak jalan tol."


Alan hanya mencebikkan bibirnya, ia sudah mewanti-wanti Rilo agar merahasiakan kedekatan Nadya dan dirinya. Biarlah hubungan ini berjalan cukup lelet dan terasa menggantung, yang penting komunikasi masih jalan terus.


Tepat pukul 8 malam, Nadya dijemput Alan. Seperti biasa Naila yang menyambut Alan terlebih dulu, karena sang kakak masih rempong dengan segala persiapannya.


"Tunggu sebentar ya Pak Alan, mbak Nadya masih dandan."


Berbeda dengan Nadya, sosok Naila lebih banyak omong dan sepertinya gampang bergaul. Hanya saja, Alan, cowok pemilih yang bisa mangap hanya untuk orang tertentu saja, bahkan Naila pun hanya dijawab iya.


"Malam, Mas" Sapa Nadya membuyarkan fokus Alan pada layar ponsel. Laki-laki itu langsung mendongak, menatap lekat gadis yang baru saja duduk di sofa, berhadapan dengannya.


"Malam, sayang." Celotehnya seperti biasa, dan membuat Nadya menyunggingkan senyum, malu-malu tapi mau. "Oleh-oleh buat kamu sayang." Lanjut Alan dengan menyodorkan paperbag berisi kue dan aneka camilan.


"Dih... sayang-sayang terus merinding nih." Cicit Nadya dengan membuka paperbag tersebut, "Makasih, banyak banget!"


"Biasa, pencitraan buat calon mertua. Mana ibu?" tanya Alan kemudian, kata Rilo kalau mau mengambil hati anaknya harus ambil hati orang tuanya dulu, biar restu mudah dan awet didapat. Hufh...bisa aja babang Rilo playboy itu.


"Di rumah Pak RT, katanya besok ada demo masak gitu dari sales panci serbaguna."


Alan terkekeh, "Kamu juga gitu kali nanti kalau jadi ibu rumah tangga."


"Dih..ogah, kena bujuk rayuan para sales."


"Jangan gitu sayang, perusahaan bisa maju juga berkat kerja para sales."


"Iya ndoro!" Nadya pura-pura bersedekap di depan Alan. "Mau minum apa?"


"Apa aja deh, aku ke sini gak numpang minum kali, Yang."


"Masa', terus ngapain ke sini, toh oleh-oleh udah diterima dengan selamat." Ledek Nadya.


"Mau numpang cuci mata, melepas kangen."


"Dih...gombal." Nadya beranjak akan membuatkan minuman untuk Alan, ia sendiri sedang mengontrol degupan jantung karena gombalan receh Alan barusan. Tak menyangka bos tanpa ekspresi itu bisa gombal juga. Huf...Nadya lupa kalau setiap laki-laki pasti ada sisi buaya, termasuk Alan.


Alan terkekeh melihat semu merona di pipi Nadya, ia membiarkan saja Nadya ke dapur.


"Rilo tahu tentang kita." Ucap Alan setelah Nadya meletakkan nampan yang berisi minuman untuk Alan.


Sontak Nadya mendelik, "Lah...bahaya dong!"


"Makanya ayo, aku halalin aja."


"Boleh." Cicit Nadya yang membuat Alan kaget setengah mati.

__ADS_1


"Kapan?" beuh dikasih lampu hijau langsung deh Alan tancap gas. "Besok ya?"


"HAH??????"


__ADS_2