SULUNG

SULUNG
GAME-1


__ADS_3

Percayalah, sekeras apapun Nadya menghindar nyatanya Alan tetap selalu didekatnya. Sepertinya Alan benar-benar ingin mempertahankan perasaan cintanya, pantang mundur sebelum janur kuning melengkung.


Pagi ini, acara gathering diawali dengan senam bersama. Instruktur senam pun disediakan oleh EO, semua peserta gathering pun dengan semangat melakukan senam. Tubuh mereka seakan dipaksa untuk meregangkan otot-otot agar lebih rileks, tidak tegang karena terlalu lama duduk di depan komputer.


Alunan dangdut koplo ataupun lagu band yang hits mengiringi setiap gerakan senam dari mulai pemanasan hingga pendinginan. Hampir satu jam senam, peluh para karyawan muncul dengan derasnya, terutama karyawan yang memiliki lingkar perut offside, he..he..


baru pemanasan saja kaos olahraga yang dikenakan sudah basah.


"Ini air!" ucap Alan yang tiba-tiba duduk di samping Nadya memberi sebotol air mineral, kebetulan setelah olahraga selesai, Nadya cs memilih duduk lesehan di rumput dengan selonjoran kaki.


Nadya mendongak, tak lama kemudian melengos sebal. Alan lagi, batinnya.


"Nadya gak mau tuh Pak, buat saya saja boleh?" Mini berinisiatif mengambil sebotol air mineral itu, dan Alan pun memberikan dengan suka rela pada Mini. Suasana lagi ramai, ia juga harus tetap jaga image ketika Nadya tak kunjung menerima botol tersebut.


Cindy, Imel, Ersa, Erfina dan Mutia hanya melongo, segampang itu merebut perhatian bos ganteng, duh...rizeki nomplok dong si Mini. Tahu gitu, gak usah malu-malu juga di depan Alan.


Alan pun meneguk air mineralnya, melirik sebentar ke arah samping, wanitanya lagi sibuk ngobrol dengan Sifa, karyawan dari kantor cabang. Memang Nadya yang supel gampang sekali dekat dengan seseorang.


"Pak Alan betah banget dicuekin, Nadya." celetuk Cindy yang masih terdengar oleh Alan. Bos ganteng itu hanya tersenyum saja.


"Gak capek menghindar dari aku, Yang?" tanya Alan beberapa menit kemudian, ia melihat Nadya yang sibuk membaca komentar di IG, ketahuan banget kalau lagi menghindari percakapan dengan Alan..


"Pak Alan ngomong sama saya?" Nadya pura-pura berlagak pilon, tak mau ge-er juga kalau dipanggil Yang.


"Ya elah, Nad. Masih tanya lagi." Gerutu Mini, kesal juga karena Nadya terus mengabaikan keberadaan Alan. Gak sopan.


"Saya gak menghindari Pak Alan kok, kalau menghindar saya pasti udah kabut dari sini." Ucap Nadya cuek, tapi Alan hanya tersenyum lalu mengelus puncak kepala Nadya. Sontak saja membuat beberapa cewek di sekitar mereka melongo akan perlakuan manis Alan.


"Ih apaan sih, pegang-pegang." Protes Nadya sambil menepis tangan Alan, bahkan memukulnya.

__ADS_1


"Nadya!" tegur Ersa dan kawan-kawan kompak.


"Pak Alan tuh marahin, pegang-pegang anak orang sembarangan." Ucap Nadya yang langsung beranjak berdiri, berniat segera mandi saja.


"Eh mau ke mana?" tanya Alan yang mencekal lengan kaos Nadya.


"Mandi. Mau ikut?" Tantang Nadya dengan juteknya, dan seketika Alan tertawa tapi tak melepas cekalannya. Tak lama kemudian, malah Alan segera merangkul pundak Nadya, menggiringnya masuk villa.


Nadya spontan saja memberontak, ia terus berusaha menjauhkan tubuhnya dari rangkulan Alan.


"Lepas kenapa sih!"


"Diam dulu, baru aku lepasin, kalau gak aku terima tawaran kamu." Ucap Alan dengan seringai jahilnya.


"Ogah!" cetus Nadya yang spontan berhenti dan diam saja. Ia melirik ke arah Ersa cs masih duduk, tatapan mereka bahkan karyawan lain ingin sekali bertukar posisi dengan Nadya. Kalau saja salah satu dari mereka terpilih tentu membalas pelukan Alan, yah meskipun dilarang karena belum muhrim sih.


"Dengerin aku sayang, sampai kapan aku cinta sama kamu, aku gak bakal ngelepas kamu, jadi kita jalani saja hubungan ini seperti biasa, sampai kita mendapatkan jawaban akan jodoh kita."


Benar ucapan Erick, saat game berpasangan, Alan langsung menginterupsi Agung, sebagai pembawa acara game pertama. Alan yang diminta ikut game ternyata memilih Nadya sebagai partnernya.


"Ya meskipun bos ikut dalam game ini, kalian jangan mau mengalah, khusus hari ini bos juga manusia yang bisa dikalahkan oleh anak buah, oke!" Ucap Agung dengan semangat, meskipun dalam hatinya ia juga takut akan ucapannya. Namun, ketika Alan tersenyum, Agung tak takut lagi, mungkin saat gathering ini bos akan membaur dengan karyawannya, karena itu memang tujuan dari acara gathering ini.


"Ayo ..kalahkan Pak Alan, kalau berhasil mengalahkan Pak Alan, kalian bisa meminta foto berdua dengan Pak Alan, iya kan Pak?" tanya Agung dengan luwesnya membuat suasana game pagi menjelang siang itu penuh dengan gelak tawa. Kapan lagi bisa menggoda atau mengerjai bos gantengnya coba. Kesempatan ini tak akan diabaikan begitu saja oleh tim acara.


Game pertama adalah memasang bulu mata pada partnernya, tujuan game ini adalah agar karyawan tersebut memakai startegi untuk memecahkan setiap tantangan dalam waktu yang singkat dan tepat.


Peserta game yang laki-laki yang akan dipasangkan bulu matanya. Nadya mendengus kesal karena tadinya ia tak mau ikut, tapi apa daya si bos rese' ini mengajaknya.


"Gak usah cemberut gitu, udah segera pasang bulu matanya, nanti kita kalah loh." Protes Alan yang masih menikmati wajah kesal Nadya.

__ADS_1


Dalam waktu tiga menit, bulu mata harus terpasang. Kontur mata pria dan wanita jelas berbeda, apalagi memasang bulu mata Nadya tidak pernah. Alhasil ia kagok sekali, belum lagi tak pandai dalam pemasangan bulu mata. Ia juga sedang menahan debaran jantung karena berhadapan dengan Alan dan jarak mereka sangat dekat. Belum pernah ia sedekat ini dengan Alan.


Sial.


"Ayo, Nad. Yang dipasang bulu matanya ya, bukan hati loh ya!" Goda Agung dengan seringai jahilnya. Sedangkan yang lain hanya tertawa mendengar celetukan Agung.


"Jangan-jangan kamu pura-pura gak bisa biar lama berdekatan sama aku ya. Aw....!" Alan meringis karena Nadya menekan bulu matanya terlalu keras. "Sakit sayang."


"Wah...wah....Nadya KDRT sama Pak Alan nih." Entahlah celometan Agung hanya berkutat pada Alan-Nadya, padahal ada beberapa pasangan yang sudah berhasil memasang bulu mata kurang dari satu menit malah, dan itu dianggap Agung moment biasa. Rese' emang MCnya.


"Beres. Gak usah cerewet." Ucap Nadya ketus.


"Coba Pak Alan kedip, jatuh gak bulu matanya?" Agung semakin gencar menggoda Alan-Nadya, ia tahu betul kalau Nadya gak suka hubungan dengan Alan diperhatikan banyak orang, tapi namanya MC harus bisa cari bahan untuk celometan dong, dan kedekatan mereka justru menjadi topik ciamik dalam permainan pasang bulu mata ini.


"Yah jatuh tuh, Nad. Kalah dah Pak Alan dan Nadya. Omel Diva, salah satu penggemar Alan juga. Ia sangat memperhatikan bulu mata Alan yang memang sudah lentik, jadi ditambah bulu mata palsu justru tampak berlebihan, apalagi perekatnya kurang pas, gak oke banget jadinya.


"Gak ikhlas soalnya yang masang." Celetuk Nadya yang disambut dengan gelak tawa lain, bahkan Alan pun tak segan tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Nadya yang ceplas-ceplos itu.


"Yang kalah dihukum apa nih?" lagi-lagi Agung memprovokasi.


"Traktir oleh-oleh kloter pasang bulu mata gimana?" Sahut Mita, duh... karyawan gak ada akhlak memang. Memanfaatkan kekalahan si bos dengan mencari gratisan. Dasar.


"Eh...enak aja, gak ada, gak ada, gak ada kayak gitu ya, tadi gak ada perjanjian kaya gitu kok." Protes Nadya, tak terima juga lah kalau uang Alan dibuat traktir cewek-cewek penggemarnya.


"Gimana Pak Alan?" Agung beraksi lagi.


"Apa kata nyonya." Sahut Alan sambil melirik Nadya, namun si gadis cantik itu hanya berdecih dengan panggilan Nyonya.


"Bu Bos jangan pelit atuh, uang bos ganteng meluber loh!" teriak Vika, pacar si Rilo yang turut menjadi provokasi.

__ADS_1


"Oke, traktir cilok aja."


"Yaaaaaaa."


__ADS_2