SULUNG

SULUNG
SEMAKIN DEKAT


__ADS_3

/Nad, tolong ke ruangan saya/


Begitu pesan Alan yang dikirim pada Nadya tepat setelah Nadya kembali dari istirahat dan makan siangnya. Gadis itu memanyunkan bibirnya, malas sekali harus bertemu dengan Alan, apalagi beberapa jam yang lalu, ia sempat dibentak dan dicaci.


"Pak, kenapa saya disuruh ke ruangan Pak Alan?" tanya Nadya pada Erick yang harus aja kembali ke bilik.


"Kok tanya saya, mungkin mau minta maaf."


"Kenapa?" bukan Nadya yang tanya, tapi si Ersa yang kepo akan kejadian meeting tadi. Karena dilihatnya Nadya cukup diam dan tidak secerewet biasanya. Bahkan saat di kantin tadi, ia di dekati Denis juga tak banyak berkomentar.


"Udah cepetan sana!" titah Erick.


Nadya pun masih cemberut, mengabaikan ocehan Ersa yang masih penasaran dengan kejadian saat meeting tadi. Dengan gontai dan berkali-kali menghirup nafas dalam Nadya melangkah menuju ruangan Alan. Erfina menyambutnya dengan senyuman merekah, "Udah ditunggu!"


"Kenapa sih Mbak?"


Erfina hanya mengedikkan bahu, lalu kembali menatap layar komputer di mejanya. Sekali lagi Nadya menghirup oksigen sebanyak mungkin sebelum mengetuk pintu.


Tok..tok..tok...


"Masuk!" titah Alan dari dalam ruangan.


"Siang, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Nadya dengan wajah datar tapi tetap hormat.


"Duduk, Nad!" ucap Alan masih tak melihat Nadya, tangannya masih memegang pena yang baru saja digunakan untuk membubuhi tanda tangan.


"Nad!" panggil Alan kemudian menatap Nadya lekat, Nadya pun kembali duduk dan menatap Alan.


"Iya, Pak."


"Saya minta maaf ya, tadi udah bentak dan mengumpat kamu di ruang meeting tadi." Alan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, menatap wajah lekat Nadya yang tampak sedikit tegang.


"Oh iya, Pak. Sama-sama saya juga minta maaf, karena teledor juga." Jawab Nadya dengan sedikit terbata, ia tidak menyangka saja dipanggil bos dan bosnya meminta maaf kepadanya. Masih sadar dirilah, statusnya apa, toh dirinya juga yang salah juga, hampir merugikan perusahaan.


Alan mengangguk saja, terlihat sekali beban pekerjaan dan tanggung jawab yang dia emban.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Pamit Nadya kemudian, canggung juga karena atmosfer ruangan Alan masih terasa tegang.


Lagi-lagi Alan mengangguk, namun baru saja Nadya menarik handle pintu, suara Alan menghentikannya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, saya mohon ya Nad, balas pesan dan telepon saya."


Sontak Nadya menoleh, sedikit terkejut juga karena Alan sudah berdiri dan hanya beberapa langkah saja di dekat Nadya.


"Insyaallah, Pak." Jawab Nadya diiringi senyum tipis dan Alan pun ikut tersenyum sekaligus mengangguk. Nadya sempat tertegun.


Eh... tersenyum, manis juga ternyata, begitu batin Nadya lalu mengangguk pelan dan pamit keluar ruangan.


Sejak saat itu, Nadya dan Alan diam-diam saling bertukar pesan. Memang Nadya masih menggantung kedekatan mereka, namun Alan tak mempermasalahkan itu, biarlah hubungan mereka mengalir begitu saja. Tunggu tanggal mainnya saja, Alan mempersunting Nadya.


"Malam, Nad. Lagi apa?" tanya Alan malam itu, dia baru saja masuk hotel setelah seharian berkutat dengan proyek di Kalimantan. Ya sudah hampir seminggu Alan berada di Kalimantan, dia sedang memperlebar usahanya di bidang pertambangan, ditemani Rilo juga.


"Mau tidur, Mas." Jawab Nadya sembari membungkus tubuhnya dengan selimut, cuaca saat ini cukup dingin, hujan sejak tadi pagi tak berhenti juga.


Mas? Yah Nadya sudah mengganti panggilan Pak menjadi mas atas permintaan Alan, memang Alan memintanya karena alasan yang cukup meyakinkan. Alan bilang dirinya serius menjalin kedekatan dengan Nadya, tinggal Nadya bilang ya, maka Alan akan melamarnya. Namun sampai saat ini, Nadya masih belum memberikan keputusan, Alan menghormatinya. Nadya dengan jujur sudah mengatakan kalau hatinya masih belum siap untuk menikah, dan kalaupun Alan bertemu dengan perempuan lain, Nadya tak keberatan untuk menjauh..


"Temani saya ngobrol bentar ya!" pinta Alan, ingin sekali bervideo call, tapi Nadya pasti menolak.


"Mau video call?' tawar Nadya tiba-tiba, di luar dugaan Alan. Karena gadis itu kalau mau tidur tidak mau video call lantaran harus menggunakan hijab terlebih dulu.


"Mau!" Alan begitu manja menjawabnya. Otak bisnisnya pun tak akan melepaskan kesempatan langkah itu. "Biar aku yang video call, kamu pakai hijab aja dulu." Begitulah Alan sangat menghormati Nadya. Gadis Sholeha yang akan ia jaga untuk masa depannya kelak.


"Banget, Sayang!" ucapnya manja diringi tawa jahil.


"Gak usah mulai deh!" cegah Nadya sambil tertawa. Yakin deh, setiap perempuan kalau didekati laki-laki, diperlukan manis, dan diperhatikan lebih, dalam hati akan berbunga-bunga meski bibir selalu terucap tak suka.


"Kenapa sih masih malu, orang hampir tiap hari dipanggil sayang juga."


"Belum muhrim kali."


"Ya udah, yuk aku halalin kamu!"


"Emang udah siap jadi suami?"


"Siap lahir batin sayang!"


"Yakin gak lirik-lirik cewek lain?"


Alan cuma mengangguk, mungkin suara Nadya sebagai obat pengantar tidur Alan, baru saja video call, mata Alan kian sayu. Nadya tahu, Alan cukup lelah. Lelah pikiran dan juga badan. Semakin tinggi jabatan seseorang, beban pekerjaan dan tanggung jawab tentu lebih besar pula.

__ADS_1


"Selamat malam mas Alan." Ucap Nadya ketika melihat Alan sudah memejamkan mata sekaligus terdengar dengkuran halus. Tak lama ia mutus sambungan video call, dan beranjak tidur.


Diakui Nadya, ia mulai nyaman dengan Alan. Sikap dan tutur katanya sangat baik, dan sangat menghargai perempuan. Di kantor pun dia sudah bisa mengendalikan diri, tak sefrontal di awal ia tertarik dengan Nadya. Bisa dibilang sekarang main halus, dekat dengan Nadya tanpa siapapun yang tahu, termasuk Rilo.


Bahkan para penggemar Alan juga sudah mulai mereda, tidak ketus pada Nadya, karena kedekatan Nadya dan Alan hanya gosip belaka.


"Mbak Nadya, ini kiriman bunga!" ucap salah satu OB, yang bernama Arsyad, menyodorkan sebuket bunga mawar yang masih fresh.


"Dari siapa, Mas Arsyad?" tanya Nadya yang baru saja bubar setelah berdiskusi dengan Erick dan Imel.


"Penggemar rahasia itu mah!" balas Erick ikut clamitan.


"Gak tahu, Mbak Nad. Saya tadi dipanggil Mbak Eyin disuruh antar bunga ini."


"Oke terimakasih, Mas. Eh ini cokelat buat Mas, udah mau anterin bunganya." Nadya menyodorkan sebungkus cokelat yang ada di laci untuk Arsyad, tampaknya OB itu malu-malu untuk mengambilnya.


"Makasih, Mbak Nad."


"Sama-sama."


Setelah kepergian Arsyad, anak keuangan heboh bahkan Erick turut serta mengamati bunga itu. Kelakuan seorang manajer yang absurd. Demi bunga mawar mengesampingkan dokumen kantor, hadeh.


/Selamat bekerja~MA/


Begitu isi memo yang terselip di dalam buket bunga itu yang sialnya dibaca Imel. Sialan. Main baca aja, dalam hati Nadya khawatir mereka akan menebak inisial panggilan untuk Mas Alan.


"Sejak kapan kamu punya penggemar?" Erick mulai mengintrogasi, karena ia tahu Alan naksir berat dengan Nadya, ia tak mau sahabatnya itu sakit hati lagi karena perempuan yang ia cintai memilih laki-laki lain.


Nadya mengedikkan bahu, ia tak merasa punya penggemar, Nadya tahu siapa yang mengirimkan bunga itu, pasti tak lama lagi Alan akan mengirim pesan, ah sebelum ketahuan yang lain, buru-buru Nadya mengusir rekan kerjanya untuk kembali bekerja.


"Dah ah, bunga aja kenapa dikerubuti gini sih, ayo kerja!" Nadya berlagak bos, bahkan Erick pun segera menuju meja kerjanya lagi.


"Kasihannya si pengirim bunga, dicuekiiin!" sindir Ersa dengan mencebikkan bibirnya, jadi semakin terlihat Bimoli...bibir monyong lima senti, hehehheeh.


"MA? MA!" Imel berusaj menebak siapa pengirim bunga itu.


"Udah deh, Mel. Kerja kenapa sih, nanti juga tahu siapa pengirimnya."


"Pak Alan gak sih?" tebak Imel dengan menatap Nadya curiga.

__ADS_1


Mati gueeeee


__ADS_2