
Nadya dan Alan tiba di sebuah butik muslimah, kesan mewah terlihat ketika pintu masuk terbuka. Manekin- manekin memamerkan betapa glamornya gamis pesta yang pasti harganya selangit.
"Mas Alan, ehem....gak pernah kesini.... tahu-tahu bawa pacar!" Ucap salah satu pegawai di butik itu, dan anehnya kenal Alan juga. Emang siapa pemilik butik ini? Entahlah.
"Tante Irene ada, Mbak Sa?" tanya Alan. Seperti biasa Alan tidak akan berbasa basi akan pernyataan gak penting dari cewek yang terlihat jelas mencari perhatiannya. Ah ...kini Nadya sadar alasan bos gantengnya itu tertarik dengan dirinya, salah satunya karena Nadya ogah cari perhatian pada Alan sejak pertemuan pertama mereka.
"Ada, Mas. Di ruangannya, silahkan."
Alan hanya mengangguk saja, kemudian menarik pergelangan tangan Nadya, kaget dong. Ada skinship yang tidak wajar dari bosnya. Bahaya.
"Mari, Mbak!" Nadya mengalihkan keterkejutannya dengan membalas keramahan pegawai butik tersebut. Ia pun mengekori Alan yang sengaja menarik pergelangan tangannya, dan beruntung masih terlapisi lengan blazernya. Main tarik emang Nadya sapi.
"Eh...eh... ponakan ganteng Tante bawa siapa nih?" tanya wanita yang hanya menyampirkan pashmina di bahu kanan kirinya. Tampak cantik dengan riasan make up yang agak tebal.
"Tante, bisa pilihakan gaun yang simple aja buat ke reuni!" Alan tak menjawab pertanyaan basa basi sang tante, ia mengutarakan niatnya saja yang ingin membelikan gaun untuk Nadya.
"Kebiasaan nih anak, ditanya apa dijawab apa." Wanita yang dipanggil Tante oleh Alan berjalan mendekat ke Nadya, dan menyapa gadis itu ramah.
"Cantik banget sih kamu, Nak. Pantas saja ponakan Tante yang kayak es batu itu bisa kesemsem."
"Saya hanya sek-
"Ada kan Tante baju buat pacar aku?" tanya Alan sengaja memotong ucapan Nadya yang akan membongkar status mereka. Oh tidak bisa!
"Ck....ada! Kamu tunggu aja di sini, yuk Mbak!" gantian sekarang Nadya yang digiring menuju pilihan beberapa long dress yang cocok untuk dipakai Nadya di reuni Alan nanti malam.
"Pilih aja, Nad!" ucap Alan yang tidak mematuhi sang tante, ia lebih baik mengekor dengan Nadya memilih long dress.
"Ck...pocecip!" Tante Irene, mencibir sang ponakan. "Pacar kamu cukup cantik, Lan, mau pakai apapun juga megang banget auranya." Puji Irene dengan bangga pada Nadya, namun gadis itu hanya tertegun saja, semakin ada obrolan Alan semakin menunjukkan kejahilannya mengaku-aku pacar Nadya. Menyebalkan.
"Nanti pakai pashmina diubet dikit aja, gak usah yang diribet-ribetin, simple tapi elegan." Saran Irene saat Nadya mencoba long dress berwarna peach. "Emang mau berangkat jam berapa sih?" kali ini pertanyaan untuk Alan.
"Jam 7 Tante."
"Trus yang dandanin Nadya siapa?"
__ADS_1
"Harus dandan ya Tante?" Nadya enggan untuk berdandan, apalagi gaya Tante Alan ini juga tak jauh beda dengan Alan, high class. Bisa tekor dong Nadya nanti.
"Eh harus, kamu tahu, Nad..Sekolah Alan tuh sekolah internasional, banyak teman-temannya yang high class, jangan mau dibeliin barang yang receh, harus branded ya sayang."
Lah....si Tante malah ngompori Nadya berbuat matre, baru kali ini ada keluarga dari pihak laki-laki yang malah menganjurkan minta barang yang mewah, biasanya nih keluarga pihak laki-laki menyuruh agar si laki-laki tidak terlalu royal pada si perempuan, lah ini? kalau Nadya punya niat jahat, mungkin sejak pertemuan pertama langsung tancap gas morotin deh. Eh... Astaghfirullah.
"Gak usah Tante ajarin, Alan peka kali, Tan. Bungkus yang dipegang Nadya, Tan!"
"Eh....kok gitu, Pak."
"Kenapa?"
"Mahal!" bisik Nadya tepat di telinga Alan. Laki-laki itu hanya tersenyum garing, ia pun balas berbisik. "Buat calon istri apa si yang gak."
Deg
Nadya kembali mematung, entah ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi malu-malunya, pipinya pasti merona, sedangkan Tante Irene, hanya menabok lengan Alan. "Cih....bucin Lo sekarang. Mbak.....bungkus baju ini buat ponakan mantu saya." Panggil Irene pada salah satu anak buahnya.
Gadis yang tadi menyambut Alan rupanya, bahkan ia sampai mengerutkan dahi karena mendengar bosnya menyebut ponakan mantu. Jadi??? Alan sudah punya calon. Yah....patah hati dong.
"Kenapa, Nad?" tanya Alan yang menyadari sekertarisnya itu dilanda kebingungan karena baju.
"Sayang uangnya, Pak!"
Alan menaikkan alisnya, menoleh sebentar ke Nadya sebentar lalu fokus mengemudi lagi. "Uang 2 juta dibuat baju doang, Pak."
"Kan saya yang bayar, Nad."
"Tapi saya yang gak enak pak, potong gaji aja yah?"
Alan sontak tertawa ngakak, bisa-bisanya Nadya berpikiran Alan minta ganti. Ia pun memberanikan diri mengusap kepala Nadya yang tertutup hijab, "Anggap aja buat balas jasa kamu yang mau saya ajak ke reuni."
"Jadi saya pacar bohongan Pak Alan gitu, berapa lama sampai uang 2 juta lunas?"
Alan semakin ngakak saja, Nadya masih mempermasalahkan uang dua juta untuk jasanya, ya Allah Nad, polos sekali kamu. Uang 2 juta buat Alan ma uang receh.
__ADS_1
"Dibilang saya mau kamu jadi pasangan halal juga."
"Bercandanya gak lucu, Pak."
"Serius, Nad. Ya elah. Kalau kamu minta malam ini dilamar, saya langsung deh, toh kamunjuga udah siap bajunya. Apa sekalian bayar tunai."
Nadya hanya mengerjapkan matanya jengah, semakin ngaco saja Alan berkata. Bisa-bisa ibu Nadya langsung shock karena anaknya dilamar dadakan, pasti punya pikiran yang enggak ko-enggak hingga dilamar dadakan, yang benar sajalah Paaaakkkk.
Nadya semakin tak enak hati tatkala Alan mengajaknya ke salon khusus muslimah. Sumpah bingung, ke acara reuni aja harus sampai ke salon segala.
"Pakkkkkk!" rengek Nadya dengan wajah melasnya, merasa tak enak karena ditraktir Alam dengan budget fantastis.
"Udah kamu kalau mau jadi pacar saya harus totalitas."
"Siapa juga yang mau, Pak." Oceh Nadya yang sudah tak bisa melepaskan kekesalannya pada Alan yang main seenaknya menjadikannya pacar. Ya Allah.
"Make over calon makmum saya ya, Mbak." Ujar Alan memberi pesan pada pegawai salon tersebut, dan dijawab dengan sebuah anggukan.
"Saya bukan pacarnya, Mbak. Saya hanya sekertaris beliau." Jelas Nadya pada Mbak Indah, kalau dipikir ngapain dia klarifikasi juga ya sama Indah, gak ada gunanya. Hemmm otaknya mulai oleng karena mendadak jadi pacar Alan, bahkan dia bilang calon makmum juga. Yassalam. Rizeki apa musibah ya ini.
Tak butuh waktu lama, karena hanya make up natural flawless dan memakaikanpashmina agar tampil elegan, matching dengan baju yang sudah ia beli tadi.
Beruntungnya Nadya halangan, ia jadi tidak bingung untuk berwudhu, lega rasanya karena tidak harus merusak riasan wajah Nadya sebelum berwudhu.
"Masya Allah, cantiknya!" puji Alan spontan, kebetulan dia sejak tadi berkutat pada pekerjaan, tapi ketika akan menelpon Rilo, Nadya sudah berjalan ke arahnya. Sungguh makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Diakui Alan tidak sabar untuk menghalalkan Nadya.
"Pak Alan, jangan menatap saya begitu Napa?" protes Nadya sedikit kesal dengan tatapan si bos itu.
"Yuk!"
"Kemana?"
"KUA."
"Mau!" bukan Nadya yang menjawab tapi pegawai salon yang melting dengan sikap Alan sejak tadi, Salah target, Lanπ΅π΅π΅π΅π΅
__ADS_1