SULUNG

SULUNG
MAMPUS


__ADS_3

Hujan deras berlangsung hingga jam sebelas malam. Alan dan Nadya masih terjebak di cafe bersama pengunjung lain. Nadya sesekali menguap, ia sudah sangat mengantuk. Beberapa kali ia merengek untuk balik ke Villa, namun Alan menolaknya. Hujan deras, jalab licin, jarak pandang terbatas tentu sangat berbahaya bila memaksa berkendara.


"Terus sampai kapan kita di sini, Mas?" sekali lagi Nadya merengek, ia tak mau semalaman bersama pria ini. Khawatir terjadi apa-apa dan dalam keadaan berdua yang bukan muhrim. Misalnya saja kecelekaan, ah membayangkannya saja ia takut. Jangan sampai itu terjadi.


"Nunggu reda sayang, atau menginap di villa dekat sini saja?" tawar Alan untuk kesekian kalinya, namun Nadya masih menggeleng. Ternyata gadis kecintaannya ini keras kepala juga.


Tak lama kemudian, panggilan video dari Vika muncul, mungkin pacar Rilo itu khawatir akan keberadaan Nadya, teman sekamarnya.


"Lu dimana, Nad?" tanya Vika dengan nada khawatir.


'Di cafe x, Mbak. Sama mas Alan. Terjebak hujan, gak tahu ampe kapan. Ngantuk banget lagi." Keluhnya sambil cemberut.


"Nginep di villa sekitar situ aja, daripada balik jam segini, hujannya awet loh." Vika memberikan solusi yang tidak solutif, karena Nadya enggan tidur sendiri di tempat asing.


"Nadya tuh penakut, Mbak. Mana berani dia tidur sendiri." Sahut Ersa yang hanya yerdengar suaranya saja tanpa ada wajah nongol.


"Ya udah sekamar sama Pak Alan aja." Enteng sekali Vika memberi ide. Padahal ia hanya bercanda, sedangkan percakapan mereka terdengar oleh Alan. Bos ganteng itu hanya tersenyum tipis saja.


"Sembarangan, terus satu kantor bully aku udah kasih tubuh gretongan ke Alan gitu. Dih...ogah."


"Eh, Nad. Niken mulutnya emang minta ditampol emang." Kini Ersa ikutan nimbrung di ponsel Vika, sepertinya bervideo call dengan mereka sambil menunggu hujan reda ide yang cukup baik.

__ADS_1


"Ditampol?kenapa?" tanya Nadya dengan mengerutkan dahi, apalagi berita yang disebar oleh biang gosip itu.


"Dia udah sebar berita tentang lo yang nyerahin tubuh lo ke Pak Alan, terus kejadian lo gak pulang ini jadi topik gosip hot di grup mereka." Terang Ersa dengan semangat menggebu-gebu.


"Udah gak usah didengerin si Niken, mereka gak tahu aja aku yang nyodorin hati dan tubuhku buat kamu." Alan menjawab ocehan Ersa, agar Nadya tak insecure akan kedekatan mereka. Bahkan Alan menenangkannya dengan usapan kepala pada Nadya, membuat gadis cantik itu salah tingkah.


"Pak Alan so sweet banget si, Nad. Buat gue aja napa, gue urus deh kebutuhan lahir batin jasmani dan rohaninya!" celoteh Ersa disambut tawa oleh Nadya dan Alan.


"Tapi sayang, saya yang nolak kamu!" sahut Alan dengan cengir khasnya, wajah gantengnya kini ikut nimbrung diobrolan unfaedah para ladies.


"Ya Allah, gantengnya....!" teriak Ersa sambil berlalu dengan malu-malu karena bertatapan langsung dengan bos tanpa masalah pekerjaan.


Panggilan video pun berakhir, Nadya meminta nanti kalau ia sampai di villa dibukakan kamar. Alhamdullillah, tepat pukul setengah 12 lewat, hujan benar-benar berhenti. Nadya yang meletakkan kepalanya di atas meja dibuat terjaga oleh usapan sayang Alan.


"Balik ke villa." Titah Nadya yang tak dibantah sekalipun oleh Alan, bos ganteng itu mengendari mobil cukup pelan, Nadya tak masalah. Toh keadaan setelah hujan memang cukup membahayakan apalagi di malam hari.


Hanya butuh waktu 15 menit saja, mobil Alan sudah memasuki pavilliun penginapannya. Ternyata para pria banyak yang begadang, sebatas main kartu atau main gitar.


"Ayo aku antar ke Villa, kamu sudah bilang kamu sudah sampai pada mereka?" tanya Alan yang berjalan beriringan dengan Nadya menuju villa.


"Sudah." Jawab Nadya singkat, ia benar-benar mengantuk, bahkan sapaan beberapa rekan kerjanya yang lagi begadang tak dibalasnya.

__ADS_1


Baru saja mereka berdua masuk, Alan langsung menarik lengan Nadya dan menariknya ke sisi dinding dekat mini bar dan tangga menuju kamar Nadya.


Nadya hendak protes, tapi Alan segera membungkamnya. Ia membalik tubuh ramping Nadya menghadap mini bar. Sontak saja Nadya membelalakkan mata.


Seorang gadis duduk di meja mini bar dengan mengalungkan tanganya pada leher si pria, dan keduanya sedang berpagut mesra. Terlebih tangab si pria begitu aktif menjamah bagian dada si gadis, wajarlah sampai terdengar lenguhan yang tertangkap Alan.


"Kamu berani naik ke atas?" bisik Alan. Nadya meremang, pasalnya ia tidak pernah sedekat ini dengan Alan.


"Iya aku berani."


"Ya udah balik, sepuluh mebit aku Video call ke kamu."


Nadya hanya mengangguk saja lalu melangkah menuju tangga dengan pelan-pelan, membiarkan Alan yang sedang menatap kedua insan bercumbu mesra.


EHEM


Suara Alan berhasil membuyarkan tautan bibir mereka. Dan si cewek segera turun dan mengancingkan beberapa kancing kemejanya.


"Pak Alan!" ucap si pria sambil melotot, kaget.


"Rapikan baju kalian, saya tunggu di ruang tengah." Perintah Alan tegas.

__ADS_1


MAMPUSSS


__ADS_2